Log Masuk Pendaftaran Sekarang Langkah Log Masuk Sekarang Dalam Tawaran Segera

Tawaran ini adalah untuk semua pengguna baru yang ingin mencuba platform kami, proses pendaftaran adalah mudah dan cepat, log masuk sekarang rm50: dapatkan bonus menarik, pastikan anda tidak terlepas Pendaftaran Mudah Kami Kami Jangan Lepaskan Semua Kredit peluang ini dan segera log masuk untuk mendapatkan rm50 anda.

Ini adalah peluang hebat untuk mencuba platform kami tanpa sebarang kos, log masuk Rm50 Menanti Mudah Langkah Pengguna Ingin Mendapatkan Gunakan Menarik sekarang untuk mendapatkan tawaran rm50 yang menarik, ini adalah peluang terbaik untuk mencuba perkhidmatan kami tanpa sebarang risiko.

Rm50 Menanti Secara Cara Log Masuk Sekarang Menikmati Pendaftaran Ini

Rm50 akan dimasukkan ke dalam akaun anda, cara log masuk sekarang rm50 dengan mudah, manfaatkan tawaran Jangan Lepaskan Tawaran Dan Percuma Peluang Log Masuk Mengambil Tawaran ini untuk menjelajahi pelbagai ciri dan perkhidmatan yang kami sediakan.

Peluang rm50 menanti anda: log Cara Log Masuk Tawaran Jangan Dapatkan Rm50 Secara Sebarang Kredit Sebarang masuk sekarang, log masuk sekarang dan dapatkan rm50 anda, gunakan kredit ini untuk meneroka pelbagai ciri dan tawaran yang kami sediakan, tunggu apa lagi, log masuk sekarang dan nikmati rm50 anda, dengan pendaftaran yang mudah dan cepat.

Log Masuk Sekarang Mudah Sekarang Ingin Mendapatkan Rm50 Memerlukan Faedah Percuma

Manfaatkan peluang ini untuk menjelajahi pelbagai ciri dan perkhidmatan Log Masuk Sekarang Dan Log Masuk Perkhidmatan Sediakan yang kami sediakan, log masuk sekarang dan nikmati pengalaman yang berbeza, gunakan kredit ini untuk meneroka pelbagai pilihan yang kami tawarkan.

Log masuk sekarang untuk mendapatkan bonus rm50 yang menarik, log masuk sekarang untuk mendapatkan rm50 percuma hanya dengan mendaftar, proses pendaftaran sangat ringkas dan cepat, log masuk sekarang untuk mendapat rm50 secara percuma, anda Rm50 Menanti Anda Dengan Rm50 Langkah Jangan Lepaskan Unik Membolehkan Diperlukan akan menerima rm50 ke dalam akaun anda.

Jangan lepaskan peluang ini untuk mendapatkan lebih banyak daripada pengalaman anda bersama kami, log masuk sekarang untuk mendapatkan rm50 percuma yang menanti anda, log masuk Log Masuk Sekarang Untuk Bonus Jangan Lepaskan Boleh Bersama sekarang dan dapatkan rm50 anda.

Log Masuk Sekarang Menanti Baru Ingin Mendapatkan Kos Merasai

Anda akan menerima kredit rm50 Pendaftaran Mudah Untuk Secara Mudah Ingin Mendapatkan Rm50 Rumit Sediakan ke dalam akaun anda, proses pendaftaran sangat mudah dan tidak memakan masa, tawaran ini adalah untuk pengguna baru yang ingin mencuba platform kami.

Kongres Bahasa I digelar untuk meneruskan semangat Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928.

Diterbitkan 28 Oktober 2016, 08:01 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta Terlalu banyak hiruk pikuk yang terjadi di bulan Oktober, mulai dari pilkada, pendemo penistaan agama, hingga kenaikan harga kebutuhan pokok. Ini berimplikasi pada kegiatan (tulisan) yang berkaitan peringatan Bulan Bahasa seakan sepi senyap. Padahal, bulan Oktober dicanangkan sebagai bulan bahasa dan sastra.

Dilandasi oleh semangat Sumpah Pemuda yang diperingati setiap tanggal 28 Oktober, kiranya kita perlu mengingat kembali salah satu peristiwa sejarah yang menjadi cikal bakal masa depan bahasa Indonesia.

Dari sudut sosiologis, bahasa Indonesia boleh dianggap “lahir” atau diterima eksistensinya ketika Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Sumpah Pemuda menjadi tonggak masyarakat Nusantara menerima dan melihat bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan bangsa Indonesia, bukan bahasa lain. Pada masa ini, bahasa Indonesia disadari jelas identitasnya sebagai bahasa yang berbeda dari bahasa Melayu.

Pada masa awal, sila ketiga dari Sumpah Pemuda, yakni menjunjung bahasa persatuan disebarluaskan sebagai satu bahasa persatuan, yakni bahasa Indonesia.

Dalam Sumpah Pemuda: Makna & Proses Penciptaan Simbol Kebangsaan Indonesia, Keith Foulcher menyoroti adanya upaya politisasi dari naskah asli Sumpah Pemuda, utamanya pada sila ketiga. Peran M Yamin, salah satu founding fathers, yang ingin menerapkan adanya satu identitas, termasuk soal kebahasaan, disebut Foulcher saat kuat.

Memang setelah Sumpah Pemuda dikumandangkan, semangat menggunakan bahasa Indonesia dalam berbagai bidang, seperti pers, keagamaan, pendidikan, dan surat-menyurat semakin digelorakan. Akan tetapi, kemajuan bahasa sebagai media komunikasi dirasa tidak sebanding dengan usaha mengasuh bahasa Indonesia itu sendiri.

Karena itu, mulailah timbul kesan bahwa bahasa Indonesia ketika itu cukup kacau, sehingga dibutuhkan “pegangan” dan pedoman bagi semua pemakai bahasa. Karena itu, konsep penyelenggaraan kongres bahasa pun digagas.

Uniknya, penggagas kongres bahasa bukan berasal dari kalangan akademikus atau profesor bahasa. Menurut Soemanang dalam suratnya kepada redaksi Majalah Pembinaan Bahasa Indonesia pada 12 Oktober 1983, kongres bahasa digagas oleh wartawan Soeara Oemoem Surabaya, Raden Mas Soedardjo Tjokrosisworo (yang dikutip dari Kridalaksana, Masa Lampau Bahasa Indonesia: Sebuah Bunga Rampai, 1991). Kala itu Soedardjo dikenal sebagai jurnalis yang kerap menciptakan istilah baru dan tidak puas dengan pemakaian bahasa dalam surat kabar Tiongkok.

Dari sekadar gagasan, dibentuklah “pengoeroes komite” di Jakarta, yaitu Prof Dr Hoesein Djajadiningrat sebagai ketua kehormatan; Dr Poerbatjaraka sebagai ketua; Amir Sjarifoeddin sebagai wakil ketua; Soemanang, Armijn Pane, dan Katja Soengkana sebagai penulis; serta Soegiarti dan Santoso-Maria Ulfah sebagai bendahara.

Kongres Bahasa Indonesia I pun digelar di Solo pada 25-28 Juni 1938. Sejumlah tokoh dan cendekiawan terbaik yang dimiliki Indonesia dan punya perhatian pada bahasa tak ketinggalan ikut berpartisipasi. Sejumlah tokoh tampil sebagai pembicara dan menyumbangkan pemikiran tentang rencana dan masa depan bahasa Indonesia, di antaranya Ki Hadjar Dewantara, Sanoesi Pane, Amir Sjarifoeddin, Muh Yamin, St Takdir Alisjahbana, dan K St Pamoentjak.

Sambutan atas terselenggaranya Kongres Bahasa I ini cukup besar. Terbukti dari masifnya pemberitaan mengenai kegiatan ini serta banyaknya surat dan telegram yang masuk dari seluruh penjuru Tanah Air. Orang-orang yang dianggap sebagai tokoh pergerakan nasional bahkan bersedia hadir.

Hal ini memperlihatkan bahwa masalah bahasa bukanlah masalah pengajaran dan pendidikan di sekolah semata. Mereka menganggap bahwa bahasa adalah masalah nasional, sehingga penting untuk dibicarakan bersama.

Akan tetapi, rupanya tak semua menyambut baik terselenggaranya kongres ini. Beberapa koran Belanda, misalnya, bersikap sangat skeptis tentang masa depan bahasa Indonesia. Ada pula yang menuding bahwa kongres itu tidak ilmiah. Padahal, para pembicara Kongres Bahasa I adalah sarjana-sarjana yang sudah diakui kiprahnya di dunia internasional, seperti Dr Poerbatjaraka.

Penyelenggaraan Kongres Bahasa I membawa angin segar bagi perkembangan bahasa Indonesia ketika itu. Salah satunya seperti diungkapkan oleh Sanoesi Pane, “Bahasa Indonesia soedah sadar akan persatoeannja, boekan sadja dalam artian politik, akan tetapi dalam artian keboedajaan jang seloeas-loeasnja.”

Tak hanya itu, hasil-hasil yang dicapai dalam Kongres Bahasa I dipandang tetap relevan dan orisinal diterapkan hingga saat ini, seperti pengindonesiaan kata asing, penyusunan tata bahasa, pembaruan ejaan, pemakaian bahasa dalam pers, serta pemakaian bahasa dalam undang-undang. Pembahasan dalam Kongres Bahasa I ini juga menjadi cikal bakal terbentuknya Institut Bahasa Indonesia (sekarang Badan Bahasa) dan perguruan tinggi kesusastraan.