Liputan6.com, Jakarta - Persaingan di kantor merupakan hal yang wajar di dalam dunia profesional. Setiap orang memiliki target, tanggung jawab, dan keinginan untuk berkembang dalam pekerjaannya. Namun, persaingan bisa berubah menjadi masalah ketika ada rekan kerja yang menunjukkan perilaku toxic, seperti menjatuhkan orang lain demi kepentingan pribadi.
Keberadaan rekan kerja toxic bisa mempengaruhi kenyamanan kerja di kantor. Seseorang bisa merasa malas berangkat kerja, enggan terlibat dalam diskusi, bahkan kehilangan semangat untuk menyelesaikan tugas. Kondisi ini juga dapat mengganggu kerja sama karena hubungan yang seharusnya dibangun atas dasar kepercayaan mulai dipenuhi konflik.
Mengenali ciri rekan kerja toxic menjadi salah satu cara untuk memahami perilaku yang dapat mengganggu hubungan profesional. Inilah beberapa tanda yang bisa Anda amati yang dilansir Liputan6.com dari berbagai sumber, (Kamis 5/11/2026).
Advertisement
1. Selalu Melempar Tanggung Jawab ke Orang Lain
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9391146/original/051007600_1793874541-106300.jpg)
Satu ciri yang paling mudah dikenali adalah kebiasaan melempar kesalahan ke orang lain. Begitu ada masalah, orang ini langsung mencari siapa yang bisa disalahkan, bukan mencari jalan keluar. Pola ini sering membuat rekan satu tim jadi was-was setiap kali ada pekerjaan yang hasilnya belum pasti.
Bill Eddy, penulis dan pakar kepribadian konflik tinggi dari Psychology Today, menulis bahwa orang dengan pola ini tidak benar-benar punya empati pada orang yang dijadikan sasaran kesalahan. Kebiasaan melempar tanggung jawab ini akhirnya membuat tim sulit belajar dari kesalahan karena fokusnya selalu mencari kambing hitam.
Advertisement
2. Mengklaim Hasil Kerja Orang Lain
Selain itu, rekan kerja yang toxic punya kebiasaan mengambil kredit atas kerja keras orang lain. Ide yang sebenarnya berasal dari rekan kerja atau tim, tiba-tiba disampaikan seolah itu hasil pemikirannya sendiri saat presentasi di depan atasan. Kebiasaan ini pelan-pelan mengikis rasa percaya antar anggota tim.
Ketidakadilan semacam ini tidak disukai siapa pun di tempat kerja dan bisa memicu kekecewaan dan perselisihan. Kalau dibiarkan terus menerus, anggota tim yang sering dirugikan biasanya jadi malas berbagi ide baru karena takut diambil alih lagi.
3. Bersikap Pasif-Agresif
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9391147/original/027795000_1793874542-4712.jpg)
Tidak semua konflik disampaikan secara terbuka. Sebagian orang memilih cara halus, misalnya menunda pekerjaan tim tanpa alasan jelas, atau melempar sindiran lewat kalimat yang terdengar sopan tapi menyakitkan. Jenis perilaku ini justru lebih sulit ditangani karena tidak ada percakapan konflik secara langsung.
Signe Whitson, penulis sekaligus pakar perilaku di Psychology Today, menjelaskan bahwa orang dengan kebiasaan ini selalu punya alasan yang terdengar masuk akal untuk setiap tindakannya. Akibatnya, korban sering disalahkan balik saat mencoba membicarakan masalah secara terbuka dengan orang tersebut.
Advertisement
4. Suka Menyebarkan Gosip
Obrolan ringan di pantry sebenarnya wajar, tapi ini bisa jadi masalah kalau isinya membicarakan kekurangan orang lain tanpa izin. Rekan kerja seperti ini biasanya tahu informasi pribadi tim lebih cepat daripada siapa pun, lalu menyebarkannya kepada orang lain tanpa mempertimbangkan dampaknya pada hubungan kerja sehari-hari.
Kebiasaan ini pelan-pelan merusak kepercayaan dalam tim karena setiap orang jadi ragu untuk membagikan masalah pribadi atau pekerjaan. Lingkungan kerja yang penuh gosip membuat orang lebih waspada dan menjaga jarak, sehingga kerja sama tim ikut terganggu dalam jangka panjang dan sulit diperbaiki begitu saja.
5. Mengkritik di Depan Banyak Orang
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9391148/original/016478000_1793874543-2149361828.jpg)
Kritik sebenarnya penting untuk perbaikan kerja, tapi cara penyampaiannya menentukan apakah itu membangun atau justru menjatuhkan semangat. Rekan kerja toxic biasanya memilih momen rapat besar atau grup kerja untuk menunjukkan kesalahan orang lain, bukan membicarakannya secara empat mata lebih dulu.
Cara ini membuat orang yang dikritik merasa dipermalukan di depan rekan kerjanya sendiri. Lama-lama, korban kritik publik seperti ini jadi enggan mengambil inisiatif baru karena takut kesalahan kecil akan dibesar-besarkan lagi di hadapan banyak orang pada kesempatan berikutnya.
Advertisement
6. Gemar Memainkan Peran Korban
Saat ditegur soal perilakunya, orang ini sering membalikkan keadaan seolah dirinya yang diperlakukan tidak adil. Taktik ini membuat orang lain ragu untuk menegur lagi karena takut dianggap terlalu keras atau tidak berperasaan terhadap rekan kerjanya sendiri di kemudian hari.
Pola ini biasanya berulang setiap kali ada masukan atau teguran yang masuk dari tim maupun atasan. Akibatnya, masalah yang sebenarnya perlu dibahas malah teralihkan ke drama baru, dan rekan kerja lain jadi lebih memilih diam daripada menghadapi reaksi berlebihan seperti ini lagi.
7. Tidak Menghargai Batasan Rekan Kerja
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9391149/original/003185900_1793874544-3120.jpg)
Beberapa orang terbiasa menghubungi rekan kerja di luar jam kantor untuk urusan yang sebenarnya bisa menunggu esok hari. Ada juga yang masuk ke meja kerja orang lain tanpa izin, atau memaksakan pendapat soal urusan pribadi rekannya tanpa diminta.
Kebiasaan ini membuat batas antara kerja dan waktu pribadi jadi kabur bagi orang di sekitarnya. Semakin sering batasan itu dilanggar, semakin besar pula rasa lelah yang muncul karena waktu istirahat jadi ikut terganggu oleh urusan kantor yang sebenarnya bisa ditunda.
Advertisement
8. Kompetitif Secara Tidak Sehat
Persaingan di tempat kerja sebenarnya wajar selama caranya adil dan terbuka. Masalah muncul ketika seseorang sengaja menjatuhkan rekan kerja lain demi terlihat lebih unggul, misalnya menyembunyikan informasi penting atau sengaja memperlambat pekerjaan tim lain tanpa alasan jelas.
Sikap ini membuat suasana kerja berubah jadi arena saling curiga, bukan lagi tempat kerja sama yang sehat. Rekan kerja yang jadi sasaran biasanya mulai menutup diri dan enggan berbagi informasi, karena khawatir hal itu dipakai untuk menjatuhkannya lagi di kemudian hari.
Pertanyaan Seputar Ciri Rekan Kerja Toxic
1. Apa ciri utama rekan kerja toxic yang paling sering ditemui?
Kebiasaan melempar tanggung jawab dan mengklaim hasil kerja orang lain termasuk yang paling sering dikeluhkan karena langsung terasa dampaknya pada penilaian kerja seseorang.
2. Bagaimana cara menghadapi rekan kerja yang suka lempar tanggung jawab?
Dokumentasikan pekerjaan secara tertulis lewat email atau catatan rapat, sehingga ada bukti jelas siapa mengerjakan apa kalau suatu saat dibutuhkan.
3. Apakah rekan kerja pasif-agresif bisa berubah?
Bisa, asalkan ada komunikasi terbuka dan konsisten. Namun perubahan biasanya butuh waktu karena pola ini sering sudah terbentuk sejak lama.
4. Haruskah masalah dengan rekan kerja toxic selalu dilaporkan ke atasan atau HR?
Tidak selalu harus langsung, tapi kalau perilakunya sudah mengganggu pekerjaan secara terus menerus, melibatkan atasan atau HR jadi langkah yang wajar diambil.
5. Apa dampak jangka panjang bekerja dengan rekan kerja toxic?
Dampaknya bisa berupa kelelahan emosional, menurunnya motivasi kerja, sampai keinginan untuk resign kalau situasinya dibiarkan tanpa penanganan.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9317894/original/043579200_1786076765-Screenshot_2026-08-07_110222.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6126278/original/025631900_1779010300-Tugas__13_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9317863/original/052285500_1786075641-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-08-07T110613.668.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9390996/original/082942600_1793869035-prabowo_listrik_cek_fakta.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9391145/original/079832900_1793874540-12325__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4653599/original/043466900_1700279714-WhatsApp_Image_2023-11-18_at_10.51.59.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355055/original/082772300_1790070742-roman-budnikov-LrmVfNfhFOw-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9387840/original/049454400_1793576292-S__73179165.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5437037/original/069686000_1765195130-WhatsApp_Image_2025-12-08_at_16.01.33.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3559193/original/024993600_1630573027-vlcsnap-2021-09-02-11h09m01s068__2_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9385978/original/063727200_1793288759-IMG-20261029-WA0009.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9385027/original/054806600_1793210212-WhatsApp_Image_2026-10-27_at_8.55.27_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9384251/original/014376200_1793163977-WhatsApp_Image_2026-10-26_at_16.11.48.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5193655/original/000476600_1745236051-ChatGPT_Image_Apr_21__2025__06_46_46_PM.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9382249/original/070234100_1792985471-WhatsApp_Image_2026-10-25_at_09.42.1222.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4058765/original/090496100_1655735658-Vaksinasi_Flu.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381694/original/075241200_1792850777-IMG-20261023-WA0078.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4817822/original/013628500_1714478935-pexels-alexander-suhorucov-6457537.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3978771/original/031585400_1648575551-Dana_Darurat.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9391137/original/005951500_1793873374-HL_Oleh_oleh.jpg)