Liputan6.com, Brasilia - Luiz Inacio Lula da Silva atau Lula da Silva mencetak sejarah pada Minggu (25/10/2026).
Ia menjadi presiden pertama Brasil yang berhasil memenangkan pemilu presiden (Pilpres) untuk masa jabatan keempat. Kemenangan itu diraihnya hanya beberapa hari menjelang ulang tahunnya yang ke-81, usia ketika banyak pemimpin dunia memilih untuk pensiun dari panggung politik.
Keberhasilan Lula membalikkan keadaan dan mengalahkan pesaingnya dari kubu sayap kanan, Flavio Bolsonaro, mencatatkan rekor tersendiri. Sejak Brasil kembali menjadi negara demokrasi pada 1985, belum pernah ada calon presiden yang mampu membalikkan kekalahan pada putaran pertama menjadi kemenangan pada putaran kedua.
Advertisement
Dalam tiga pekan menjelang putaran kedua, Lula yang diusung Partai Pekerja berhasil menambah lebih dari 10 juta suara. Sebaliknya, tambahan suara yang diperoleh Flavio hanya sekitar 3,6 juta.
Keunggulan Lula kali ini, menurut laporan CNN, bahkan lebih besar dibandingkan saat ia mengalahkan Jair Bolsonaro, ayah Flavio yang ketika itu menjabat sebagai presiden, dalam Pilpres 2022.
Kemenangan tersebut sekaligus mengukuhkan posisi Lula sebagai tokoh utama kelompok kiri di Amerika Latin, di tengah menguatnya pengaruh politik sayap kanan di berbagai negara kawasan tersebut.
Seperti yang dilakukan ayahnya empat tahun lalu, Flavio menolak mengakui hasil pemilu. Ia mengumumkan rencana untuk menempuh jalur hukum guna membatalkan hasil pemilihan.
Flavio, yang merupakan anggota Senat Brasil, mempersoalkan keputusan Hakim Mahkamah Agung Federal Cristiano Zanin untuk memperpanjang waktu pemungutan suara selama dua jam. Menurutnya, kebijakan yang tidak diberlakukan secara merata itu telah mengganggu prinsip kesetaraan kesempatan bagi para pemilih.
"Dengan melihat situasi yang terjadi, mustahil bagi kami untuk mengakui hasil pemilu ini," kata Flavio.
Padahal, tim kampanye Flavio sebelumnya juga sempat meminta perpanjangan waktu pemungutan suara di sejumlah wilayah. Permintaan itu diajukan karena hujan deras menyulitkan warga untuk mencapai tempat pemungutan suara.
Pada Senin, Flavio mengatakan polisi Brasil telah meminta paspornya dan memberitahukan bahwa ia dilarang meninggalkan negara tersebut. Hal itu terjadi setelah ia mengunjungi ayahnya yang tengah menjalani tahanan rumah.
Melalui video yang diunggah di Instagram, Flavio membantah memiliki rencana untuk pergi dari Brasil.
CNN telah menghubungi Kepolisian Federal Brasil untuk meminta tanggapan mengenai pernyataan tersebut, tetapi hingga berita ini ditulis belum mendapatkan jawaban.
Penolakan Flavio untuk mengakui hasil pemilu tidak menyurutkan perayaan kemenangan bersejarah Lula. Namun, dominasi kelompok sayap kanan di parlemen berpotensi menyulitkan jalannya pemerintahan pada masa jabatan berikutnya.
Situasi inilah yang menjadi tantangan besar bagi Lula. Di satu sisi, ia meraih kemenangan bersejarah dalam pemilu. Di sisi lain, ruang geraknya untuk menjalankan pemerintahan justru semakin terbatas.
Bagaimana Lula Berhasil Membalikkan Keadaan?
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9382196/original/034034600_1792980169-Untitled.jpg)
Perubahan peta perolehan suara di sejumlah wilayah menjadi salah satu kunci kemenangan Lula setelah sempat tertinggal pada putaran pertama.
Di Minas Gerais, negara bagian dengan jumlah pemilih terbesar kedua di Brasil, Lula berhasil membalikkan kekalahan dengan selisih hampir 590.000 suara menjadi keunggulan sekitar 99.000 suara. Dengan demikian, selisih perolehan suara kedua kandidat bergeser sekitar 690.000 suara ke arah Lula.
Minas Gerais memiliki rekam jejak politik yang menarik. Sejak 1989, negara bagian ini selalu memberikan suara terbanyak kepada kandidat yang kemudian memenangkan pemilihan presiden secara langsung. Pola tersebut kembali terulang dalam pemilu kali ini.
Sementara itu, Flavio tetap unggul di Negara Bagian Sao Paulo dan Rio de Janeiro. Namun, Lula berhasil memenangkan pemungutan suara di ibu kota masing-masing negara bagian, yakni Kota Sao Paulo dan Kota Rio de Janeiro, yang merupakan dua kota terbesar di Brasil. Khusus di Kota Rio de Janeiro, Lula mampu membalikkan kekalahannya pada putaran pertama.
Kemenangan Lula ditopang pula oleh keberhasilannya menguasai seluruh sembilan negara bagian di kawasan timur laut Brasil serta meningkatnya jumlah pemilih yang datang ke tempat pemungutan suara.
Persentase warga yang tidak menggunakan hak pilih turun dari 21,08 persen pada putaran pertama menjadi sekitar 19,2 persen pada putaran kedua. Penurunan angka golput ini membuat hampir tiga juta lebih banyak warga Brasil ikut memberikan suara.
Memang, tidak semua pemilih tambahan tersebut dapat dipastikan memilih Lula. Namun, peningkatan partisipasi itu menunjukkan pentingnya upaya mengajak warga yang sebelumnya tidak mencoblos untuk menggunakan hak pilih mereka.
Pertarungan kedua kandidat berlangsung sengit di ruang digital.
Setelah kalah pada putaran pertama, Lula menggencarkan kampanye melalui berbagai platform digital untuk menjangkau lebih banyak pemilih dan memastikan dukungan yang telah diperolehnya benar-benar menghasilkan suara.
Tantangannya bukan hanya meyakinkan warga yang belum menentukan pilihan, melainkan juga memastikan para pendukungnya datang ke tempat pemungutan suara.
Menjelang putaran kedua, Lula turut mengeluarkan sejumlah kebijakan dan menawarkan program yang berkaitan langsung dengan persoalan sehari-hari masyarakat.
Ia mengesahkan undang-undang yang menaikkan batas pendapatan bagi pelaku usaha mikro perorangan, mengusulkan program baru untuk membantu masyarakat merundingkan ulang pembayaran utang konsumsi, serta menyuarakan penghentian perjudian daring yang perkembangannya turut memperburuk persoalan utang rumah tangga.
Dalam bidang keamanan, Lula mendukung penurunan batas usia seseorang dapat dimintai pertanggungjawaban pidana untuk kejahatan tertentu yang tergolong sangat berat.
Usulan tersebut selama ini lebih identik dengan kelompok sayap kanan. Namun, Lula mengambil sikap serupa untuk menjawab tuntutan masyarakat yang menginginkan tindakan lebih tegas terhadap kejahatan.
Advertisement
Sejumlah Tantangan Berat Menanti Lula
Setelah merayakan kemenangan, Lula harus menghadapi tantangan besar di parlemen.
Partai-partai sayap kanan akan menguasai 303 dari total 513 kursi di Majelis Rendah Brasil. Sementara itu, kelompok kiri memiliki 124 kursi dan kelompok tengah menguasai 86 kursi.
Di Senat, kelompok kanan bahkan akan mengendalikan hampir dua pertiga kursi.
Meski demikian, bukan berarti semua anggota parlemen dari kubu kanan akan otomatis menentang pemerintahan Lula.
Namun, komposisi tersebut membuat Lula harus menjalin kerja sama dengan partai-partai di luar koalisi pendukungnya. Dukungan itu diperlukan bukan hanya untuk meloloskan berbagai program, tetapi juga untuk mempertahankan agenda utama pemerintahannya.
Kekuatan kelompok konservatif juga terlihat dari peta pemerintahan di tingkat negara bagian.
Lula harus mampu membangun hubungan dan bernegosiasi dengan para gubernur, sebab keberhasilan pelaksanaan kebijakan pemerintah pusat turut bergantung pada kerja sama dengan pemerintah negara bagian.
"Setelah kita memenangkan pemilu, tidak ada lagi lawan politik. Saya harus memimpin pemerintahan untuk 215 juta orang," kata Lula dalam pidato kemenangannya.
Ia juga menanggapi tantangan bekerja sama dengan parlemen yang kini semakin didominasi kelompok konservatif.
"Bukan saya yang memilih anggota Kongres, melainkan rakyat. Karena itu, dengan Kongres yang dipilih rakyat inilah saya akan mengambil keputusan melalui pemungutan suara, bekerja, dan mewujudkan berbagai program," ujarnya.
Di luar urusan politik, tantangan paling mendesak bagi Lula adalah memastikan perbaikan ekonomi benar-benar dirasakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.
Ketidakpuasan masyarakat terhadap kondisi perekonomian menjadi salah satu penyebab utama merosotnya dukungan terhadap Lula selama masa kampanye.
Namun, memenuhi harapan tersebut tidak akan mudah karena pemerintah menghadapi keterbatasan anggaran.
Beban utang negara, defisit anggaran, dan tingginya suku bunga membatasi kemampuan pemerintah untuk menambah belanja. Kondisi ini juga berpotensi memicu perdebatan mengenai cara membiayai janji-janji kampanye tanpa mengorbankan program bantuan sosial.
Dengan komposisi parlemen yang kurang menguntungkan, Lula harus menghadapi perundingan alot untuk menentukan dari mana sumber pembiayaan akan diperoleh dan pos anggaran mana yang harus dipangkas.
Keputusan-keputusan tersebut akan menjadi ujian bagi kemampuannya membangun kesepakatan politik.
Persoalan keamanan tidak kalah mendesak.
Masyarakat menuntut langkah lebih tegas untuk memberantas kejahatan, sementara kelompok kanan telah menjadikan pendekatan keras terhadap kriminalitas sebagai salah satu agenda politik andalannya.
Lula juga dihadapkan pada persoalan regenerasi kepemimpinan di kubu kiri Brasil.
Ia perlu mempersiapkan calon penerus yang mampu mempertahankan kekuatan politik kelompok kiri, mengingat peluang kubu tersebut memenangkan pemilihan presiden hingga kini masih sangat bergantung pada popularitas dan pengaruh politik Lula.
Kemandirian Brasil di Tengah Ancaman Isolasi
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9382197/original/067106400_1792980348-Untitled.jpg)
Tantangan Lula tidak berhenti di dalam negeri. Perubahan peta politik Amerika Latin juga menjadi persoalan yang harus dihadapinya.
Brasil merupakan negara dengan perekonomian terbesar di Amerika Latin dan memiliki China sebagai mitra dagang utama.
Dengan kekuatan ekonomi tersebut, pemerintahan Lula selama ini mampu menolak berbagai tekanan perdagangan dan politik dari pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.
Sikap mandiri seperti itu sulit ditempuh oleh banyak negara tetangga Brasil yang tidak memiliki kekuatan ekonomi sebanding.
Trump sendiri dikenal sebagai pendukung kuat Jair Bolsonaro. Ia bahkan menuding kemenangan Lula dalam pemilu telah dicurangi, meski tidak memberikan bukti atas tuduhan tersebut.
Sejumlah tokoh konservatif berpengaruh di Brasil juga memiliki hubungan erat dengan gerakan Make America Great Again (MAGA) yang menjadi basis politik Trump.
Eduardo Bolsonaro, saudara laki-laki Flavio, saat ini berada dalam pengasingan di AS. Ia terancam ditangkap apabila kembali ke Brasil setelah dinyatakan bersalah atas tindak pidana pemaksaan dalam persidangan yang berlangsung tanpa kehadirannya.
Jika Flavio memenangkan pemilu, hasil itu justru akan menjadi kemenangan besar bagi Washington dalam upayanya memperkuat dominasi AS di kawasan sekaligus membendung pengaruh Beijing.
Meski berhasil mempertahankan kekuasaan, Lula kini harus menghadapi situasi politik Amerika Latin yang jauh lebih sulit.
Ia berisiko semakin terisolasi karena sejumlah pemimpin berhaluan kiri yang sebelumnya menjadi sekutunya tidak lagi berkuasa. Mereka antara lain Alberto Fernandez di Argentina, Gabriel Boric di Chile, dan Gustavo Petro di Kolombia.
"Lula menghadapi situasi politik yang sangat berbeda dibandingkan ketika pertama kali menjabat, pada masa yang dikenal sebagai 'Pink Tide'," tutur Michael Paarlberg, akademisi ilmu politik di Virginia Commonwealth University.
Istilah Pink Tide digunakan untuk menggambarkan gelombang kemenangan partai dan pemimpin berhaluan kiri di berbagai negara Amerika Latin sepanjang dekade 2000-an hingga 2010-an.
"Ketika itu, ia memiliki sejumlah sekutu di kawasan dan bisa menjalin hubungan dengan kedua kubu politik untuk mendapatkan keuntungan bagi Brasil," ujar Paarlberg.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5150531/original/011713400_1741077091-Kuda1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9370019/original/097624000_1791544375-asap.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5041778/original/033342300_1733738907-Sampul1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9383535/original/061676900_1793090887-bpjs_kesehatan_bantuan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9383534/original/019856600_1793090855-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1411652/original/066561300_1479706477-Brasil.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1384773/original/024567600_1477395058-Donald_Trump.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4058765/original/090496100_1655735658-Vaksinasi_Flu.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381694/original/075241200_1792850777-IMG-20261023-WA0078.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381185/original/054329400_1792762607-IMG-20261023-WA0048.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360246/original/072582700_1790602854-1000446717.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335798/original/047657000_1788064938-AI.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9379459/original/051652600_1792631921-WhatsApp_Image_2026-10-21_at_12.39.32.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374953/original/008947000_1792115215-1.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5312560/original/060717400_1754968440-WhatsApp_Image_2025-08-12_at_09.48.53_5f3125cb.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9373598/original/035832400_1791969676-Mesin_Pencacah_Sampah_3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9372965/original/088403400_1791939609-WhatsApp_Image_2026-10-13_at_2.07.21_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355267/original/005978200_1790095519-Menagg.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9382196/original/034034600_1792980169-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9376366/original/031800200_1792334738-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9375941/original/070960500_1792270148-IDN04442fix.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9373903/original/042922400_1791996069-Lampung_water_bombing_kahutla.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9321825/original/071104600_1786505831-pal6.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9366168/original/049013100_1791256425-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4659718/original/012191600_1700712502-kanchanara-3ESepqQ5Yf0-unsplash.jpg)