Liputan6.com, Jakarta - Rabu sore (28/10/2026) di sekitar Monumen Nasional (Monas), Jakarta, pengeras suara memancarkan riuh orasi mahasiswa. Namun, di balik barisan barikade dan kepalan tangan ke udara, ada denyut kehidupan lain yang terus berputar: roda gerobak tahu bulat, gantungan saset kopi keliling, hingga sapu lidi petugas kebersihan.
Bagi sebagian orang, keramaian aksi massa adalah panggung aspirasi. Bagi yang lain, ini adalah ceruk rezeki sekaligus tumpukan kerja ekstra yang menanti di penghujung hari.
Ahmad (43) sibuk menggelembungkan tahu bulat di atas penggorengan panasnya. Pria yang saban hari berkeliling ini mengaku, riuh demonstrasi atau acara besar di pusat kota selalu menjadi angin segar bagi lapaknya. "Kalau ada demo, bagus," tutur Ahmad lugas saat ditemui di sekitar Monas.
Advertisement
Pagi hari, Ahmad biasanya mengais rezeki di kawasan perkantoran. Begitu karyawan masuk kerja, ia langsung pindah menuju Monas. Informasi demo biasanya ia dapat dari media sosial. Uniknya, pembeli terlarisnya saat aksi berlangsung sering kali datang dari seragam petugas yang berjaga.
Namun, di balik senyumnya saat lapak ramai, Ahmad tak menutupi realita sulitnya mengebulkan dapur rumah tangga sehari-hari.
"Pokoknya nyari duit susah. Saya dapat duitnya kalau ada begini-begini doang nih, sama acara konser di Monas. Kalau hari-harian mah, bertahan hidup doang," ucapnya jujur.
Tuntutannya hari itu tak rumit, bahkan jauh lebih sederhana dari tuntutan orator di panggung aksi. "Ya penginnya sih kalau saya mah ekonominya baik aja, udah. Enggak muluk-muluk, enggak neko-neko. Cari duit yang gampang," tambah Ahmad.
Mengejar Target di Tengah Keramaian
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9384855/original/042857700_1793184610-1000771976.jpg)
Kesempatan mencari penghasilan di tengah demonstrasi juga dicoba Ijal (28), penjual kopi gerobak. Ia biasanya berjualan di depan PT Gas Telekomunikasi Nusantara, kawasan Gajah Mada. Namun, setelah mengetahui adanya demonstrasi melalui Instagram, ia memutuskan datang ke sekitar Monas untuk mencoba berjualan.
Hari itu menjadi pengalaman pertamanya berjualan di lokasi demonstrasi tersebut. Karena itu, Ijal belum bisa memastikan apakah keramaian massa akan meningkatkan jumlah pembelinya.
Ketika ditanya alasan tetap berjualan di tengah demonstrasi, jawabannya singkat.
"Mau ngejar target aja," ujarnya.
Bagi Ijal, pekerjaan harus tetap berjalan. Target pendapatan perlu dikejar agar kebutuhan sehari-hari bisa terpenuhi, terlepas dari aktivitas yang berlangsung di sekelilingnya.
Meski demikian, demonstrasi juga membawa perubahan terhadap kondisi di lapangan. Penutupan jalan menjadi salah satu kendala yang dirasakannya.
"Kalau untuk jalan, dari yang jalan ditutup sih," kata Ijal.
Pengalaman serupa, dengan cerita yang lebih panjang, dijalani Daang (62). Pedagang keliling yang menjajakan makanan ringan dan buah potong dengan cara memikul dagangannya itu telah puluhan tahun mencari nafkah di Jakarta.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9384856/original/031875400_1793184678-1000772011.jpg)
Ia menilai penjualan terkadang lebih baik ketika ada demonstrasi dibandingkan hari biasa.
"Ya, agak mendingan demo," kata Daang.
Pembelinya bisa berasal dari kalangan demonstran maupun aparat yang berjaga. Namun, keramaian tidak selalu menjamin seluruh dagangannya terjual.
Perjalanan Daang mencari nafkah di Jakarta dimulai sekitar 1982. Ia semula berjualan minyak tanah sebelum beralih ke pekerjaan yang dijalaninya sekarang.
Setiap hari, Daang berangkat sekitar pukul 05.00 untuk mengambil dagangan di Pasar Rebo. Setelah itu, ia berkeliling ke sejumlah kawasan di pusat Jakarta, termasuk Monas dan Bundaran HI. Ia biasanya tiba di lokasi berjualan sekitar pukul 10.00 atau 11.00 dan baru pulang pada malam hari.
Rutinitas panjang tersebut menguras tenaga, terlebih ketika dagangannya tidak banyak terjual.
"Kalau enggak laku-laku ya berat, capek," tuturnya.
Karena penghasilannya bergantung pada jumlah barang yang terjual, keramaian demonstrasi menjadi salah satu peluang yang tak ingin dilewatkan. Meski begitu, Daang tetap memperhatikan keselamatan. Ketika situasi dirasa berpotensi ricuh, ia memilih menepi dan menjauh dari lokasi yang dianggap tidak aman.
"Kita sebelum mau ada kerusuhan kan kita minggir dulu," katanya.
Bagi Ahmad, Ijal, dan Daang, demonstrasi menghadirkan situasi yang berbeda dari rutinitas sehari-hari. Namun, di tengah perubahan aktivitas jalanan, satu hal tetap sama: mereka harus terus berusaha mendapatkan penghasilan.
Advertisement
Saat Massa Bubar, Petugas Kebersihan Mulai Bekerja
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9384857/original/087797100_1793184758-1000772022.jpg)
Jika bagi pedagang keramaian demonstrasi bisa menjadi peluang untuk menambah penghasilan, bagi petugas kebersihan, kegiatan besar di ruang publik berarti pekerjaan tambahan yang menanti setelah massa membubarkan diri.
Ajad (35), petugas kebersihan yang bertugas di kawasan tersebut, mengatakan sampah yang tertinggal setelah demonstrasi biasanya lebih banyak dibandingkan hari biasa. Di antara sampah yang kerap ditemukan adalah gelas dan botol air mineral bekas minuman.
"Ya biasanya itu, apa, gelas botol Aqua. Bekas minuman," ujar Ajad.
Namun, petugas kebersihan tidak bisa langsung membersihkan lokasi ketika demonstrasi masih berlangsung dan massa masih berkumpul. Mereka perlu menunggu hingga situasi memungkinkan agar pekerjaan dapat dilakukan dengan aman.
"Ya biasa sih kita kalau acara seperti ini nunggu bubar dulu," katanya.
Pembersihan umumnya dilakukan pada sore hari, bergantung pada kondisi di lapangan. Sampah yang berserakan, termasuk yang mengganggu akses jalan, perlu ditangani agar kawasan tersebut kembali nyaman digunakan masyarakat.
Dengan demikian, berakhirnya demonstrasi bukan berarti seluruh aktivitas di sekitar Monas langsung selesai. Ketika massa mulai meninggalkan lokasi, petugas kebersihan bersiap menjalankan pekerjaan yang menjadi bagian penting dari pemulihan ruang publik.
Kisah Ajad melengkapi cerita para pedagang yang berusaha memanfaatkan keramaian untuk mencari nafkah. Di jalanan yang sama, setiap orang memiliki tanggung jawab berbeda. Ahmad berharap dagangannya laku, Ijal berusaha mengejar target pendapatan, dan Daang terus berkeliling menjajakan dagangan setelah puluhan tahun mengadu nasib di Jakarta.
Sementara itu, Ajad dan petugas kebersihan lainnya menanti kesempatan untuk bekerja ketika situasi sudah memungkinkan.
Di tengah demonstrasi yang menjadi perhatian publik, kehidupan sehari-hari tetap berjalan. Ada orang-orang yang datang untuk menyampaikan aspirasi, ada pedagang kecil yang berharap membawa pulang penghasilan, dan ada petugas kebersihan yang memastikan ruang publik kembali bersih setelah keramaian berakhir.
Bagi mereka, hari itu bukan semata-mata tentang demonstrasi. Ada kebutuhan hidup yang harus dipenuhi, tenaga yang harus dikeluarkan, serta pekerjaan yang mesti diselesaikan sebelum hari berakhir.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9384458/original/090026400_1793172561-Screenshot_2026-10-28_141303.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9376757/original/016204500_1792391224-cek_fakta_jasa_marga.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9357774/original/082781700_1790305729-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-09-25T100732.986.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9382785/original/072637300_1793009878-cek_fakta_-_bantuan_pupuk.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9384853/original/018585900_1793184471-1000771950.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262534/original/058192400_1781834566-091123000_1781254919-WhatsApp_Image_2026-06-12_at_15.37.48__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9385031/original/031357100_1793212010-004412600_1793211445-1001696857.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9384954/original/039126300_1793197480-Screenshot_2026-10-28_211854.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9384774/original/038325300_1793181690-acb05ccd-96ac-43c1-a857-a71af48731fc.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9385027/original/054806600_1793210212-WhatsApp_Image_2026-10-27_at_8.55.27_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9384251/original/014376200_1793163977-WhatsApp_Image_2026-10-26_at_16.11.48.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5193655/original/000476600_1745236051-ChatGPT_Image_Apr_21__2025__06_46_46_PM.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4058765/original/090496100_1655735658-Vaksinasi_Flu.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381694/original/075241200_1792850777-IMG-20261023-WA0078.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381185/original/054329400_1792762607-IMG-20261023-WA0048.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360246/original/072582700_1790602854-1000446717.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335798/original/047657000_1788064938-AI.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9379459/original/051652600_1792631921-WhatsApp_Image_2026-10-21_at_12.39.32.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374953/original/008947000_1792115215-1.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5312560/original/060717400_1754968440-WhatsApp_Image_2025-08-12_at_09.48.53_5f3125cb.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9373598/original/035832400_1791969676-Mesin_Pencacah_Sampah_3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9384954/original/039126300_1793197480-Screenshot_2026-10-28_211854.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9384774/original/038325300_1793181690-acb05ccd-96ac-43c1-a857-a71af48731fc.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9384988/original/071308700_1793201149-511625.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3337097/original/098406000_1609328704-20201230-Rupiah-Ditutup-Menguat-6.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9384942/original/061473700_1793196014-19c4aaf8-28b7-428e-b334-af9f888cfbc9.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9384953/original/032985700_1793197480-WhatsApp_Image_2026-10-28_at_20.04.55.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9384566/original/071917000_1793176422-148597.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3655068/original/003051600_1638858233-AP21340407450770.jpg)