Sebanyak 3.864.195 murid SMA, MA, dan yang sederajat, serta MA dan MAK mendaftar Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026. Jumlah ini lebih banyak daripada TKA SMA/sederajat pada 2025, yang mencapai 3,4 juta murid.
Sebelumnya, sejumlah orang tua murid juga menyampaikan pendapat bahwa ada kesan bahwa TKA didorong untuk diikuti oleh anak. Sedangkan sejumlah murid di media sosial menyampaikan rasa tegangnya dalam mempersiapkan diri untuk mengikuti TKA dan sebagian lain mengungkapkan bahwa mereka sampai ikut les agar sukses dalam TKA.
Lebih lanjut, dengan banyaknya murid yang tahun ini menjadi peserta tes, apakah TKA kini menentukan kelulusan?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti menyatakan, TKA bukan penentu kelulusan. Alih-alih, TKA merupakan salah satu instrumen untuk memetakan kemampuan akademik dan menjadi bahan evaluasi pembelajaran.
"Jadi semua sudah terstandar dan hasilnya nanti akan menggambarkan bagaimana kemampuan dari murid-murid kita. Dan ini bukan soal gagal atau berhasil. Karena TKA ini tujuannya adalah untuk memetakan mutu pendidikan," ujar Abdul Mu'ti saat meninjau pelaksanaan TKA di SMA Negeri 3 Kota Tangerang Selatan, Banten, Senin (26/10), dikutip dari keterangan resminya.
Bahan Evaluasi Sebelum Lulus Sekolah
Mu'ti menambahkan bahwa TKA juga bukan akhir dari proses belajar murid. Pelaksanaan TKA pada pertengahan tahun ajaran memberi kesempatan bagi murid untuk memperbaiki kemampuan sebelum menyelesaikan pendidikan di jenjang SMA.
Hasil TKA juga nantinya dikatakan oleh Mendikdasmen perlu dipahami sebagai bahan evaluasi.
"Setelah kita tahu hasil tesnya seperti apa, kita perbaiki. Karena pelaksanaan pada pertengahan semester, setelah ini anak-anak masih akan belajar satu semester lagi. Masih memiliki waktu belajar untuk memperdalam mereka kurangnya di mana, kemudian yang perlu diperbaiki pada aspek mana saja," ucapnya.
Ia menjelaskan bahwa penyusunan soal TKA juga menggunakan standar yang memperhatikan validitas dan reliabilitas. Bentuk soal dirancang untuk mengukur kemampuan berpikir murid, termasuk melalui pertanyaan kontekstual.
Hal tersebut dinilai mendorong penalaran, dan tidak semata-mata mengandalkan hafalan atau perhitungan langsung.
Baca juga: Playtech |
Manfaat Nilai TKA buat Siswa-Guru untuk Evaluasi
Selaras, Kepala Pusat Asesmen Pendidikan (Pusmendik) BKPDM Kemendikdasmen Rahmawati sebelumnya mengatakan bahwa hasil TKA nantinya dapat membantu siswa dalam memetakan minat dan bakat di jalur akademik serta rencana karier.
"TKA ini kan Tes Kemampuan Akademik ya, artinya kalau dia berhasil di situ, sukses di situ; minatnya, bakatnya mungkin di jalur akademik," ucapnya pada taklimat media pelaksanaan TKA SMA/MA/SMK/sederajat di Gedung E Kemendikdasmen, Jl. Jenderal Sudirman, Jakarta, Jumat (23/10/2026).
Ia mencontohkan, jika seorang siswa yang masuk program studi (prodi) perguruan tinggi yang persaingannya masuknya ketat memperoleh nilai TKA di bawah rata-rata populasi, maka ia bisa menavigasi kembali cita-citanya atau justru menguatkan usaha, semangat, dan ketekunan agar bisa masuk ke prodi tujuan
Sementara itu, guru juga dapat menggunakan hasil TKA untuk mengetahui tingkatan capaian kompetensi siswanya. Ia menjelaskan, dari hasil TKA tersebut, guru dapat merencanakan pembelajaran dengan lebih tepat sasaran atau differentiated learning.
"Kalau dalam satu kelas ternyata yang kategori baiknya hanya 2 orang, yang lainnya masuk kategori kurang, maka seperti apakah perencanaan pembelajarannya untuk bisa menyesuaikan," ucapnya.
Manfaat Nilai TKA Jika Semua Siswa Jadi Peserta
Nantinya, jika semua siswa mengikuti TKA, hasil tesnya menurut Rahmawati dapat digunakan oleh guru pada jenjang pendidikan selanjutnya seperti hasil asesmen awal.
Contohnya, guru SMP yang bersangkutan dapat memetakan capaian akademik tiap siswa barunya dari hasil TKA SD ke dalam sejumlah kategori. Hasil pemetaan ini bisa digunakan sebagai dasar penyusunan strategi pembelajaran di jenjang SMP.































































