Liputan6.com, Jakarta - Perjalanan (safar) merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia, terlebih di zaman modern. Islam mengajarkan bacaan doa agar selamat di perjalanan sebagai bentuk penyerahan diri kepada Allah, memohon perlindungan, serta memohon keselamatan hingga kembali ke rumah dengan selamat.
Rasulullah SAW memberikan teladan yang sangat indah dalam hal ini. Dalam Sahih Muslim, diriwayatkan bahwa ketika beliau hendak melakukan perjalanan, beliau membaca takbir tiga kali, kemudian membaca doa yang mencakup permohonan kebaikan, ketakwaan, kemudahan perjalanan, serta perlindungan dari segala kesulitan dan kesudahan yang buruk.
Doa safar adalah bagian dari zikir yang sangat dianjurkan, karena mengandung permohonan agar Allah menjadi pendamping dalam perjalanan dan pengganti bagi keluarga yang ditinggalkan. Syaikh Sa‘id bin ‘Ali bin Wahf al-Qahthani dalam Hisnul Muslim merinci doa-doa ini secara sistematis, sehingga mudah untuk diamalkan oleh setiap muslim.
Advertisement
Sementara, Dr. Abdullah bin Hamod Al-Forih dalam Sunnah dan Dzikir Harian Nabi menempatkan doa perjalanan sebagai amalan yang tidak terikat waktu, yang dapat menghidupkan sunnah dan menambal kekurangan ibadah wajib.
Merujuk pada hadis dan panduan dari berbagai sumber, berikut ini adalah bacaan doa agar selamat di perjalanan secara lengkap, disertai dalil, penjelasan ulama, dan faedah-faedahnya.
Bacaan Doa agar Selamat di Perjalanan
Berikut adalah rangkaian doa yang diajarkan Nabi SAW, lengkap dengan teks Arab, latin, arti, serta dalil dan penjelasan ulama.
1. Takbir Tiga Kali
Arab: اَللّٰهُ أَكْبَرُ، اَللّٰهُ أَكْبَرُ، اَللّٰهُ أَكْبَرُ
Latin: Allāhu Akbar, Allāhu Akbar, Allāhu Akbar
Artinya: "Allah Mahabesar, Allah Mahabesar, Allah Mahabesar."
Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah SAW apabila beliau menaiki kendaraan untuk safar, beliau bertakbir tiga kali. Syaikh Sa‘id bin ‘Ali bin Wahf al-Qahthani dalam Hisnul Muslim mencantumkan takbir ini sebagai pembuka rangkaian doa safar, karena takbir menegaskan keagungan Allah dan kesadaran akan kebesaran-Nya di atas segala sarana yang digunakan.
2. Doa Naik Kendaraan dan Safar (Doa Utama)
Arab: سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِي سَفَرِنَا هَذَا الْبِرَّ وَالتَّقْوَى وَمِنَ الْعَمَلِ مَا تَرْضَى. اَللَّهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا سَفَرَنَا هَذَا وَاطْوِ عَنَّا بُعْدَهُ. اَللَّهُمَّ أَنْتَ الصَّاحِبُ فِي السَّفَرِ وَالْخَلِيفَةُ فِي الْأَهْلِ. اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ وَكَآبَةِ الْمَنْظَرِ وَسُوءِ الْمُنْقَلَبِ فِي الْمَالِ وَالْأَهْلِ
Latin: Subhānalladzī sakhkhara lanā hādzā wa mā kunnā lahū muqrinīn, wa innā ilā rabbinā lamunqalibūn. Allāhumma innā nas’aluka fī safarinā hādzal-birra wat-taqwā wa minal-‘amali mā tardhā. Allāhumma hawwin ‘alainā safaranā hādzā wathwi ‘annā bu‘dah. Allāhumma antash-shāhibu fis-safari wal-khalīfatu fil-ahl. Allāhumma innī a‘ūdzu bika min wa‘tsā’is-safari wa ka’ābatil-manzhari wa sū’il-munqalabi fil-māli wal-ahl
Artinya: "Maha Suci Allah yang telah menundukkan kendaraan ini untuk kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya. Dan sesungguhnya kepada Tuhan kami, kami pasti akan kembali. Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu dalam perjalanan kami ini kebaikan, ketakwaan, dan amal yang Engkau ridhai. Ya Allah, mudahkanlah perjalanan kami ini, dan dekatkanlah jaraknya bagi kami. Ya Allah, Engkaulah Teman Pendamping dalam perjalanan, dan Penjaga keluarga yang kami tinggalkan. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari beratnya perjalanan, pemandangan yang menyedihkan, serta kepulangan yang buruk pada harta dan keluarga." (HR. Muslim)
Doa ini diriwayatkan dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma dan terdapat dalam Sahih Muslim. Imam An-Nawawi dalam Al-Adzkar menjelaskan bahwa doa ini mencakup permohonan perlindungan dari segala kesulitan perjalanan dan kesudahan yang buruk, serta menegaskan bahwa Allah adalah satu-satunya yang mampu menundukkan kendaraan dan menjaga keluarga yang ditinggalkan.
Syaikh Sa‘id bin ‘Ali bin Wahf al-Qahthani dalam Hisnul Muslim menempatkan doa ini sebagai doa utama safar yang mencakup seluruh kebutuhan musafir . Dr. Abdullah bin Hamod Al-Forih dalam Sunnah dan Dzikir Harian Nabi menegaskan bahwa doa safar adalah amalan yang sangat dianjurkan untuk menghadirkan keberkahan dan perlindungan Allah selama perjalanan.
3. Doa Ketika Mendaki dan Menurun
Teks Arab (Mendaki): اَللّٰهُ أَكْبَرُ
Teks Arab (Menurun): سُبْحَانَ اللّٰهِ
Latin: Allāhu Akbar (saat mendaki), Subhānallāh (saat menurun)
Artinya: "Allah Mahabesar" (saat mendaki), "Maha Suci Allah" (saat menurun)
Diriwayatkan dari Jabir RA, bahwa Rasulullah SAW apabila mendaki beliau bertakbir, dan apabila menurun beliau bertasbih (HR. Bukhari dan Muslim). Dalam Kumpulan Doa Sehari-hari Kemenag RI, amalan ini dianjurkan untuk diamalkan selama perjalanan sebagai bentuk zikir yang menyertai setiap kondisi medan yang dilalui.
4. Doa Naik Kendaraan Laut
Arab: بِسْمِ اللَّهِ مَجْرَاهَا وَمُرْسَاهَا إِنَّ رَبِّي لَغَفُورٌ رَحِيمٌ
Latin: Bismillāhi majrāhā wa mursāhā inna rabbī laghafūrur raḥīm
Artinya: "Dengan nama Allah yang menjalankan kendaraan ini berlayar dan berlabuh. Sesungguhnya Tuhanku Pemaaf lagi Pengasih." (QS. Hud: 41)
Dalam Kumpulan Doa Sehari-hari Kemenag RI disebutkan doa naik kendaraan laut dengan lafaz yang bersumber dari ayat Al-Qur’an ini . Syaikh Sa‘id bin ‘Ali bin Wahf al-Qahthani dalam Hisnul Muslim juga mencantumkan doa ini sebagai bagian dari doa safar, karena laut memiliki tantangan dan risiko tersendiri yang membutuhkan perlindungan khusus dari Allah.
5. Doa Ketika Kembali dari Perjalanan
Teks Arab (Tambahan):
آيِبُونَ تَائِبُونَ عَابِدُونَ لِرَبِّنَا حَامِدُونَ
Latin: Āyibūn, tā’ibūn, ‘ābidūn, lirabbinā hāmidūn
Artinya: "Kami kembali, kami bertaubat, kami tetap beribadah, dan kepada Tuhan kami, kami senantiasa memuji." (HR. Muslim)
Doa ini dibaca ketika seseorang kembali dari perjalanan, dengan mengulang doa safar yang sama dan menambahkan lafaz ini di akhirnya. Imam An-Nawawi dalam Al-Adzkar menyebutkan bahwa doa ini adalah bentuk syukur atas keselamatan yang Allah berikan selama perjalanan dan sebagai penutup rangkaian zikir safar.
Faedah Bacaan Doa agar Selamat di Perjalanan
1. Memperoleh Perlindungan dan Penjagaan Allah Sepanjang Perjalanan
Doa safar secara eksplisit memohon agar Allah menjadi ash-shāhib (pendamping) dalam perjalanan dan al-khalīfah (pengganti) bagi keluarga yang ditinggalkan. Imam An-Nawawi dalam Al-Adzkar menegaskan bahwa doa ini mencakup permohonan penjagaan menyeluruh, baik bagi musafir itu sendiri maupun bagi keluarga dan harta yang ditinggalkan di rumah.
Syaikh Sa‘id bin ‘Ali bin Wahf al-Qahthani dalam Hisnul Muslim juga menekankan bahwa doa ini adalah benteng spiritual yang menemani musafir dari keberangkatan hingga kepulangan.
2. Memohon Kemudahan dan Pemendekan Jarak Tempuh
Salah satu bagian doa safar adalah Allāhumma hawwin ‘alainā safaranā hādzā wathwi ‘annā bu‘dah (Ya Allah, mudahkanlah perjalanan kami ini dan dekatkanlah jaraknya bagi kami). Dalam buku Kumpulan Doa Sehari-hari Kemenag RI dijelaskan bahwa doa ini adalah permohonan agar segala kesulitan perjalanan—baik fisik, waktu, maupun biaya—diringankan oleh Allah.
Dr. Abdullah bin Hamod Al-Forih dalam Sunnah dan Dzikir Harian Nabi menambahkan bahwa kemudahan perjalanan adalah bagian dari keberkahan yang Allah janjikan bagi hamba yang berdoa dengan penuh keyakinan.
3. Terhindar dari Bahaya dan Kesudahan yang Buruk
Doa safar mencakup permohonan perlindungan dari wa‘tsā’is-safar (beratnya perjalanan), ka’ābatil-manzhar (pemandangan yang menyedihkan), dan sū’il-munqalab (kepulangan yang buruk pada harta dan keluarga).
Ibnu Qayyim al-Jauziyyah dalam Zād al-Ma‘ād menjelaskan bahwa Rasulullah SAW selalu berlindung dari segala kesudahan yang buruk, termasuk dalam perjalanan, karena setiap perjalanan mengandung risiko yang tidak diketahui . Syaikh Sa‘id bin ‘Ali bin Wahf al-Qahthani dalam Hisnul Muslim menegaskan bahwa doa ini adalah perisai dari segala marabahaya yang mungkin terjadi di jalan.
4. Menenangkan Hati dan Mengurangi Kecemasan
Penelitian dalam psikologi religius menunjukkan bahwa aktivitas spiritual seperti doa dapat menurunkan tingkat kecemasan dan meningkatkan rasa aman subjektif.
Dr. MS. Udin, MA dalam bukunya Konsep Dzikir dalam Al-Qur’an dan Implikasinya terhadap Kesehatan menjelaskan bahwa dzikir dan doa memiliki efek terapeutik yang menenangkan jiwa, membangkitkan harapan, dan mengurangi stres. Dengan membaca doa safar, seorang musafir menyerahkan segala kekhawatirannya kepada Allah, sehingga perjalanan terasa lebih ringan dan penuh ketenangan.
5. Meneladani Sunnah Nabi dan Menghidupkan Ibadah
Membaca doa safar adalah bentuk ittiba‘ (mengikuti) sunnah Nabi SAW. Dalam Sunnah dan Dzikir Harian Nabi, Dr. Abdullah bin Hamod Al-Forih menjelaskan bahwa menghidupkan sunnah-sunnah Nabi, termasuk doa perjalanan, akan mendatangkan kecintaan Allah dan menambal kekurangan ibadah wajib.
Setiap doa yang dibaca dengan ikhlas adalah ibadah yang mendekatkan hamba kepada Rabb-nya, sehingga perjalanan bukan sekadar aktivitas duniawi, melainkan juga sarana meraih pahala.
6. Menjaga Keberkahan Harta dan Keluarga yang Ditinggalkan
Doa safar mencakup permohonan agar Allah menjadi khalīfah (pengganti) bagi keluarga dan harta yang ditinggalkan. Syaikh Sa‘id bin ‘Ali bin Wahf al-Qahthani dalam Hisnul Muslim menjelaskan bahwa doa ini adalah bentuk tawakal yang sejati, karena musafir menyadari bahwa dirinya tidak mampu melindungi keluarganya dari jauh, sehingga ia menyerahkan perlindungan itu kepada Allah.
Imam An-Nawawi dalam Al-Adzkar juga menyebutkan bahwa doa ini mencakup permohonan agar keluarga dan harta tetap dalam keadaan baik selama musafir tidak berada di rumah.
Pertanyaan Seputar Doa Perjalanan
1. Kapan waktu yang tepat untuk membaca doa agar selamat di perjalanan?
Doa safar dibaca ketika hendak menaiki kendaraan dan setelah berada di atas kendaraan, sebagaimana dicontohkan Nabi SAW. Dalam Hisnul Muslim, Syaikh Sa‘id bin ‘Ali bin Wahf al-Qahthani mencantumkan doa ini pada bab safar, dimulai dengan takbir tiga kali lalu membaca doa utama . Doa ini juga dapat diulang selama perjalanan, terutama saat melewati medan yang sulit atau merasa cemas.
2. Apakah doa safar harus dibaca dengan suara keras?
Tidak. Doa safar sebaiknya dibaca dengan suara yang lembut, karena Allah berfirman, “Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah hati dan suara yang lembut” (QS. Al-A‘rāf: 55). Imam An-Nawawi dalam Al-Adzkar menganjurkan agar zikir dan doa dibaca dengan suara sedang, tidak berlebihan dan tidak pula terlalu pelan, sehingga tetap dapat didengar oleh diri sendiri dan tidak mengganggu orang lain.
3. Apakah doa ini bisa dibaca untuk semua jenis perjalanan?
Ya. Doa safar bersifat umum dan dapat dibaca untuk semua jenis perjalanan—baik darat, laut, maupun udara; jarak dekat maupun jauh; perjalanan dinas, mudik, umrah, maupun haji. Dalam Kumpulan Doa Sehari-hari Kemenag RI, doa naik kendaraan darat, laut, dan udara disajikan secara terpisah, tetapi pada dasarnya doa safar yang utama dapat mencakup semuanya.
4. Apakah ada doa khusus untuk perjalanan jauh?
Doa safar yang diajarkan Nabi sudah mencakup perjalanan jauh, karena di dalamnya terdapat permohonan agar Allah memudahkan perjalanan dan memendekkan jarak tempuh (wathwi ‘annā bu‘dah). Dalam buku Kumpulan Doa Sehari-hari Kemenag RI, doa berpergian jauh juga dilengkapi dengan doa naik kendaraan laut dan darat yang dapat dibaca sesuai moda transportasi yang digunakan.
5. Apakah doa safar bisa dibaca oleh musafir perempuan?
Ya. Doa safar adalah zikir yang dianjurkan bagi setiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan. Tidak ada dalil yang mengkhususkan doa ini untuk laki-laki saja. Syaikh Sa‘id bin ‘Ali bin Wahf al-Qahthani dalam Hisnul Muslim mencantumkan doa ini dalam bab safar secara umum, tanpa membedakan jenis kelamin, sehingga setiap musafir—baik laki-laki maupun perempuan—dapat mengamalkannya.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5519844/original/068556900_1772598514-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-03-04T112728.479.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9344440/original/084293900_1788945337-cek_fakta_PGI.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9315872/original/087159700_1785900314-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-08-05T102428.295.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9388810/original/006254700_1793683157-Screenshot_2026-11-03_115910.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9309241/original/025113800_1785221451-IjX4VwGkAmwQdayZD99MHarMSZDjxkCEaKpl6kvy.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355055/original/082772300_1790070742-roman-budnikov-LrmVfNfhFOw-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9387840/original/049454400_1793576292-S__73179165.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5437037/original/069686000_1765195130-WhatsApp_Image_2025-12-08_at_16.01.33.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3559193/original/024993600_1630573027-vlcsnap-2021-09-02-11h09m01s068__2_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9385978/original/063727200_1793288759-IMG-20261029-WA0009.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9385027/original/054806600_1793210212-WhatsApp_Image_2026-10-27_at_8.55.27_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9384251/original/014376200_1793163977-WhatsApp_Image_2026-10-26_at_16.11.48.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5193655/original/000476600_1745236051-ChatGPT_Image_Apr_21__2025__06_46_46_PM.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9382249/original/070234100_1792985471-WhatsApp_Image_2026-10-25_at_09.42.1222.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4058765/original/090496100_1655735658-Vaksinasi_Flu.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381694/original/075241200_1792850777-IMG-20261023-WA0078.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381185/original/054329400_1792762607-IMG-20261023-WA0048.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9383867/original/086430500_1793106616-1000550805.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9389604/original/078039000_1793763157-517749.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9389599/original/073964900_1793762601-517767.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9389572/original/063386400_1793760649-IMG-20261103-WA0125.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4766225/original/046556200_1709881475-masjid-pogung-raya-LhNePx4kde0-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9389526/original/046155100_1793756532-IMG-20261103-WA0003.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9389366/original/015631700_1793710914-SaveInta.com_867976438_18640766701059842_8150324403352713081_n.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9389514/original/026587800_1793752724-1001414464.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9350601/original/058057700_1789623654-persib.jpg)