Liputan6.com, Jakarta - Tidak semua orang selalu berkata jujur saat berkomunikasi. Ada yang sesekali berbohong untuk menghindari masalah, tetapi ada juga yang terbiasa memutarbalikkan cerita demi menjaga citra dirinya di hadapan orang lain.
Menariknya, orang yang sering berbohong terkadang menggunakan kalimat tertentu untuk membuat ceritanya lebih dipercaya. Mereka bisa menyangkal perkataan sendiri, menghindari pertanyaan, bahkan membuat orang lain merasa bersalah karena sudah mempertanyakan kejujurannya.
Mengutip YourTango, ada sejumlah ucapan yang sering dikaitkan dengan orang yang terbiasa berbohong. Beberapa di antaranya mungkin terdengar biasa, tetapi bisa memiliki maksud tertentu jika terus diucapkan dalam situasi yang sama. Berikut sembilan ucapan orang penuh kepalsuan yang sering terdengar dalam percakapan sehari-hari, dikutip dari laman YourTango pada Jumat (30/10).
Advertisement
1. "Memangnya siapa yang mau mengarang cerita seperti itu?"
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4733310/original/081178200_1706884508-pexels-budgeron-bach-6532608.jpg)
Orang yang sering berbohong terkadang menggunakan kalimat ini ketika ceritanya mulai diragukan. Mereka seolah-olah ingin meyakinkan orang lain bahwa kejadian yang diceritakan terlalu aneh atau tidak masuk akal untuk dibuat-buat.
Padahal, kalimat tersebut bisa menjadi cara untuk mengalihkan perhatian dari kebohongan yang sebenarnya dilakukan. Alih-alih memberikan bukti atau penjelasan, mereka justru membuat orang lain merasa tidak masuk akal karena sudah mempertanyakan ceritanya.
Advertisement
2. "Kamu tahu sendiri aku orangnya bagaimana."
Kalimat ini sering digunakan untuk menghindari pertanyaan yang sulit dijawab. Seseorang seolah-olah meminta orang lain memercayainya begitu saja karena sudah mengenal kepribadiannya.
Dengan cara ini, pembicaraan bisa beralih dari persoalan utama menuju hubungan atau kedekatan yang sudah terjalin. Orang yang mendengarnya bahkan bisa merasa tidak enak karena dianggap tidak percaya kepada seseorang yang selama ini dikenalnya.
Padahal, kedekatan bukan alasan untuk membenarkan semua perkataan atau tindakan seseorang. Kepercayaan tetap perlu dibangun melalui sikap jujur dan konsisten.
3. "Aku tidak pernah bilang begitu."
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4816365/original/075391500_1714379072-IMG_2309.jpeg)
Ketika perkataannya mulai dipertanyakan, orang yang terbiasa berbohong bisa menyangkal ucapan yang sebelumnya pernah disampaikan. Salah satu kalimat yang sering digunakan adalah, "Aku tidak pernah bilang begitu."
Penolakan seperti ini bisa membuat lawan bicara mulai meragukan ingatannya sendiri. Terlebih jika orang tersebut terus mengubah cerita dan bersikeras bahwa versinya yang paling benar.
Jika dilakukan berulang kali, perilaku tersebut bisa mengarah pada gaslighting, yaitu manipulasi psikologis yang membuat seseorang meragukan ingatan, perasaan, atau penilaiannya sendiri.
Advertisement
4. "Ah, itu cuma masalah kecil."
Orang yang tidak mau mengakui kebohongannya terkadang berusaha mengecilkan masalah. Mereka bisa mengatakan bahwa persoalan yang sedang dibahas sebenarnya tidak penting atau tidak perlu dibesar-besarkan.
Kalimat ini membuat kesalahan seolah-olah terlihat sepele, sehingga orang lain diharapkan berhenti membahasnya. Padahal, kebohongan sekecil apa pun bisa berdampak pada hubungan, terutama jika terus terjadi dan merusak kepercayaan.
Alih-alih mengakui kesalahan, orang tersebut justru sibuk membuat masalah terlihat tidak berarti.
5. "Bukan begitu maksudku."
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3154951/original/071013400_1592374158-young-couple-arguing-about-high-bills-with-laptop-documents_1163-4808.jpg)
Saat perkataan atau tindakannya mulai dipermasalahkan, seseorang mungkin berusaha membela diri dengan mengatakan, "Bukan begitu maksudku."
Ucapan ini bisa digunakan untuk menghindari tanggung jawab atas sesuatu yang sudah dilakukan. Mereka seolah-olah ingin menunjukkan bahwa masalah terjadi hanya karena orang lain salah memahami maksud perkataannya.
Padahal, orang yang benar-benar ingin memperbaiki keadaan biasanya bersedia menjelaskan duduk persoalan sekaligus mengakui jika ada kesalahan. Bukan sekadar mencari alasan agar dirinya terbebas dari tanggung jawab.
Advertisement
6. "Itu benar-benar terjadi, kok."
Orang yang terbiasa berbohong terkadang suka melebih-lebihkan cerita agar terdengar lebih menarik. Ketika orang lain mulai meragukannya, mereka bisa berulang kali menegaskan bahwa kejadian tersebut memang benar-benar terjadi.
Mereka mungkin menambahkan berbagai detail untuk membuat ceritanya semakin meyakinkan. Bahkan, ketika ada bagian yang tidak masuk akal, mereka tetap bersikeras mempertahankan ceritanya.
Kebiasaan ini bisa menjadi masalah ketika kebohongan digunakan untuk mencari perhatian atau membuat diri sendiri terlihat lebih hebat di mata orang lain. Lama-kelamaan, orang di sekitarnya bisa kehilangan kepercayaan karena sulit membedakan cerita yang benar dan yang dibuat-buat.
7. "Harusnya kamu berterima kasih kepadaku."
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2741354/original/032961100_1551500072-photo-1510314522186-d6e6aaa7a0ca.jpg)
Kalimat ini bisa muncul ketika seseorang mulai mempertanyakan tindakan atau perkataan orang lain. Alih-alih menjelaskan kesalahannya, orang tersebut justru mengingatkan tentang kebaikan yang pernah dilakukannya.
Dengan begitu, lawan bicara bisa merasa bersalah karena dianggap tidak menghargai bantuan atau pengorbanannya. Pembicaraan pun beralih dari persoalan utama menjadi urusan siapa yang lebih berjasa dalam hubungan tersebut.
Orang yang terbiasa mencari pengakuan terkadang menggunakan cara seperti ini agar tetap mendapat perhatian dan pujian. Padahal, kebaikan yang pernah dilakukan tidak bisa dijadikan alasan untuk membenarkan kebohongan.
Advertisement
8. "Maksudku memang begitu."
Orang yang sering berbohong terkadang kesulitan mengingat cerita yang pernah disampaikan. Mereka bisa memberikan penjelasan berbeda ketika membahas kejadian yang sama, sehingga perkataannya terdengar tidak konsisten.
Saat ketidaksesuaian tersebut mulai diketahui, mereka mungkin mengatakan, "Maksudku memang begitu." Kalimat ini digunakan untuk membuat perubahan cerita seolah-olah hanya terjadi karena kesalahpahaman.
Alih-alih mengakui bahwa dirinya salah bicara atau mengubah cerita, mereka memilih mempertahankan perkataan sebelumnya. Jika terus dilakukan, orang lain akan semakin sulit mengetahui mana informasi yang benar.
9. "Ya sudah, terserah kamu saja."
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9386486/original/024206100_1793348677-pexels-17376725-8198246.jpg)
Ketika kebohongannya mulai terbongkar, seseorang bisa merespons dengan sikap seolah-olah tidak peduli. Mereka mungkin mengatakan, "Ya sudah, terserah kamu saja," sambil mengakhiri pembicaraan atau menunjukkan ekspresi kesal.
Orang yang terbiasa berbohong terkadang memilih bersikap tenang ketika ditanya tentang ketidaksesuaian ceritanya. Mereka juga bisa menunjukkan ekspresi tidak tertarik, seperti memutar mata atau mengalihkan perhatian.
Sikap tersebut dapat menjadi cara untuk menghindari pembicaraan lebih lanjut. Namun, seseorang yang terlihat tenang atau tidak peduli tentu tidak otomatis sedang berbohong. Hal yang lebih penting adalah melihat konsistensi cerita dan kesediaannya memberikan penjelasan.
Advertisement
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Ucapan Orang Penuh Kepalsuan
Apa saja ucapan yang sering digunakan orang yang terbiasa berbohong?
Beberapa contohnya adalah "Aku tidak pernah bilang begitu", "Bukan begitu maksudku", "Kamu tahu sendiri aku orangnya bagaimana", dan "Ya sudah, terserah kamu saja". Kalimat tersebut bisa digunakan untuk menghindari pertanyaan, menyangkal kesalahan, atau mengalihkan pembicaraan.
Apakah orang yang mengucapkan kalimat tersebut pasti sedang berbohong?
Tidak. Seseorang tidak bisa langsung dianggap berbohong hanya karena menggunakan kalimat tertentu. Perlu melihat konteks percakapan, konsistensi cerita, serta kesesuaian antara perkataan dan tindakannya.
Bagaimana cara mengenali orang yang sering berbohong dalam percakapan sehari-hari?
Perhatikan apakah ceritanya sering berubah, jawabannya tidak konsisten, atau ia kerap menghindari pertanyaan yang membutuhkan penjelasan. Selain itu, amati apakah orang tersebut bersedia mengakui kesalahan dan bertanggung jawab atas perkataannya.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5558081/original/096705700_1776405688-cek_fakta_-_dana_bantuan_hindu.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9385829/original/024402600_1793271201-Screenshot_2026-10-29_174018.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5221825/original/025442000_1747374422-VaksinTb1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9385628/original/052784000_1793262302-Screenshot_2026-10-29_145400.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9386485/original/008208500_1793348676-pexels-sound-on-3761018.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9385978/original/063727200_1793288759-IMG-20261029-WA0009.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9385027/original/054806600_1793210212-WhatsApp_Image_2026-10-27_at_8.55.27_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9384251/original/014376200_1793163977-WhatsApp_Image_2026-10-26_at_16.11.48.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5193655/original/000476600_1745236051-ChatGPT_Image_Apr_21__2025__06_46_46_PM.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4058765/original/090496100_1655735658-Vaksinasi_Flu.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381694/original/075241200_1792850777-IMG-20261023-WA0078.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381185/original/054329400_1792762607-IMG-20261023-WA0048.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360246/original/072582700_1790602854-1000446717.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335798/original/047657000_1788064938-AI.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9379459/original/051652600_1792631921-WhatsApp_Image_2026-10-21_at_12.39.32.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374953/original/008947000_1792115215-1.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5312560/original/060717400_1754968440-WhatsApp_Image_2025-08-12_at_09.48.53_5f3125cb.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9305050/original/001562000_1784782738-cropped-132e86e4-5f0f-4a13-8f1c-eff64f5d6722.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9343475/original/042619900_1788858406-ChatGPT_Image_Sep_8__2026__04_01_45_PM.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5392283/original/019744300_1761439023-948d07fd-248b-4248-9ca3-51ca95445e5d.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9332863/original/096567500_1787720961-Benda_rusak.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9386476/original/096380700_1793348170-pexels-cottonbro-6814342.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7011731/original/014166900_1779784232-pexels-luisbecerrafotografo-5774093.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9386424/original/040673800_1793347231-d7f4748b-027b-4705-b1d2-0848a93f9a34.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9386264/original/068886600_1793340771-0a7f2e63-e4ae-410e-9064-79c8cc1e7409.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2999325/original/082868700_1576641214-New_Project__1_.jpg)