Liputan6.com, Jakarta -Menanam pohon buah di rumah menggunakan pot bisa menjadi pilihan bagi Anda yang ingin menikmati hasil panen sendiri. Salah satu di antaranya adalah kelengkeng yang mudah dirawat di praktis.
Namun, kelengkeng memiliki pertumbuhan batang dan cabang yang perlu dikendalikan sejak awal penanaman. Jika dibiarkan tumbuh tanpa pemangkasan, pohon bisa menjulang tinggi sehingga proses perawatan dan pemanenan kelak akan sulit.
Ada beberapa cara menanam kelengkeng dalam pot yang bisa dilakukan, mulai dari memilih bibit, menyiapkan media tanam, hingga mengatur pertumbuhan cabang. Bagi yang ingin memulainya, berikut 8 panduan untuk memelihara kelengkeng di pot besar, dirangkum Liputan6, Minggu (1/11).
Advertisement
1. Pilih Bibit Kelengkeng yang Berkualitas
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9386613/original/090697000_1793351880-2ae1c78e-3f87-4a18-bc74-142a6eb4ae18.jpg)
Pemilihan bibit menjadi langkah awal yang perlu diperhatikan saat menanam kelengkeng dalam pot besar. Sebaiknya pilih bibit hasil perbanyakan vegetatif, seperti cangkok atau sambung pucuk, dari varietas yang sesuai untuk ditanam di pekarangan. Bibit dari perbanyakan vegetatif umumnya lebih cepat memasuki masa berbuah dibandingkan tanaman yang berasal dari biji, meskipun waktu berbuah tetap dipengaruhi varietas dan kondisi perawatan.
Perhatikan kondisi batang, daun, dan akar sebelum membeli bibit. Pilih tanaman dengan batang kokoh, daun sehat, serta tidak menunjukkan tanda serangan hama atau penyakit. Bibit yang memiliki beberapa cabang sehat juga bisa memudahkan pembentukan tajuk agar pertumbuhannya tidak hanya mengarah ke atas.
Selain kesehatan tanaman, pertimbangkan karakter pertumbuhan varietas yang dipilih. Tanyakan kepada penjual mengenai asal bibit, umur tanaman, dan perkiraan karakter pertumbuhannya. Dengan memilih bibit yang sesuai, Anda bisa memulai pembentukan pohon sejak muda sehingga ukuran tajuk lebih mudah dikendalikan.
Advertisement
2. Gunakan Pot Besar dengan Drainase yang Baik
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5484259/original/058987500_1769417741-Penggantian_Media_Tanam___Pasca_Panen.jpg)
Pot besar memberikan ruang bagi akar kelengkeng untuk berkembang dan membantu menyediakan media tanam yang cukup bagi pertumbuhan tanaman. Pilih pot yang kokoh dan sesuai dengan ukuran bibit. Untuk tanaman yang akan dipelihara dalam jangka panjang, gunakan wadah yang memungkinkan akar berkembang tanpa membuat tanaman mudah roboh ketika tajuknya semakin lebar.
Pastikan bagian bawah pot memiliki lubang drainase agar air penyiraman bisa keluar dengan baik. Genangan air yang berlangsung lama dapat mengganggu kesehatan akar dan meningkatkan risiko pembusukan. Pot berbahan plastik tebal, semen, atau bahan lain yang tahan terhadap cuaca bisa digunakan sesuai kebutuhan dan kondisi halaman.
Meski demikian, pot besar tidak otomatis membuat pohon kelengkeng tumbuh pendek. Ukuran tanaman tetap dipengaruhi varietas, kondisi lingkungan, nutrisi, dan pemangkasan. Karena itu, gunakan pot yang memadai untuk mendukung kesehatan akar, kemudian kendalikan tinggi pohon melalui pembentukan tajuk dan pemangkasan secara berkala.
3. Siapkan Media Tanam yang Gembur
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5484252/original/060597400_1769417738-Racik_Media_Tanam_yang_Subur_dan_Gembur.jpg)
Media tanam yang gembur membantu akar kelengkeng memperoleh air, udara, dan nutrisi yang dibutuhkan untuk tumbuh. Tanaman yang dibudidayakan dalam pot memerlukan media dengan drainase baik karena air tidak bisa mengalir seluas ketika tanaman ditanam langsung di tanah. Media yang terlalu padat juga bisa menghambat perkembangan akar.
Anda bisa menggunakan campuran tanah, kompos matang, dan sekam bakar dengan perbandingan awal 1:1:1. Campurkan seluruh bahan hingga merata sebelum dimasukkan ke dalam pot. Kompos yang sudah matang membantu menambah bahan organik, sedangkan sekam bakar bisa membantu memperbaiki struktur media agar tidak mudah memadat.
Sesuaikan campuran tersebut dengan kondisi tanah dan bahan yang tersedia. Setelah media dimasukkan ke dalam pot, siram secukupnya untuk memeriksa aliran air. Jika air sulit keluar atau media terlalu lama basah, perbaiki komposisinya sebelum menanam kelengkeng. Media yang sesuai membantu menjaga akar tetap sehat sehingga tanaman bisa tumbuh dan dibentuk dengan baik.
Advertisement
4. Pangkas Pucuk Utama untuk Membentuk Tajuk
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9337237/original/012434200_1788238241-GI2iqFB1tx9Bjlq2lwcaKKXSjXK2lSxBOI65XhjR.jpg)
Pemangkasan pucuk utama merupakan salah satu cara untuk mengarahkan pertumbuhan kelengkeng agar tidak terus menjulang. Ketika tanaman sudah cukup kuat, pemangkasan pada bagian pucuk bisa merangsang pertumbuhan tunas samping. Tunas tersebut kemudian bisa dipilih untuk membentuk cabang utama yang menyebar ke beberapa arah.
Sebelum memangkas, tentukan tinggi pohon yang sesuai dengan kondisi halaman dan kebutuhan perawatan. Gunakan gunting pangkas yang tajam dan bersih agar potongan rapi. Hindari memangkas pucuk secara berlebihan ketika tanaman masih lemah, baru dipindahkan ke pot, atau sedang mengalami gangguan pertumbuhan.
Setelah pemangkasan, amati tunas baru yang muncul di sekitar bagian potongan. Pilih cabang yang sehat dan memiliki arah pertumbuhan sesuai dengan bentuk tajuk yang diinginkan. Dengan cara ini, kelengkeng bisa diarahkan untuk membentuk tajuk yang melebar sehingga perawatan dan pemanenan buah lebih mudah dilakukan.
5. Pangkas Tunas yang Tumbuh Tegak ke Atas
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9354926/original/035194000_1790066693-8d9deb1b-87d9-4bb3-8bfe-9953c6a1b184.jpg)
Tunas yang tumbuh tegak dan kuat dapat membuat kelengkeng kembali menjulang setelah pemangkasan bentuk dilakukan. Pertumbuhan tersebut perlu diperhatikan, terutama ketika tunas muncul dari batang utama atau cabang yang sebelumnya sudah dipangkas. Jika dibiarkan tanpa pengaturan, tunas tertentu bisa mendominasi pertumbuhan dan membuat tajuk kembali tinggi.
Periksa bagian batang dan cabang secara berkala untuk mengetahui arah pertumbuhan tunas. Pangkas tunas yang tidak diperlukan, terutama jika tumbuh ke bagian dalam tajuk, saling bertumpuk, atau mengganggu bentuk pohon. Namun, jangan langsung membuang semua tunas tegak karena beberapa di antaranya mungkin dibutuhkan untuk membentuk cabang utama.
Lakukan pemangkasan secara selektif dengan mempertimbangkan kondisi tanaman. Sisakan cabang yang sehat dan memiliki posisi baik untuk mendukung pertumbuhan daun serta pembentukan buah. Pengaturan tunas yang tepat membantu mempertahankan bentuk kelengkeng tanpa harus memangkas terlalu banyak bagian tanaman sekaligus.
Advertisement
6. Atur Cabang agar Tajuk Tidak Terlalu Rapat
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9354931/original/002556400_1790066694-ec76cc6f-f785-46c5-b3d2-7fc0c1ded38b.jpg)
Selain mengendalikan tinggi, pengaturan cabang diperlukan agar tajuk kelengkeng tidak tumbuh terlalu rapat. Cabang yang saling bertumpuk bisa menghalangi cahaya matahari masuk ke bagian dalam pohon. Kondisi tersebut juga membuat sirkulasi udara berkurang sehingga pemilik tanaman lebih sulit memeriksa daun dan cabang yang berpotensi terserang hama atau penyakit.
Pertahankan cabang utama yang sehat dan memiliki arah pertumbuhan berbeda. Pangkas cabang yang tumbuh ke bagian dalam tajuk, saling bergesekan, atau mengganggu keseimbangan bentuk pohon. Buang pula ranting yang kering dan patah agar tanaman tidak membuang energi untuk mempertahankan bagian yang sudah rusak.
Pengaturan cabang sebaiknya dilakukan secara bertahap agar tanaman tidak kehilangan terlalu banyak daun. Daun tetap dibutuhkan untuk proses fotosintesis yang mendukung pertumbuhan tanaman. Dengan tajuk yang terbuka dan seimbang, kelengkeng dalam pot bisa lebih mudah dirawat sekaligus memiliki ruang bagi pertumbuhan cabang produktif.
7. Berikan Pupuk Sesuai Kebutuhan Tanaman
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9354929/original/087002800_1790066693-34a6058e-f3b8-4e44-aa55-ce9891b93e14.jpg)
Pemupukan diperlukan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi kelengkeng selama masa pertumbuhan. Namun, pemberian pupuk yang berlebihan, terutama yang kaya nitrogen, bisa mendorong pertumbuhan daun dan tunas secara berlebihan. Karena itu, jumlah dan jenis pupuk perlu disesuaikan dengan umur tanaman, kondisi media, serta fase pertumbuhannya.
Gunakan kompos matang atau pupuk organik sebagai sumber bahan organik. Jika diperlukan, tambahkan pupuk majemuk sesuai dosis yang tercantum pada kemasan. Hindari menambahkan pupuk secara berulang tanpa memperhatikan kondisi tanaman karena penumpukan unsur hara tertentu bisa mengganggu pertumbuhan akar.
Perlu dipahami bahwa mengurangi pupuk secara berlebihan bukan cara yang tepat untuk membatasi tinggi pohon. Kelengkeng tetap membutuhkan nutrisi yang cukup untuk membentuk batang, daun, dan cabang yang sehat. Pengendalian tinggi sebaiknya dilakukan melalui pemangkasan, sedangkan pemupukan berfungsi menjaga kesehatan dan mendukung produktivitas tanaman.
Advertisement
8. Tips Pemeliharaan Berkala yang Bisa Dilakukan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9350051/original/023398900_1789554046-kelengkeng.jpg)
Setelah tajuk terbentuk, pemangkasan pemeliharaan perlu dilakukan agar tinggi kelengkeng tetap sesuai dengan ruang yang tersedia. Periksa pertumbuhan tunas dan cabang secara berkala, terutama ketika tanaman mulai tumbuh lebih lebat. Pemangkasan yang tepat membantu mempertahankan bentuk pohon sekaligus membuang bagian yang rusak atau tidak diperlukan.
Beberapa hal yang bisa dilakukan untuk menjaga kelengkeng tetap pendek dan mudah dirawat meliputi:
- Periksa pertumbuhan tunas dan cabang secara rutin.
- Pangkas bagian yang tumbuh melewati tinggi tajuk yang diinginkan.
- Buang cabang kering, patah, atau terserang penyakit.
- Pertahankan cabang sehat yang berpotensi menghasilkan bunga dan buah.
- Hindari pemangkasan berat ketika tanaman sedang berbunga atau mengembangkan buah.
- Gunakan alat pangkas yang tajam dan bersih untuk mengurangi risiko kerusakan jaringan.
- Sesuaikan intensitas pemangkasan dengan umur dan kondisi tanaman.
- Pemangkasan tidak perlu dilakukan secara berlebihan dalam satu waktu.
- Sisakan cukup daun dan cabang sehat agar tanaman tetap bisa melakukan fotosintesis dan mendukung pembentukan buah.
Dengan pemangkasan pemeliharaan yang sesuai, kelengkeng dalam pot besar bisa dipertahankan dalam ukuran yang lebih mudah dijangkau tanpa mengabaikan kesehatannya.
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Cara Menanam Kelengkeng dalam Pot Besar
1. Apakah kelengkeng bisa tumbuh subur dalam pot besar?
Ya, kelengkeng bisa tumbuh dalam pot besar jika memperoleh media tanam yang sesuai, sinar matahari cukup, air, dan nutrisi yang dibutuhkan. Pemangkasan juga diperlukan untuk mengatur bentuk serta ukuran tajuknya.
2. Bagaimana cara agar pohon kelengkeng tidak tumbuh terlalu tinggi?
Pangkas pucuk utama ketika tanaman sudah cukup kuat, kemudian pertahankan cabang samping untuk membentuk tajuk melebar. Lakukan pemangkasan pemeliharaan secara berkala agar pertumbuhan tunas yang terlalu tinggi bisa dikendalikan.
3. Berapa ukuran pot yang cocok untuk menanam kelengkeng?
Ukuran pot perlu disesuaikan dengan umur tanaman, ukuran bibit, dan perkembangan akarnya. Untuk budidaya jangka panjang, pilih pot besar yang menyediakan ruang akar memadai serta memiliki lubang drainase agar air tidak menggenang.
4. Apakah kelengkeng dalam pot bisa berbuah?
Ya, kelengkeng dalam pot bisa berbuah jika varietasnya sesuai, tanaman memperoleh sinar matahari dan nutrisi yang cukup, serta perawatannya dilakukan dengan tepat. Waktu berbuah bergantung pada varietas, asal bibit, umur tanaman, dan kondisi lingkungan.
5. Kapan waktu yang tepat untuk memangkas pohon kelengkeng?
Pemangkasan bentuk bisa dilakukan ketika tanaman sudah cukup kuat, sedangkan pemangkasan pemeliharaan dilakukan sesuai kebutuhan. Hindari pemangkasan berat ketika tanaman sedang berbunga atau mengembangkan buah agar tidak mengganggu proses pembentukan hasil panen.
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9349533/original/006044400_1789532857-HOAX__18_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5341096/original/044527500_1757304695-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran__63_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9348624/original/061599100_1789451727-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-09-15T125442.652.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4160798/original/079359000_1663319947-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9350049/original/015876500_1789554046-HL_Kelengkeng.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5437037/original/069686000_1765195130-WhatsApp_Image_2025-12-08_at_16.01.33.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3559193/original/024993600_1630573027-vlcsnap-2021-09-02-11h09m01s068__2_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9385978/original/063727200_1793288759-IMG-20261029-WA0009.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9385027/original/054806600_1793210212-WhatsApp_Image_2026-10-27_at_8.55.27_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9384251/original/014376200_1793163977-WhatsApp_Image_2026-10-26_at_16.11.48.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5193655/original/000476600_1745236051-ChatGPT_Image_Apr_21__2025__06_46_46_PM.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4058765/original/090496100_1655735658-Vaksinasi_Flu.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381694/original/075241200_1792850777-IMG-20261023-WA0078.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381185/original/054329400_1792762607-IMG-20261023-WA0048.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360246/original/072582700_1790602854-1000446717.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335798/original/047657000_1788064938-AI.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9379459/original/051652600_1792631921-WhatsApp_Image_2026-10-21_at_12.39.32.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9294472/original/059503800_1783838125-Pohon_Kelengkeng_yang_Pendek_Tapi_Berbuah_Lebat.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9354925/original/009223500_1790066693-d257ea62-9ca3-4131-9eb2-8f21c20c9aaa.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5562825/original/038877000_1776840762-pexels-quang-nguyen-vinh-222549-6870809.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5564036/original/087961100_1776923766-novila-misastra-5I4Yv4FsqTA-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9352821/original/090621500_1789873470-HL_pohon_kelengkeng.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5629942/original/031884900_1778227485-kelengkeng_4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9310872/original/091773200_1785378352-watermarked_img_9606818118915072403.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9350049/original/015876500_1789554046-HL_Kelengkeng.jpg)