Liputan6.com, Jakarta Survei LG terhadap ribuan pengguna ponsel menemukan bahwa hampir 9 dari 10 orang merasa panik saat baterai ponselnya tinggal 20 persen atau kurang. Temuan ini diperkenalkan melalui istilah low battery anxiety, yaitu kecemasan saat daya baterai ponsel hampir habis. Angka ini membantu menjelaskan kenapa kursi di dekat stopkontak hampir selalu terisi lebih dulu di kafe. Ciri orang yang selalu memilih tempat duduk dekat colokan di kafe biasanya terlihat dari kebiasaannya: datang membawa laptop, tinggal lama, dan sangat bergantung pada perangkat digital.
Dalam praktiknya, pilihan kursi ini lebih banyak didorong kebutuhan praktis daripada sekadar soal selera. Kalau kamu termasuk orang yang langsung mencari stopkontak begitu masuk kafe, kamu tidak sendirian. Mengenali ciri orang yang selalu memilih tempat duduk dekat colokan di kafe bisa membantumu memahami kebiasaan kerja sendiri sekaligus menjaga etika di ruang publik.
Dilansir dari EDN, survei LG Electronics terhadap 2.000 pengguna ponsel pintar dewasa di Amerika Serikat pada 2016 menemukan bahwa hampir sembilan dari sepuluh responden merasa panik ketika baterai ponsel mereka tersisa 20 persen atau kurang. Bahkan, 32 persen responden mengaku rela meninggalkan aktivitas yang sedang dilakukan dan putar balik ke rumah demi mengisi daya ponsel.
Advertisement
Pengertian Kebiasaan Memilih Tempat Duduk Dekat Colokan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9358315/original/016259900_1790330963-Sendirian_di_kafe.jpg)
Kebiasaan memilih tempat duduk dekat colokan adalah kecenderungan seseorang untuk mencari kursi yang dekat dengan stopkontak setiap kali datang ke kafe. Istilah "colokan" sendiri adalah sebutan sehari-hari untuk stopkontak listrik, tempat kamu menyambungkan charger laptop, ponsel, atau tablet. Contoh sederhananya, bayangkan kamu masuk ke kedai kopi dan sebelum memesan, matamu sudah menyapu dinding mencari lubang stopkontak. Itulah inti dari kebiasaan ini: kebutuhan daya listrik jadi pertimbangan utama saat memilih tempat duduk.
Kebiasaan ini makin umum seiring tren bekerja dan belajar dari kafe. Seorang pengamat di forum diskusi teknologi mencatat bahwa orang yang butuh daya untuk laptopnya cenderung memilih kursi dekat colokan, sementara pengguna laptop di kursi lain biasanya hanya sebentar. Artinya, posisi duduk ini sering menunjukkan seberapa lama dan seberapa serius seseorang berencana beraktivitas di kafe.
Penting dicatat bahwa kebiasaan ini bukan diagnosis kepribadian yang pasti. Pola semacam ini lebih tepat dibaca sebagai petunjuk gaya hidup dan kebutuhan kerja. Orang yang hanya mampir sebentar untuk mengobrol jelas punya kebutuhan berbeda dibanding mahasiswa yang mengejar tenggat skripsi atau pekerja lepas yang menyelesaikan proyek seharian.
Di Indonesia, fenomena ini juga terlihat dari cara kafe mempromosikan diri. Banyak kafe kini menjadikan colokan sebagai fasilitas unggulan, seperti kafe di kawasan Blok M yang setiap mejanya dilengkapi stopkontak supaya pengunjung tidak perlu berebut colokan.
Advertisement
Ciri Orang yang Selalu Memilih Tempat Duduk Dekat Colokan di Kafe
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9354581/original/020778400_1790055595-IMG_2738.jpeg)
Ada beberapa pola yang sering muncul pada orang dengan kebiasaan ini. Berikut ciri-ciri yang paling mudah dikenali beserta penjelasan praktisnya.
1. Hampir Selalu Membawa Laptop atau Banyak Gawai
Ciri paling jelas adalah perangkat yang dibawa. Mereka datang dengan laptop, ponsel, kadang tablet atau headphone nirkabel yang semuanya butuh daya. Semakin banyak perangkat, semakin besar kebutuhan akan stopkontak.
2. Berencana Tinggal Lama
Bagi pengunjung yang membutuhkan daya tambahan, area di dekat stopkontak menjadi salah satu tempat yang paling dicari. Ketersediaan colokan dapat memengaruhi pilihan tempat duduk, terutama bagi mereka yang ingin tetap menggunakan laptop atau ponsel sambil bekerja, belajar, maupun bersantai.
3. Datang untuk Bekerja atau Belajar
Bagi sebagian orang, kafe menjadi alternatif tempat bekerja atau belajar di luar rumah. Mahasiswa, pekerja jarak jauh, dan pekerja lepas dapat memilih kafe untuk mencari suasana berbeda dari lingkungan rumah. Selain kenyamanan tempat, ketersediaan stopkontak juga menjadi salah satu pertimbangan, terutama bagi pengunjung yang perlu mengisi daya laptop atau ponsel selama beraktivitas.
4. Rentan Cemas Saat Baterai Menipis
Sebagian orang mulai merasa cemas ketika indikator baterai ponsel menunjukkan daya yang hampir habis. Riset Counterpoint Research pada 2023 menemukan bahwa 72 persen responden di India mengalami kecemasan ketika baterai ponsel tersisa 20 persen atau kurang. Dalam situasi seperti ini, duduk di dekat stopkontak dapat menjadi pilihan praktis bagi pengunjung kafe yang ingin mengisi daya perangkat sambil tetap melanjutkan pekerjaan.
5. Terbiasa Merencanakan dan Mengantisipasi
Memilih kursi dekat colokan sejak awal adalah bentuk antisipasi. Daripada pindah tempat di tengah jalan saat baterai habis, mereka memilih mengamankan sumber daya lebih dulu. Ini menunjukkan pola pikir praktis yang berorientasi pada kelancaran kerja.
6. Cenderung Setia pada Satu Kursi atau Kafe Favorit
Setelah menemukan meja dengan colokan yang nyaman, banyak orang kembali ke tempat yang sama. Kebiasaan duduk di kursi yang sama ini sering dikaitkan dengan kecintaan pada keteraturan dan rutinitas, karena tempat yang sudah familier memberi rasa tenang.
7. Bisa Bersikap Teritorial
Dalam situasi tertentu, keinginan mempertahankan tempat duduk dapat membuat pengunjung bersikap kurang menghargai orang lain. Penelitian Merlyn Griffiths dan Mary Gilly tentang perilaku teritorial konsumen membahas bagaimana seseorang berusaha menguasai ruang yang ditempatinya di lingkungan publik. Dalam konteks kafe, perilaku semacam ini dapat terlihat ketika pengunjung meletakkan tas di kursi kosong untuk mencegah orang lain menggunakannya atau memakai stopkontak tanpa mempertimbangkan kebutuhan pengunjung lain.
Alasan Psikologis di Balik Kebiasaan Ini
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7075883/original/010102500_1779855517-89016ab0-9ec1-43f9-a5c2-f12df3026082.jpg)
Langkah pertama memahami kebiasaan ini adalah melihat seberapa dalam ponsel dan laptop menyatu dengan hidup sehari-hari. Bagi banyak orang, perangkat bukan lagi alat tambahan, melainkan pusat pekerjaan, komunikasi, hiburan, dan pembayaran. Ketika daya habis, mereka merasa terputus dari banyak hal sekaligus. Wajar jika ciri orang yang selalu memilih tempat duduk dekat colokan di kafe sering berkaitan dengan ketergantungan tinggi pada perangkat digital.
Dikutip dari Communications Today, Tarun Pathak, Direktur Riset Counterpoint Research, menjelaskan bahwa smartphone kini menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari. "Kita membawa dunia kita di dalam saku melalui smartphone," ujarnya. Ia menambahkan bahwa ketergantungan terhadap perangkat tersebut membuat sebagian orang mengembangkan ketakutan ketika tidak dapat menggunakannya. Riset yang sama membagi rasa tidak nyaman akibat baterai lemah ke dalam enam kategori, mulai dari khawatir, merasa terputus, tidak berdaya, takut ketinggalan informasi atau FOMO, gugup, hingga merasa tidak aman.
Penelitian akademik juga menyoroti dampak yang lebih serius. Penelitian yang dilakukan pada 2019 terhadap 2.044 pengguna ponsel menemukan bahwa sekitar 92 persen responden mengalami kecemasan ketika daya baterai perangkat menipis, dengan tingkat keparahan yang berbeda-beda. Dari jumlah tersebut, sekitar 6 persen mengaku mengalami kecemasan berat akibat kondisi baterai lemah.
Para peneliti menilai kecemasan ini bisa berkaitan dengan nomophobia, yaitu rasa takut berlebihan saat tidak bisa terhubung dengan ponsel. Selain faktor kecemasan, ada juga alasan yang lebih sederhana: rasa kendali. Duduk dekat colokan membuatmu bebas menentukan berapa lama kamu ingin bekerja tanpa dibatasi sisa baterai. Bagi orang yang menyukai ritme kerja stabil, kendali semacam ini membuat sesi kerja di kafe terasa lebih tenang dan produktif.
Advertisement
Manfaat Duduk Dekat Colokan bagi Produktivitas
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5141816/original/032017600_1740385458-young-business-woman-have-break-with-coffee-while-working-laptop-office.jpg)
Manfaat utama duduk dekat colokan bagi pengguna adalah kerja tanpa jeda. Kamu tidak perlu menghentikan rapat daring, mengirim berkas, atau menulis laporan hanya karena laptop tiba-tiba mati. Bagi pekerja lepas yang dibayar per proyek, gangguan kecil seperti ini bisa berarti waktu dan pendapatan yang hilang. Dalam praktiknya, kursi dekat stopkontak digunakan untuk sesi kerja panjang yang butuh konsentrasi.
Kafe pun menyadari kebutuhan ini dan menjadikannya daya tarik. Menurut This Is Raleigh, kafe yang nyaman untuk bekerja dengan laptop tidak hanya mengandalkan kualitas kopi. Koneksi Wi-Fi yang andal, ketersediaan stopkontak, tempat duduk yang lapang, serta suasana yang mendukung konsentrasi tanpa menghilangkan nuansa kebersamaan juga menjadi pertimbangan penting.
Sebaliknya, panduan StudyNearby tentang tempat belajar di New York City menyoroti keterbatasan stopkontak di sejumlah kafe. Ada tempat yang hanya menyediakan tiga stopkontak untuk satu ruangan penuh pengguna laptop, sementara tempat lainnya menempatkan colokan di sudut yang kurang praktis dijangkau. Kondisi ini menunjukkan bahwa jumlah dan posisi stopkontak dapat memengaruhi kenyamanan pengunjung yang ingin bekerja atau belajar dalam waktu lama.
Contoh nyata lain datang dari Jepang. Ada kafe khusus penulis yang dikejar deadline di Tokyo, yang menyediakan colokan USB, Wi-Fi, dan dudukan komputer untuk menunjang kerja pengunjungnya. Konsep ini menunjukkan bahwa akses listrik memang dianggap bagian penting dari produktivitas.
Namun, manfaat ini juga punya sisi lain. Ketergantungan pada colokan bisa membuatmu kesulitan bekerja di tempat yang fasilitasnya terbatas. Itu sebabnya, memadukan kebiasaan ini dengan persiapan seperti membawa power bank tetap jadi pilihan yang lebih fleksibel.
Bagaimana Kafe Menyikapi Pengunjung Pencari Colokan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9340719/original/094213300_1788515238-58c3c641-8730-4bdc-b364-f9c0d8680ab3.jpg)
Tidak semua kafe senang kursinya ditempati seharian oleh satu orang dengan satu gelas kopi. Di kota besar, pemilik kafe harus menyeimbangkan kenyamanan pekerja laptop dengan kebutuhan pengunjung lain yang ingin duduk. Situasi ini membuat kebiasaan mencari colokan kadang menimbulkan gesekan, terutama saat jam ramai.
Sebagaimana dilaporkan CBS New York pada 2011, sejumlah gerai Starbucks yang ramai di New York City mulai menutup stopkontak untuk mencegah pengunjung menggunakan ruang kafe terlalu lama dengan laptop mereka. Langkah ini dilakukan agar kursi yang tersedia dapat dimanfaatkan oleh pelanggan lain, terutama ketika gerai sedang ramai.
Menanggapi kebijakan penutupan stopkontak di sejumlah gerai Starbucks, perusahaan menyatakan bahwa keputusan tersebut dapat disesuaikan dengan kebutuhan operasional masing-masing gerai. Langkah ini mencerminkan upaya menyeimbangkan kenyamanan pelanggan yang ingin bekerja dengan laptop dan kebutuhan untuk menyediakan tempat bagi pengunjung lainnya.
Kebijakan tiap kafe berbeda-beda. Ada yang membatasi waktu duduk saat ramai, ada yang sengaja tidak menyediakan Wi-Fi, dan ada pula yang justru merancang ruangnya untuk pekerja. Sebagai contoh, di Bandung ada kafe yang menyediakan colokan di setiap meja tetapi sengaja tidak memasang WiFi, sehingga pengunjungnya lebih beragam dan tidak semuanya datang untuk bekerja.
Dari sudut pandang pengunjung, memahami kebijakan ini membantu kamu memilih kafe yang tepat. Jika kamu memang berniat bekerja berjam-jam, carilah kafe yang secara terbuka menyambut pekerja laptop. Dengan begitu, kamu bisa duduk dekat colokan tanpa rasa sungkan.
Advertisement
Tips Etis Saat Bekerja dan Duduk Dekat Colokan di Kafe
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9354580/original/023007900_1790055593-IMG_2739.jpeg)
Duduk dekat colokan itu sah-sah saja, asalkan kamu tetap menghargai pemilik kafe dan pengunjung lain. Langkah pertama yang bisa kamu terapkan adalah memesan secara berkala. Jika kamu duduk lebih dari dua atau tiga jam, pesan minuman atau makanan tambahan sebagai bentuk dukungan untuk kafe yang menyediakan listrik dan tempatmu bekerja.
Tips berikutnya, hindari memonopoli stopkontak. Jika ada lubang colokan ganda, jangan biarkan adaptormu menutup lubang kedua, dan tawarkan berbagi jika ada pengunjung lain yang membutuhkan. Hindari juga menaruh tas di kursi kosong untuk "mengamankan" area, terutama ketika kafe sedang penuh.
Perhatikan juga waktu kunjungan. Datang di jam sepi, misalnya pagi hari sebelum pukul 10, membuat peluangmu mendapat kursi dekat colokan lebih besar tanpa harus bersaing. Saat akhir pekan sore hingga malam yang biasanya ramai, pertimbangkan untuk mempersingkat sesi kerja atau pindah ke ruang kerja bersama.
Terakhir, kurangi ketergantungan pada stopkontak dengan persiapan sederhana. Isi penuh baterai laptop dan ponsel sebelum berangkat, bawa power bank, dan aktifkan mode hemat daya. Dengan begitu, kursi dekat colokan jadi pilihan yang menyenangkan, bukan kebutuhan mutlak yang membuatmu cemas setiap kali masuk kafe.
Pada akhirnya, ciri orang yang selalu memilih tempat duduk dekat colokan di kafe mencerminkan gaya hidup digital yang makin akrab dengan kerja jarak jauh dan belajar mandiri. Selama kamu paham alasannya dan tetap menjaga etika, kebiasaan ini bisa jadi strategi produktif yang membuat pekerjaan selesai tanpa drama baterai habis.
Pertanyaan Seputar Ciri Orang yang Selalu Memilih Tempat Duduk Dekat Colokan di Kafe
Mengapa seseorang selalu memilih tempat duduk dekat colokan di kafe?
Biasanya, orang memilih tempat duduk dekat colokan agar lebih mudah mengisi daya ponsel atau laptop. Kebiasaan ini juga bisa menunjukkan bahwa mereka ingin tetap produktif dan nyaman selama berada di kafe.
Apakah memilih tempat duduk dekat colokan menandakan seseorang suka bekerja di kafe?
Tidak selalu, tetapi kebiasaan ini bisa berkaitan dengan aktivitas seperti bekerja, belajar, atau menyelesaikan tugas. Colokan membantu mereka menggunakan perangkat elektronik tanpa khawatir kehabisan baterai.
Apa ciri orang yang selalu mencari tempat duduk dekat colokan di kafe?
Mereka biasanya mempertimbangkan kebutuhan praktis sebelum memilih tempat duduk. Sebagian mungkin terbiasa membuat rencana, mengutamakan kenyamanan, atau menghabiskan waktu cukup lama untuk bekerja dan beraktivitas menggunakan perangkat elektronik.
Apakah kebiasaan memilih tempat duduk dekat colokan mencerminkan kepribadian seseorang?
Kebiasaan ini tidak bisa dijadikan patokan untuk menilai kepribadian seseorang secara pasti. Pilihan tersebut lebih mungkin dipengaruhi kebutuhan mengisi daya, durasi kunjungan, dan aktivitas yang dilakukan selama berada di kafe.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9291533/original/094652600_1783567822-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-09T102907.971.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5150531/original/011713400_1741077091-Kuda1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9370019/original/097624000_1791544375-asap.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5041778/original/033342300_1733738907-Sampul1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9373349/original/011502900_1791963110-01M4TE3YVQXES6HFR4G5BXC737.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5193655/original/000476600_1745236051-ChatGPT_Image_Apr_21__2025__06_46_46_PM.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4058765/original/090496100_1655735658-Vaksinasi_Flu.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381694/original/075241200_1792850777-IMG-20261023-WA0078.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381185/original/054329400_1792762607-IMG-20261023-WA0048.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360246/original/072582700_1790602854-1000446717.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335798/original/047657000_1788064938-AI.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9379459/original/051652600_1792631921-WhatsApp_Image_2026-10-21_at_12.39.32.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374953/original/008947000_1792115215-1.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5312560/original/060717400_1754968440-WhatsApp_Image_2025-08-12_at_09.48.53_5f3125cb.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9373598/original/035832400_1791969676-Mesin_Pencacah_Sampah_3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372965/original/088403400_1791939609-WhatsApp_Image_2026-10-13_at_2.07.21_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9369810/original/021233400_1791537056-QF2P0c04yNAUh0SUP3cG8Bp6orzffZQnsezUicyB.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4937122/original/089053900_1725512784-Ilustrasi_orang_ramah__baik_hati__rendah_hati.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9369800/original/005728000_1791537044-K9PgtbMiz9flNbq8zSx1qUJpCmBKiB2VRbDyH4n3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9369826/original/002470500_1791537085-qLbnAFaG90q38unN6ovXxTJbELuBlrLa6AfEYtGC.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374104/original/026130100_1792035685-01M4WRSANP2RKE1PAV3YE1EVM5.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9369837/original/034252600_1791537095-G548ZyNemj2PX4dz0vuFprDrfuyRLvlr6dcZZm2V.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5549786/original/022832600_1775630215-simon-maage-tXiMrX3Gc-g-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1295184/original/070904600_1469165488-sabun_cuci_piring_2_copy.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9365491/original/061309800_1791180648-oe3Dfs8eZwLlip93ypDT7q5ywuDdof9SQwEopYhw.jpg)