Indonesia berada di zona Anomali Ionisasi Ekuator atau Equatorial Ionization Anomaly (EIA). Kondisi ini ternyata berpengaruh terhadap akurasi Global Positioning System (GPS).
Dalam sains, istilah anomali merujuk pada kondisi yang menyimpang dari pola yang biasa diperkirakan. Letak Indonesia di zona anomali ini menyebabkan lapisan ionosfer menjadi sangat aktif dan dinamis.
Ketika cuaca antariksa terganggu atau badai tropis melanda, maka lapisan tersebut dapat menghamburkan sinyal satelit. Oleh sebab itu, akurasi GPS akan menurun hingga terjadi kesalahan posisi atau kehilangan sinyal.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Antariksa BRIN, Agri Faturahman menyebut kondisi ionosfer di Indonesia yang berada di zona anomali, tidak bisa diabaikan. Pemahaman akan hal ini bukan lagi kepentingan ilmiah, tetapi strategis.
"Pemahaman komprehensif dan mendalam mengenai dampak kondisi ionosfer terhadap Global Navigation Satellite System (GNSS) sangat esensial untuk memitigasi risiko gangguan operasional di lapangan," kata Agri dalam Pelatihan Dasar Space Situational Awareness, Rabu (21/10/2026), dikutip dari BRIN.
Situasi Anomali Indonesia
Biasanya wilayah ekuator dianggap mempunyai kepadatan elektron tertinggi karena paling paling banyak memperoleh sinar matahari. Akan tetapi, di ionosfer, hal tersebut justru terbalik.
Agri memaparkan, di garis ekuator magnetik, konsentrasi elektron justru menurun, kemudian menumpuk tinggi di dua sisi sekitar 15 derajat ke utara dan selatan.
"Fenomena ini terjadi karena mekanisme Air Mancur (Equatorial Fountain Effect). Medan listrik dan medan magnet Bumi mengangkat plasma dari ekuator ke atas, lalu gaya gravitasi menjatuhkannya kembali ke wilayah lintang utara dan selatan," kata Agri.
Sebagai analogi, kondisi tersebut bisa dibayangkan seperti air mancur di tengah kolam. Air menyembur ke atas di tengah, kemudian jatuh dan menumpuk di sisi kiri dan kanan. Tumpukan tersebut berada di sekitar lintang ±15 derajat, tepat di letak Indonesia.
Sehingga, ekuator justru kekurangan elektron. Di sisi lain Indonesia kebanjiran plasma. Disebabkan posisinya berada di area puncak tumpukan plasma, maka Indonesia menjadi salah satu kawasan paling aktif di dunia yang rentan akan gangguan ionosfer.
Bentuk-bentuk Gangguan Ionosfer
Gangguan ionosfer ini muncul dalam tiga bentuk, yaitu:
- Badai ionosfer karena lontaran massa korona dari Matahari
- Gelembung plasma yang terjadi pada malam hari
- Gangguan ionosfer merambat yang didorong oleh letusan gunung berapi atau badai tropis.
Ketiga hal tersebut membuat sinyal GPS mengalami dua masalah utama, yakni:
- Penundaan, artinya sinyal melambat sehingga receiver mengira satelit lebih jauh dari sebenarnya.
- Sintilasi, artinya sinyal terhambur karena iregularitas plasma. Hal ni menyebabkan penerima mendadak kehilangan kuncian sinyal atau loss of lock.
"Dalam kondisi standar tanpa koreksi, eror posisi pada GNSS umumnya berkisar 5 hingga 10 meter," kata Agri.
Ionosfer menyumbang porsi terbesar, sekitar kurang lebih 5 meter, utamanya di wilayah dengan aktivitas ionosfer tinggi seperti Indonesia.
Bagaimana Caranya Menekan Eror GPS?
Agri menjelaskan gangguan ionosfer memang tidak dapat dicegah, tetapi imbasnya dapat ditekan dengan teknologi. GPS modern memiliki kemampuan multifrekuensi dan multikonstelasi.
Multifrekuensi tersebut dapat mengurangi eror, tetapi tidak menghilangkan eror sepenuhnya, khususnya ketika sintilasi kuat. Apabila satu sinyal terganggu, maka penerima dapat beralih ke satelit lainnya.
Untuk keperluan presisi tinggi misalnya survei tanah, konstruksi, atau navigasi kapal, terdapat metode koreksi posisi yang lebih canggih seperti koreksi diferensial/Diferensial GNSS, koreksi real-time presisi tinggi atau real-time kinematic (RTK), penentuan posisi presisi tanpa stasiun referensi (PPP), dan stasiun referensi virtual (VRS).
"Metode-metode ini mampu menekan eror hingga tingkat sentimeter atau milimeter. Namun, metode ini tetap membutuhkan infrastruktur pendukung dan kondisi sinyal yang memadai," kata Agri.
Maka dari itu, Pusat Riset Antariksa terus memantau ionosfer dan pengembangan model untuk mendukung mitigasi gangguan GNSS di Indonesia. Pemahaman mendalam tentang perilaku ionosfer di zona anomali serta penerapan teknologi mitigasi yang tepat, akan membuat sistem navigasi berbasis satelit bisa terus diandalkan.






























































