Liputan6.com, Jakarta - Orangtua tentu ingin anak berada dalam situasi yang aman, baik saat di dalam atau luar ruangan. Namun, merasa lingkungan sudah aman bukan berarti risiko bahaya sepenuhnya hilang.
Khusus untuk anak usia dini, khususnya balita, mereka memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan senang mengeksplorasi lingkungan di sekitarnya. Di sisi lain, kemampuan mereka mengenali bahaya, mengendalikan perilaku, dan memperkirakan konsekuensi dari tindakannya masih berkembang.
Maka dari itu psikolog klinis, Efnie Indrianie, mengingatkan orangtua tidak cukup hanya memastikan anak berada di tempat yang dianggap aman. Orangtua perlu mengenali berbagai kemungkinan risiko dan mengantisipasinya sebelum terjadi sesuatu yang membahayakan.
Advertisement
Dosen Fakultas Psikologi Universitas Maranatha itu mengatakan hal paling penting yang perlu dibangun orangtua adalah safety awareness yakni kesadaran untuk mengenali risiko sebelum risiko tersebut berubah menjadi kejadian yang membahayakan. "Dalam pendekatan bio-neuropsikologi, kita perlu memahami bahwa kemampuan anak mengenali bahaya berkembang secara bertahap," ujar Efnie kepada Liputan6.com lewat pesan tertulis.
Menurutnya, ada tiga bentuk perlindungan yang perlu diterapkan orangtua secara bersamaan untuk menjaga keselamatan anak.
1. Memastikan Keamanan Lingkungan Fisik
Pertama, physical safety. Orangtua perlu memastikan lingkungan tempat anak beraktivitas aman secara fisik.
Hal ini mencakup berbagai area yang berpotensi menimbulkan bahaya, seperti balkon, jendela, tangga, kolam renang, hingga akses keluar ruangan. Ketika anak beraktivitas di luar rumah, orangtua juga perlu memperhatikan kondisi alam dan lingkungan sekitar.
Efnie mengingatkan bahwa memasang pagar balkon saja belum tentu cukup untuk menjamin keselamatan anak.
Penting juga memastikan tidak ada benda di sekitar pagar yang dapat dipanjat anak. Dengan begitu, orangtua tidak hanya mengandalkan satu bentuk pengamanan, tetapi turut memperhitungkan kemungkinan anak menemukan cara lain untuk menjangkau area berbahaya.
2. Memastikan Anak Selalu dalam Pengawasan Aktif
Kedua, active supervision. Anak, terutama balita, perlu berada dalam pengawasan orang dewasa yang mampu memberikan respons dengan cepat ketika terjadi sesuatu.
Pengawasan bukan sekadar mengetahui anak sedang berada di mana. Orangtua perlu memastikan ada orang dewasa yang benar-benar bertanggung jawab, dalam kondisi terjaga, dan siap memberikan pertolongan.
Dengan demikian, pengawasan tidak bisa hanya mengandalkan asumsi bahwa anak sedang berada di tempat aman atau ada orang lain di sekitarnya.
3. Membiasakan Diri Mengantisipasi Risiko
Anticipatory thinking artinya orangtua perlu membiasakan diri berpikir beberapa langkah ke depan untuk memperkirakan kemungkinan yang bisa terjadi.
Misalnya, bagaimana jika anak tiba-tiba terbangun? Bagaimana jika anak membuka pintu? Bagaimana jika kondisi cuaca berubah? Atau bagaimana jika orang yang dititipi ternyata tidak dapat mengawasi anak?
"Pertanyaan-pertanyaan ini penting karena keselamatan anak harus dibangun berdasarkan kemungkinan risiko, bukan berdasarkan asumsi bahwa kejadian buruk tidak akan terjadi," jelas Efnie.
Keselamatan Anak Juga Menyangkut Kondisi Psikologis
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9387138/original/012240300_1793435911-WhatsApp_Image_2026-10-20_at_8.03.22_AM__1_.jpeg)
Selain keselamatan fisik, Efnie mengatakan orangtua juga perlu memperhatikan rasa aman anak secara psikologis.
"Yang perlu ditekankan jugamenekankan bahwa keselamatan anak tidak hanya menyangkut kondisi fisik, tetapi juga rasa aman secara psikologis," tutur PhD Candidate dari Radboud University Belanda ini.
Efnie mengatakan, anak yang terbangun sendirian di tempat asing dapat mengalami ketakutan dan tekanan emosional. Meski demikian, satu peristiwa menakutkan tidak otomatis menyebabkan trauma psikologis berkepanjangan.
Karena itu, orangtua perlu memperhatikan kondisi emosional anak setelah mengalami kejadian yang membuatnya takut. Memberikan pendampingan dan rasa aman menjadi bagian penting dalam membantu anak menghadapi pengalaman tersebut.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4160798/original/079359000_1663319947-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360581/original/074488200_1790655511-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-09-29T111631.534.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360712/original/030827900_1790662146-cek_fakta_--_BLT_UMKM.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261063/original/026293200_1781677316-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-17T130056.370.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5298500/original/084082800_1753763943-yael-gonzalez-oV6RSDQlq8Q-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3559193/original/024993600_1630573027-vlcsnap-2021-09-02-11h09m01s068__2_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9385978/original/063727200_1793288759-IMG-20261029-WA0009.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9385027/original/054806600_1793210212-WhatsApp_Image_2026-10-27_at_8.55.27_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9384251/original/014376200_1793163977-WhatsApp_Image_2026-10-26_at_16.11.48.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5193655/original/000476600_1745236051-ChatGPT_Image_Apr_21__2025__06_46_46_PM.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4058765/original/090496100_1655735658-Vaksinasi_Flu.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381694/original/075241200_1792850777-IMG-20261023-WA0078.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381185/original/054329400_1792762607-IMG-20261023-WA0048.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360246/original/072582700_1790602854-1000446717.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335798/original/047657000_1788064938-AI.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9379459/original/051652600_1792631921-WhatsApp_Image_2026-10-21_at_12.39.32.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374953/original/008947000_1792115215-1.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3500339/original/019428200_1625361127-Ilustrasi_me_time_2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9361882/original/003311900_1790752787-IMG_0076.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4943301/original/089957100_1726156937-christina-wocintechchat-com-eF7HN40WbAQ-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9333179/original/088580500_1787735332-Untitled2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3211180/original/099922600_1597650323-20200817-Ceria-Kecil-Lomba-17-an-di-Tengah-Pandemi-Covid-19-ARBAS-6.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4382408/original/016152300_1680579815-young-woman-sitting-cafe-with-her-laptop-stressful-wor_1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2924720/original/056045300_1569682977-nordwood-themes-yyMJNPgQ-X8-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4095085/original/078841100_1658311475-pexels-shvets-production-7176319.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6211134/original/076163900_1779089230-2238.jpg)