Menjelang pemilihan umum hari Selasa (27/10) , iklan-iklan partai menyambut orang-orang yang tiba dengan kereta api di pinggiran Kota Sderot, sebuah kota di bagian barat Israel.
Poster-poster kampanye dengan berbagai slogan mempromosikan partai sayap kanan Likud dan partai sayap kanan jauh Otzma Yehudit. Namun, ada satu poster yang terlihat lebih sering dibandingkan poster-poster lainnya: Poster partai liberal Yashar.
Slogannya, "Rosh Memshala Dialna," menggabungkan istilah "perdana menteri" dalam bahasa Ibrani dengan kata-kata yang berarti "milik kita sendiri" dalam bahasa Arab Maroko.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dan ada alasan kuat mengapa kampanye Gadi Eisenkot di Sderot dan kota-kota lain di wilayah pinggiran sosial-politik Israel berfokus pada akar keturunan Marokonya.
Latar belakang Mizrahi Eisenkot
Sderot—yang terletak di Gurun Negev, sekitar 75 kilometer (45 mil) di sebelah selatan Tel Aviv dan hanya berjarak satu kilometer dari perbatasan Gaza—merupakan kota dengan komunitas Yahudi Maroko yang besar. Dalam beberapa dekade terakhir, kota ini telah menjadi simbol budaya Yahudi Maroko di Israel, yang tercermin dalam musik, sinema, dan politik negara tersebut.
Secara historis, Sderot dianggap sebagai benteng kubu kanan Israel, khususnya sebagai basis kuat Likud pimpinan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Pada tahun 2022, Likud memperoleh lebih dari 40% suara di Sderot, dibandingkan dengan 23% suara secara nasional. Partai-partai lain yang tergabung dalam koalisi sayap kanan jauh Israel juga memperoleh banyak dukungan di kota tersebut dalam pemilihan umum terakhir.
Pola ini mencerminkan perpecahan historis yang lebih mendalam di Israel antara kelompok Ashkenazi, yakni orang Yahudi keturunan Eropa, dan kelompok Mizrahi, yakni orang Yahudi yang sebagian besar berasal dari kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara. Menurut perkiraan, separuh populasi Yahudi Israel merupakan keturunan Mizrahi, yang jumlahnya mencapai sekitar empat juta orang.
Orang Yahudi Mizrahi telah menghadapi diskriminasi dan pengabaian sejak masa-masa awal berdirinya negara Israel. Ketimpangan ini masih membentuk realitas ekonomi dan sosial di Israel—serta wacana politiknya.
Isu ini mendapat perhatian khusus dalam kampanye tahun 2026. Eisenkot, penantang utama Netanyahu, merupakan keturunan Maroko dan tumbuh besar di Eilat, sebuah kota dengan populasi Yahudi Afrika Utara yang besar. Partai Yashar pimpinan Eisenkot menuduh Likud mengesampingkan para politikusnya yang berasal dari kalangan Mizrahi. Slogan kampanye, "Netanyahu: Biarkan Orang Mizrahi Memberikan Wawancara," menyindir pengabaian tersebut.
Dalam siaran televisi langsung, jurnalis sayap kanan Yinon Magal—salah satu pendukung Netanyahu yang paling vokal—mengklaim bahwa Eisenkot dikendalikan oleh kalangan Ashkenazi elitis dan menyebutnya sebagai "monyet."
Netanyahu, yang berasal dari keturunan Eropa, mengecam pernyataan tersebut.
Daniel Ben-Simon, jurnalis Israel kelahiran Maroko yang telah meraih penghargaan dan pernah menjadi anggota parlemen, mengatakan kepada DW bahwa upaya Eisenkot untuk merangkul akar budayanya mungkin terpaksa ia lakukan akibat komentar Magal. Namun, upaya tersebut tetap memiliki nilai historis.
"Orang-orang tidak menggunakan istilah seperti 'Dialna' dengan bangga," kata Ben-Simon, merujuk pada penggunaan istilah Arab "milik kita sendiri" oleh Eisenkot dalam poster-poster kampanyenya. Ia mengatakan bahwa masyarakat Israel telah lama berusaha menghapus identitas Arab orang-orang Yahudi Afrika Utara.
Upaya Eisenkot untuk merangkul identitasnya merupakan cara untuk "keluar dari kerangka" yang ditetapkan oleh masyarakat. "Dengan menggunakan istilah seperti itu, Anda sedang menciptakan identitas baru: identitas Israel-Maroko," kata Ben-Simon. "Eisenkot adalah orang pertama yang memungkinkan identitas ganda ini diekspresikan, sekaligus tetap merasa menjadi bagian dari tempatnya sendiri."
Perpecahan historis di Israel
Setelah Israel berdiri, partai sosialis yang berkuasa, Mapai, yang sebagian besar dipimpin oleh kalangan Ashkenazi, menerapkan kebijakan diskriminatif terhadap kelompok Mizrahi. Orang-orang Mizrahi sering kali diharapkan untuk "menjadi seperti orang Eropa" alih-alih mempertahankan budaya, warisan, atau bahasa Arab mereka sendiri.
Ketimpangan ini juga terlihat dalam bentuk ketimpangan material. Pada dekade-dekade awal berdirinya negara tersebut, para imigran dari Eropa sering kali memperoleh perumahan dan pekerjaan yang lebih baik, sementara banyak orang Yahudi dari negara-negara berbahasa Arab dikirim ke Ma'abarot, yaitu kamp-kamp penampungan sementara, yang sering kali berada di daerah terpencil dengan infrastruktur yang minim.
Banyak dari kamp tersebut kemudian berkembang menjadi "kota-kota pembangunan" (development towns), yang tetap menerima pendanaan lebih sedikit dibandingkan wilayah-wilayah pusat Israel. Kondisi ini kemudian mengakibatkan kemiskinan. Sderot, yang terletak di wilayah selatan, merupakan salah satu kota pembangunan yang paling dikenal.
Bagi banyak orang Mizrahi, terbatasnya akses terhadap pekerjaan, pendidikan, dan infrastruktur melambangkan pengucilan yang telah berlangsung lama oleh kelompok elite Mapai. Likud, yang didirikan sebagai aliansi sayap kanan pada tahun 1973, memanfaatkan kekecewaan ini secara efektif di bawah kepemimpinan Menachem Begin.
Dukungan kelompok Mizrahi terhadap Begin membantu menghasilkan peristiwa yang dikenal sebagai Mahapach, atau pergolakan, ketika Likud untuk pertama kalinya mengalahkan kubu sosialis dan mengambil alih kekuasaan. Sejak saat itu, kelompok Mizrahi sering dikaitkan dengan Likud, meskipun partai tersebut tidak pernah memiliki pemimpin dari kalangan Mizrahi.
Perubahan demografi Sderot
Selama dua dekade terakhir, kedekatan Sderot dengan Gaza telah menjadikan kota tersebut sebagai sasaran serangan roket yang kerap dilancarkan oleh kelompok militan Hamas. Selama serangan teroris yang dipimpin Hamas pada 7 Oktober 2023, Kota Sderot mengalami dampak yang sangat parah. Lebih dari 50 orang tewas.
Dalam tiga tahun sejak serangan tersebut, populasi kota itu telah bertambah sekitar 5.000 orang, sehingga jumlah penduduknya mencapai 40.000 jiwa. Banyak keluarga muda menjadikan kota tersebut sebagai tempat tinggal, baik karena idealisme maupun karena adanya tunjangan dan insentif dari pemerintah.
Saat berjalan-jalan di sekitar kota, sulit untuk tidak menyadari bahwa komunitas yang disebut sebagai komunitas religius-nasional semakin mendominasi. Komunitas ini cenderung memilih partai sayap kanan jauh Religious Zionism pimpinan Bezalel Smotrich, yang merupakan salah satu anggota utama koalisi Netanyahu. Meskipun suara untuk Smotrich dan partainya pada praktiknya merupakan suara bagi blok politik Netanyahu, Partai Likud pimpinan perdana menteri itu sendiri berpotensi kehilangan dukungan di Sderot.
Terlepas dari hasil pemilihan umum, persepsi terhadap Sderot sebagai kota orang Yahudi Maroko tidak akan berubah dalam waktu dekat. Ben-Simon mengatakan bahwa terpilihnya Eisenkot dapat menjadi kesempatan untuk membentuk kembali identitas orang Yahudi Maroko di Israel pada masa mendatang.
"Hubungan kota-kota seperti Sderot dengan akar budaya Maroko mereka akan semakin kuat sebagai akibat dari kemenangan Eisenkot," pungkas Ben-Simon.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris
Diadaptasi oleh Ayu Purwaningsih
Editor: Yuniman Farid
Simak juga Video 'Netanyahu: Trump Bilang Akan Kerja Sama dengan Saya dan Hanya Saya':
(nvc/nvc)




















































