Mulai 2027, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) akan menerima calon mahasiswa baru (camaba) penyandang disabilitas. Camaba disabilitas bisa mendaftar lewat jalur Mandiri Prestasi atau Reguler.
Hal tersebut disampaikan Wakil Rektor III Bidang Sumber Daya Manusia, Organisasi, dan Teknologi Sistem Informasi ITS Imam Baihaqi ST MSc PhD dalam Inclusive Campus Implementation Academy: Seminar dan Workshop Kampus Inklusif, Akomodasi yang Layak dan Kesiapan Departemen Berbasis GEDSI dan Gender Action Plan di Auditorium Gedung Research Center ITS, Selasa (20/10), dilansir laman resmi ITS.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Departemen ITS yang Siap Terima Camaba Disabilitas
ITS mengungkapkan, terdapat sejumlah departemen yang siap menerima camaba disabilitas pada 2027, antara lain:
- Statistika
- Biologi
- Aktuaria
- Studi Pembangunan
- Manajemen Bisnis
- Teknik Sistem dan Industri
- Teknik Kelautan
- Teknik Informatika
- Teknik Informatika
- Perencanaan Wilayah dan Kota.
Bahas Percepatan Pemenuhan Fasilitas Inklusif
Atas kebijakan penerimaan camaba disabilitas terbaru, ITS tengah melakukan percepatan pemenuhan fasilitas yang bersifat inklusif.
Pada seminar dan workshop kampus inklusif di ITS, Tim Ahli Pusat Layanan Difabel Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Rofah SAg BSW MA PhD mengatakan ada emapt aspek yang perlu diperhatikan dalam membangun kampus inklusif, yaitu membangun pola pikir, tanggung jawab, penganggaran, dan layanan.
"Institusi perlu untuk membuat kebijakan yang mengikutsertakan dan mendukung mahasiswa disabilitas dari segi fasilitas hingga pengajaran," ucap Rofah.
Ia mengatakan, riset teknologi yang dilakukan ITS nantinya diharapkan dapat membantu percepatan pemenuhan teknologi bantu untuk mahasiswa disabilitas. Hal ini menurutnya mengingat teknologi pendukung perkuliahan mahasiswa disabilitas di Indonesia masih kurang.
"Contoh teknologi bantu seperti screen reader untuk mahasiswa tunarungu atau transfer file dengan spesifikasi bacaan khusus bagi mahasiswa disleksia," sambungnya.
Sementara itu, Founder & Chair of Advocacy for Disability Inclusion (AUDISI) Foundation Yustitia M Arief SH Adv mengatakan disabilitas bukan hanya soal kondisi seseorang, tetapi juga hambatan di lingkungannya, seperti stigma di masyarakat hingga tangga tanpa jalur landai.
Yustitia juga mengimbau agar istilah tuna ditinggalkan. Ganti penggunaannya dengan istilah yang lebih menghormati, seperti disabilitas netra dan tuli.































































