Liputan6.com, Jakarta - Tidak semua informasi yang pertama kali didengar atau dibaca menggambarkan kenyataan secara utuh. Seseorang bisa terlihat bersalah karena cerita dari satu pihak, sebuah berita dapat memancing emosi sebelum fakta lengkap terungkap, atau sebuah keputusan terasa benar hanya karena disampaikan dengan meyakinkan. Dalam situasi seperti ini, kemampuan menahan diri agar tidak buru-buru mengambil kesimpulan menjadi hal yang penting.
Orang yang tidak mudah terjebak pada kesimpulan dari informasi pertama cenderung memberi ruang bagi fakta, mempertimbangkan sudut pandang lain, dan bersedia mengubah pendapat ketika menemukan bukti baru. Kebiasaan ini berkaitan dengan pola pikir kritis, yakni kemampuan mengevaluasi informasi secara masuk akal sebelum menentukan apa yang layak dipercaya. Menariknya, sikap tersebut bukan semata-mata bawaan lahir, melainkan dapat dikembangkan melalui latihan dan kebiasaan sehari-hari.
Lantas bagaimana saja ciri orang yang tidak mudah terjebak pada kesimpulan dari informasi pertama? Melansir dari berbagai sumber, Kamis (29/10/2026), simak ulasan informasinya berikut ini.
Advertisement
1. Tidak Langsung Percaya pada Informasi yang Baru Didengar
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9307177/original/089506700_1784964002-2148861201.webp)
Salah satu ciri orang yang tidak mudah terjebak pada kesimpulan dari informasi pertama adalah kebiasaannya menahan diri sebelum mempercayai sesuatu. Ketika mendengar kabar tentang seseorang, membaca unggahan di media sosial, atau menerima informasi dari teman, mereka tidak langsung menganggapnya sebagai kebenaran. Mereka memahami bahwa informasi awal bisa saja benar, tetapi belum tentu lengkap.
Misalnya, seseorang mendengar kabar bahwa rekan kerjanya tidak menyelesaikan tugas tepat waktu. Alih-alih langsung menganggap rekan tersebut malas, ia mencoba mencari tahu apakah ada kendala teknis, pembagian pekerjaan yang tidak jelas, atau keadaan lain yang memengaruhi hasilnya. Sikap ini membantu mengurangi risiko menilai seseorang hanya berdasarkan cerita sepihak.
Kebiasaan tersebut sejalan dengan prinsip berpikir kritis, yaitu mengevaluasi informasi sebelum membentuk penilaian. American Psychological Association (APA) menjelaskan bahwa orang sering kali lebih berfokus memahami informasi baru daripada memeriksa akurasinya. Karena itu, membiasakan diri berhenti sejenak dan mempertanyakan kebenaran informasi merupakan langkah penting untuk menghindari kesimpulan yang keliru.
Advertisement
2. Suka Memeriksa Fakta dan Mencari Sumber Pembanding
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4940763/original/078857600_1725937260-Ilustrasi_ngobrol__bicara__komunikasi__menyapa.jpg)
Orang dengan pola pikir kritis biasanya tidak puas hanya dengan satu sumber informasi. Mereka berusaha mencari penjelasan tambahan, memeriksa asal informasi, dan membandingkan beberapa sumber sebelum menentukan apakah sebuah klaim layak dipercaya. Bagi mereka, informasi yang terdengar meyakinkan belum tentu memiliki bukti yang kuat.
Kebiasaan ini semakin penting ketika berhadapan dengan informasi yang beredar di media sosial. Sebuah unggahan mungkin menampilkan potongan video tanpa konteks, menggunakan judul yang provokatif, atau menyertakan angka tanpa menjelaskan asal datanya. Orang yang teliti akan mencoba menemukan sumber asli, memeriksa tanggal publikasi, dan memastikan bahwa konteksnya tidak berubah.
Dalam pembahasan tentang literasi media, APA menyoroti pentingnya memeriksa siapa yang berada di balik suatu klaim, bukan sekadar membaca isi pesannya. Pendekatan ini membantu seseorang menilai kredibilitas sumber secara lebih objektif dan tidak mudah terbawa oleh informasi yang viral.
3. Mampu Melihat Persoalan dari Berbagai Sudut Pandang
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3978106/original/023489100_1648535617-pexels-fauxels-3182808.jpg)
Ciri berikutnya adalah kemampuan mempertimbangkan sudut pandang yang berbeda. Orang seperti ini memahami bahwa satu kejadian dapat memiliki penjelasan yang beragam, bergantung pada konteks dan informasi yang dimiliki setiap pihak. Mereka tidak serta-merta menganggap satu versi cerita sebagai gambaran keseluruhan.
Dalam kehidupan sehari-hari, misalnya, terjadi perselisihan antara dua teman. Seseorang yang hanya mendengar cerita dari pihak pertama mungkin langsung menyalahkan pihak kedua. Namun, orang yang terbiasa berpikir kritis akan mencoba memahami penjelasan keduanya sebelum memutuskan apa yang sebenarnya terjadi.
Kemampuan melihat persoalan dari beberapa sisi bukan berarti harus selalu menyetujui semua pendapat. Justru, kebiasaan ini membantu seseorang membedakan antara memahami alasan orang lain dan membenarkan tindakannya. Dalam berpikir kritis, mempertimbangkan alternatif dan menimbang kualitas bukti merupakan bagian penting sebelum mengambil keputusan.
Advertisement
4. Tidak Mudah Terpengaruh oleh Emosi Sesaat
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4270614/original/085919700_1671781014-portrait-girls-talking-spending-time-isolated-blue-wall.jpg)
Informasi yang memancing kemarahan, ketakutan, kesedihan, atau kegembiraan berlebihan sering kali membuat seseorang ingin segera bereaksi. Orang yang mampu menunda kesimpulan biasanya berusaha mengenali emosinya terlebih dahulu. Mereka tidak langsung membagikan kabar yang mengejutkan atau mengambil keputusan penting hanya karena merasa tersinggung maupun marah.
Contohnya, ketika menerima pesan yang menyebut dirinya sebagai bahan pembicaraan buruk di lingkungan pertemanan, ia tidak langsung memutus hubungan dengan semua orang yang terlibat. Ia mencoba memeriksa konteks pesan, memastikan siapa yang menyampaikannya, dan mempertimbangkan kemungkinan adanya salah paham. Dengan begitu, respons yang diberikan tidak semata-mata didorong oleh emosi.
Menurut APA, muatan emosional seperti rasa takut dan kemarahan dapat meningkatkan kemungkinan seseorang mempercayai informasi yang keliru. Artinya, kemampuan mengelola reaksi emosional dapat membantu seseorang memberi ruang bagi pemeriksaan fakta sebelum menentukan sikap. Bukan berarti harus mengabaikan perasaan, melainkan tidak membiarkan perasaan menjadi satu-satunya dasar penilaian.
5. Bersedia Mengubah Pendapat Ketika Ada Bukti Baru
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3978108/original/042143000_1648535623-pexels-alexander-suhorucov-6457544.jpg)
Orang yang tidak mudah terjebak pada kesimpulan pertama tidak merasa harus selalu mempertahankan pendapatnya. Ketika muncul fakta baru yang lebih kuat, mereka bersedia mengevaluasi kembali pandangan sebelumnya. Bagi mereka, mengubah pendapat setelah memperoleh bukti yang lebih baik bukanlah tanda kelemahan, melainkan bagian dari proses belajar.
Misalnya, seseorang awalnya percaya bahwa suatu metode belajar tidak efektif karena pernah mendengar pengalaman buruk dari temannya. Namun, setelah membaca hasil penelitian, memahami cara penerapannya, dan melihat konteks yang berbeda, ia menyadari bahwa metode tersebut mungkin bermanfaat bagi sebagian orang. Ia pun memperbaiki pandangannya tanpa harus menyangkal bahwa informasi awal pernah memengaruhinya.
Sikap ini penting karena manusia memiliki kecenderungan mempertahankan keyakinan yang sudah terbentuk. APA menjelaskan bahwa confirmation bias atau bias konfirmasi membuat seseorang cenderung mencari informasi yang mendukung keyakinan awal dan mengabaikan bukti yang bertentangan. Bersedia menguji ulang pendapat dapat membantu seseorang mengurangi kecenderungan tersebut.
Advertisement
6. Mampu Membedakan Fakta, Opini, dan Asumsi
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5251791/original/026155600_1749808274-medium-shot-girl-being-critic.jpg)
Tidak semua pernyataan yang terdengar meyakinkan merupakan fakta. Orang yang terbiasa berpikir kritis berusaha membedakan informasi yang bisa diverifikasi, pendapat pribadi, dan dugaan yang belum memiliki bukti cukup. Mereka memahami bahwa seseorang bisa menyampaikan opini dengan sangat percaya diri tanpa berarti pendapat tersebut otomatis benar.
Sebagai contoh, pernyataan bahwa seorang karyawan terlambat datang ke kantor dapat diperiksa melalui catatan kehadiran. Namun, anggapan bahwa karyawan tersebut tidak disiplin merupakan penilaian yang memerlukan konteks tambahan. Bisa jadi keterlambatan itu hanya terjadi sekali karena keadaan darurat, bukan kebiasaan yang mencerminkan perilakunya secara keseluruhan.
Kemampuan membedakan fakta dan asumsi juga berguna saat menilai informasi di internet. Ketika membaca klaim tertentu, seseorang dapat bertanya: apa bukti yang mendukungnya, apakah ada data yang dapat diperiksa, dan apakah kesimpulan yang disampaikan benar-benar mengikuti bukti tersebut? Pertanyaan sederhana seperti ini membantu membuat penilaian lebih terukur dan mengurangi risiko mencampuradukkan dugaan dengan kenyataan.
7. Tidak Malu Mengakui bahwa Dirinya Belum Mengetahui Jawabannya
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9317506/original/083864000_1786016624-2149283345.webp)
Ciri terakhir yang menarik adalah kesediaan mengakui keterbatasan pengetahuan. Orang yang tidak terburu-buru mengambil kesimpulan memahami bahwa tidak semua persoalan memiliki jawaban yang langsung terlihat. Mereka tidak merasa harus memberikan pendapat tentang segala hal, terutama ketika informasi yang tersedia masih terbatas.
Dalam percakapan, misalnya, ketika ditanya tentang suatu peristiwa yang belum dipahaminya, ia bisa mengatakan bahwa dirinya belum mengetahui fakta lengkapnya. Ia memilih mencari informasi lebih lanjut daripada mengarang penjelasan atau mengikuti pendapat mayoritas hanya agar terlihat menguasai persoalan.
Sikap ini juga membuat seseorang lebih terbuka terhadap proses belajar. Ia dapat menerima koreksi, mengajukan pertanyaan, dan mengakui bahwa pemahamannya masih bisa berkembang. Berpikir kritis bukan berarti selalu memiliki jawaban yang benar, melainkan berusaha membangun kesimpulan yang masuk akal berdasarkan bukti yang tersedia serta bersedia memperbaikinya ketika ditemukan informasi yang lebih kuat.
Advertisement
Pertanyaan & Jawaban Seputar Ciri Orang yang Tidak Mudah Terjebak pada Kesimpulan dari Informasi Pertama
1. Apa yang dimaksud dengan orang yang tidak mudah terjebak pada kesimpulan dari informasi pertama?
Orang tersebut cenderung tidak langsung mempercayai informasi awal sebagai kebenaran mutlak. Ia mempertimbangkan konteks, memeriksa bukti, dan mencari informasi tambahan sebelum membentuk penilaian.
2. Apakah tidak mudah mengambil kesimpulan merupakan tanda kecerdasan?
Kebiasaan ini dapat mencerminkan keterampilan berpikir kritis, tetapi tidak bisa dijadikan satu-satunya ukuran kecerdasan seseorang. Kemampuan menilai informasi juga dipengaruhi pengalaman, pengetahuan, situasi, dan kebiasaan seseorang dalam mengambil keputusan.
3. Mengapa informasi pertama sering memengaruhi penilaian seseorang?
Informasi pertama dapat membentuk kerangka awal untuk memahami suatu persoalan. Setelah memiliki kesan awal, seseorang bisa cenderung mencari bukti yang mendukung kesan tersebut dan mengabaikan informasi yang bertentangan. Kecenderungan ini berkaitan dengan bias kognitif, termasuk bias konfirmasi.
4. Bagaimana cara mengetahui apakah sebuah informasi dapat dipercaya?
Periksa sumber asli, tanggal dan konteks informasi, bukti yang mendukung klaim, serta kesesuaiannya dengan sumber tepercaya lainnya. Jangan hanya mengandalkan popularitas unggahan, jumlah orang yang membagikannya, atau cara penyampaiannya yang meyakinkan.
5. Apakah berpikir kritis berarti selalu meragukan semua hal?
Tidak. Berpikir kritis bukan berarti mencurigai setiap informasi atau menolak semua pendapat. Intinya adalah menyesuaikan tingkat keyakinan dengan kekuatan bukti yang tersedia dan bersedia meninjau ulang kesimpulan jika ada alasan yang kuat.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9359577/original/013031200_1790564633-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-09-28T100252.716.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9384458/original/090026400_1793172561-Screenshot_2026-10-28_141303.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9376757/original/016204500_1792391224-cek_fakta_jasa_marga.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9357774/original/082781700_1790305729-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-09-25T100732.986.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3149291/original/092288200_1591796992-handsome-unshaven-male-freelancer-sitting-meet-cafe-showing-project-customer-talking-about-work-details_176420-9200.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9385027/original/054806600_1793210212-WhatsApp_Image_2026-10-27_at_8.55.27_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9384251/original/014376200_1793163977-WhatsApp_Image_2026-10-26_at_16.11.48.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5193655/original/000476600_1745236051-ChatGPT_Image_Apr_21__2025__06_46_46_PM.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4058765/original/090496100_1655735658-Vaksinasi_Flu.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381694/original/075241200_1792850777-IMG-20261023-WA0078.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381185/original/054329400_1792762607-IMG-20261023-WA0048.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360246/original/072582700_1790602854-1000446717.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335798/original/047657000_1788064938-AI.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9379459/original/051652600_1792631921-WhatsApp_Image_2026-10-21_at_12.39.32.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374953/original/008947000_1792115215-1.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5312560/original/060717400_1754968440-WhatsApp_Image_2025-08-12_at_09.48.53_5f3125cb.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9373598/original/035832400_1791969676-Mesin_Pencacah_Sampah_3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363072/original/073988800_1790838980-Depositphotos_839696924_L.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9382521/original/082654100_1792998681-collabstr-k8plFiceP0I-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9382372/original/065309700_1792991700-15485.jpg)