Liputan6.com, Jakarta - Pernah memperhatikan seseorang yang memisahkan nasi dan lauk ketika makan? Misalnya, nasinya akan mereka letakkan di satu sisi piring, sementara ayam, sayuran, sambal, dan lauk lainnya disusun di sisi yang lain secara terpisah agar tidak bercampur. Bahkan, sebagian orang mungkin merasa kurang nyaman jika kuah sayur atau saus mengenai nasi sebelum mereka mulai makan.
Kebiasaan tersebut mungkin menunjukkan bahwa mereka orang-orang yang perfeksionis, teliti, atau menyukai keteraturan. Namun, benarkah orang yang suka memisahkan lauk dan nasi memiliki kepribadian seperti itu? Dalam psikologi, kebiasaan makan memang dapat berkaitan dengan preferensi sensorik dan pola perilaku seseorang. Meski demikian, satu kebiasaan di meja makan belum cukup untuk menyimpulkan karakter atau kepribadian seseorang.
1. Menyukai Keteraturan dan Sesuatu yang Terorganisasi
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9365617/original/042955600_1791187258-01M45DMPJ8VXV3PRP9N1AFM78Z.jpg)
Orang yang senang memisahkan nasi dan lauk terkadang memiliki preferensi terhadap sesuatu yang terlihat rapi dan terorganisasi. Mereka mungkin merasa lebih nyaman jika setiap makanan memiliki tempat tersendiri di piring, dibandingkan ketika seluruh hidangan tercampur menjadi satu.
Kecenderungan menyukai keteraturan memang dapat ditemukan pada individu yang memiliki sifat conscientiousness atau kesadaran dan kedisiplinan dalam kepribadian. Karakteristik ini berkaitan dengan ketelitian, tanggung jawab, dan kebiasaan mengatur sesuatu secara sistematis. Namun, kebiasaan ini juga tidak selalu menjadi bukti bahwa seseorang memiliki tingkat conscientiousness yang tinggi.
Perlu dibedakan pula antara menyukai keteraturan dan perfeksionisme. Seseorang bisa saja senang melihat piring makannya tertata rapi tanpa merasa harus membuat segala sesuatu berjalan sempurna. Dalam kehidupan sehari-hari, preferensi seperti ini bisa menjadi bagian dari kenyamanan pribadi, bukan tanda adanya masalah psikologis.
Advertisement
2. Memiliki Sensitivitas terhadap Tekstur dan Rasa Makanan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5495295/original/038184400_1770364195-Gemini_Generated_Image_r0ho4dr0ho4dr0ho.png)
Salah satu penjelasan yang lebih relevan untuk kebiasaan memisahkan makanan adalah sensitivitas sensorik. Sebagian orang mempunyai preferensi yang cukup kuat terhadap tekstur, rasa, aroma, maupun tampilan makanan. Mereka mungkin lebih menyukai nasi yang tetap pulen dan tidak terlalu basah karena tercampur kuah atau saus dari lauk.
Penelitian berjudul Adult Picky Eating: Phenomenology, Taste Sensitivity, and Psychological Correlates yang diterbitkan dalam jurnal Appetite pada 2015 menemukan bahwa orang dewasa yang mengidentifikasi dirinya sebagai pemilih makanan lebih sering menolak makanan berdasarkan karakteristik sensoriknya. Hal tersebut mencakup rasa, warna, tekstur, hingga makanan yang saling bersentuhan di atas piring.
Temuan tersebut memberikan gambaran bahwa kebiasaan memisahkan makanan tidak selalu berhubungan dengan keinginan mengatur segala sesuatu. Bisa jadi, seseorang hanya ingin menikmati setiap hidangan dengan karakteristik rasa dan tekstur yang tetap terasa jelas. Bagi mereka, nasi yang terkena kuah terlalu banyak mungkin menghasilkan sensasi makan yang kurang menyenangkan.
3. Cenderung Selektif dalam Memilih Makanan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9389517/original/054390400_1793754125-02d5e901-b754-414d-8c8b-ef6d274d4a27.jpg)
Kebiasaan memisahkan lauk dan nasi juga dapat berkaitan dengan karakter pemilih makanan atau picky eater. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan seseorang yang cenderung memiliki pilihan makanan yang terbatas atau menolak hidangan tertentu dengan alasan rasa, aroma, tampilan, maupun teksturnya.
Orang dengan kecenderungan tersebut mungkin tidak keberatan menyantap ayam, sayur, dan nasi secara bersamaan. Namun, mereka akan lebih menyukai setiap komponen makanan tetap berada di tempat terpisah. Mereka juga bisa merasa kurang nyaman ketika dua jenis makanan dengan tekstur berbeda tercampur sebelum disantap.
Dalam penelitian yang sama terhadap orang dewasa, kebiasaan menghindari makanan yang bersentuhan di piring ditemukan lebih sering pada kelompok yang mengidentifikasi dirinya sebagai pemilih makanan. Meski begitu, penelitian tersebut tidak membuktikan bahwa setiap orang yang memisahkan nasi dan lauk termasuk picky eater. Preferensi terhadap makanan bisa berbeda-beda, dan kebiasaan tersebut perlu dilihat bersama perilaku lainnya.
Advertisement
4. Menyukai Rutinitas dan Memiliki Preferensi yang Konsisten
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9389516/original/019310000_1793753855-f3154590-54e8-4dd3-8370-6ff9e12d0392.jpg)
Sebagian orang merasa lebih nyaman ketika menjalankan aktivitas dengan cara yang sudah biasa dilakukan. Hal tersebut juga dapat terlihat saat mereka makan, misalnya dengan menempatkan nasi di sisi kanan piring, menyantap lauk terlebih dahulu, atau tidak ingin mengubah susunan makanan yang sudah mereka tata di piring.
Kebiasaan semacam ini mencerminkan preferensi terhadap rutinitas. Seseorang mungkin merasa lebih nyaman karena sudah mengetahui urutan dan cara menikmati makanannya. Dalam konteks tertentu, rutinitas juga membantu aktivitas sehari-hari terasa lebih teratur dan mudah diprediksi.
Namun, menyukai rutinitas bukan berarti seseorang memiliki gangguan obsesif-kompulsif atau OCD. Penelitian mengenai perilaku makan orang dewasa memang menemukan adanya perbedaan gejala obsesif-kompulsif pada kelompok pemilih makanan, tetapi temuan tersebut tidak bisa digunakan untuk mendiagnosis seseorang hanya berdasarkan kebiasaan memisahkan hidangan. Selama kebiasaan tersebut tidak menimbulkan tekanan atau mengganggu aktivitas, tidak ada alasan untuk langsung menganggapnya sebagai masalah psikologis.
Apakah Kebiasaan Memisahkan Nasi dan Lauk Menandakan Perfeksionisme?
Perfeksionisme merupakan kecenderungan menetapkan standar yang sangat tinggi terhadap diri sendiri, disertai keinginan untuk mencapai hasil yang dianggap sempurna. Orang dengan karakteristik ini bisa merasa tidak puas ketika sesuatu tidak berjalan sesuai harapan atau standar yang telah ditetapkan.
Penelitian berjudul Disordered Eating, Perfectionism, and Food Rules yang diterbitkan dalam jurnal Eating Behaviors pada 2012 menemukan adanya hubungan antara perfeksionisme yang berorientasi pada diri sendiri dan kepatuhan terhadap aturan makan tertentu. Penelitian tersebut melibatkan 48 mahasiswi dan menunjukkan bahwa aturan makan dapat menjadi salah satu mekanisme yang berkaitan dengan gejala perilaku makan tidak sehat pada sampel penelitian tersebut.
Temuan ini memang memberikan gambaran bahwa karakter perfeksionis bisa berkaitan dengan aturan atau standar tertentu saat makan. Namun, penelitian tersebut tidak secara khusus menguji kebiasaan memisahkan nasi dan lauk. Karena itu, tidak tepat apabila kebiasaan tersebut langsung dianggap sebagai bukti bahwa seseorang mempunyai kepribadian perfeksionis.
Gambaran yang lebih luas juga terlihat dalam tinjauan meta-analisis tentang hubungan kepribadian dan pola makan yang diterbitkan dalam Journal of Personality and Social Psychology pada 2025. Penelitian yang menganalisis 49 artikel dengan total 151.750 partisipan menemukan hubungan antara beberapa dimensi kepribadian Big Five dan komponen pola makan. Salah satunya adalah conscientiousness yang memiliki hubungan positif dengan pola makan lebih sehat. Namun, hubungan tersebut tidak membuktikan bahwa sifat teliti membuat seseorang harus memisahkan makanan di piringnya.
Advertisement
Kapan Kebiasaan Ini Perlu Diperhatikan?
Pada umumnya, memisahkan nasi dan lauk merupakan preferensi pribadi yang tidak perlu dikhawatirkan. Seseorang boleh saja menikmati makanan dengan cara tertentu selama tetap bisa memenuhi kebutuhan nutrisinya dan tidak mengalami kesulitan dalam aktivitas sehari-hari.
Hal yang perlu diperhatikan adalah ketika aturan makan menjadi sangat kaku dan menimbulkan tekanan. Misalnya, seseorang merasa sangat cemas ketika makanan bersentuhan, menolak hampir semua hidangan yang tidak disajikan sesuai keinginannya, atau kesulitan makan ketika berada di luar rumah.
Kondisi tersebut perlu dilihat secara lebih menyeluruh, terutama apabila pilihan makanan semakin terbatas, berat badan atau asupan nutrisi terganggu, maupun aktivitas sosial menjadi terhambat. Jika sudah menimbulkan masalah seperti itu, berkonsultasi dengan psikolog atau tenaga kesehatan dapat membantu memahami penyebab dan menentukan langkah yang tepat.
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Karakter Orang yang Suka Memisahkan Lauk dan Nasi
1. Apakah orang yang suka memisahkan nasi dan lauk termasuk perfeksionis?
Belum tentu. Kebiasaan tersebut bisa berkaitan dengan preferensi pribadi, sensitivitas terhadap tekstur makanan, atau keinginan menikmati rasa setiap hidangan secara terpisah. Tidak cukup bukti untuk menjadikannya penanda kepribadian perfeksionis.
2. Mengapa ada orang yang tidak suka makanannya saling bersentuhan?
Sebagian orang lebih menyukai tekstur, aroma, dan rasa setiap makanan tetap terpisah. Ada pula yang memiliki sensitivitas sensorik sehingga kurang nyaman ketika beberapa jenis makanan tercampur.
3. Apakah memisahkan makanan termasuk ciri picky eater?
Bisa menjadi salah satu perilaku yang ditemukan pada pemilih makanan, tetapi bukan satu-satunya penentu. Penilaian juga perlu mempertimbangkan variasi makanan yang dikonsumsi dan alasan seseorang menolak hidangan tertentu.
4. Apakah kebiasaan memisahkan makanan berhubungan dengan OCD?
Tidak selalu. Kebiasaan tersebut tidak otomatis menunjukkan seseorang mengalami OCD. Diagnosis membutuhkan pemeriksaan menyeluruh terhadap gejala, tingkat tekanan psikologis, dan dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari.
5. Apakah kebiasaan makan bisa menggambarkan kepribadian seseorang?
Kebiasaan makan dapat memiliki hubungan dengan beberapa karakteristik kepribadian, tetapi hubungannya tidak bersifat mutlak. Penilaian kepribadian perlu mempertimbangkan berbagai perilaku dan pola yang muncul dalam kehidupan seseorang.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9344440/original/084293900_1788945337-cek_fakta_PGI.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9315872/original/087159700_1785900314-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-08-05T102428.295.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9388810/original/006254700_1793683157-Screenshot_2026-11-03_115910.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9323076/original/064136000_1786599582-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-08-13T123857.729.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9389515/original/085502000_1793753801-ea64dd35-1e86-43c6-b7d3-dba7755b2956.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355055/original/082772300_1790070742-roman-budnikov-LrmVfNfhFOw-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9387840/original/049454400_1793576292-S__73179165.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5437037/original/069686000_1765195130-WhatsApp_Image_2025-12-08_at_16.01.33.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3559193/original/024993600_1630573027-vlcsnap-2021-09-02-11h09m01s068__2_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9385978/original/063727200_1793288759-IMG-20261029-WA0009.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9385027/original/054806600_1793210212-WhatsApp_Image_2026-10-27_at_8.55.27_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9384251/original/014376200_1793163977-WhatsApp_Image_2026-10-26_at_16.11.48.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5193655/original/000476600_1745236051-ChatGPT_Image_Apr_21__2025__06_46_46_PM.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9382249/original/070234100_1792985471-WhatsApp_Image_2026-10-25_at_09.42.1222.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4058765/original/090496100_1655735658-Vaksinasi_Flu.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381694/original/075241200_1792850777-IMG-20261023-WA0078.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381185/original/054329400_1792762607-IMG-20261023-WA0048.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9388446/original/097937600_1793614311-pexels-felicity-tai-7964517.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4820403/original/009124500_1714707157-close-up-happy-friends-laughing.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9387866/original/035827200_1793583430-Gemini_Generated_Image_izkspiizkspiizks.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9387435/original/097554600_1793503123-pexels-bertellifotografia-29284258.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374094/original/006145900_1792035659-01M4WRR8E3QD6P0EG9V5PYFQDP.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9380230/original/044857100_1792661495-01M5GV9V7TCGV7BMWF8NZD3372.jpg)