Liputan6.com, Jakarta -Spons mandi dapat menjadi tempat berkembangnya bakteri jika tidak dirawat dengan benar. Oleh karena itu, kebiasaan menggunakan spons mandi yang perlu dievaluasi demi kebersihan penting diperhatikan untuk menjaga kebersihan tubuh.
Namun, penggunaan spons mandi ternyata tidak selalu menjamin kebersihan kulit. Jika tidak dirawat dengan benar, alat mandi yang sering digunakan tersebut justru dapat menjadi tempat berkembangnya bakteri dan mikroorganisme lainnya.
Menurut dokter spesialis penyakit menular Cleveland Clinic, Donald Dumford, MD, bakteri pada kulit dapat berpindah ke spons mandi dan berkembang biak. Ia menjelaskan, “Jika bakteri Staphylococcus pada kulit berpindah ke spons mandi, bakteri tersebut dapat membentuk lapisan yang disebut biofilm."
Advertisement
1. Membiarkan Spons Mandi Tetap Basah Setelah Digunakan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9388754/original/050332200_1793678090-pexels-karola-g-5237900.jpg)
Salah satu kebiasaan menggunakan spons mandi yang perlu dievaluasi adalah membiarkannya tetap basah setelah selesai mandi. Banyak orang hanya menggantung spons di kamar mandi tanpa memastikan alat tersebut benar-benar kering sebelum digunakan kembali.
Padahal, spons mandi memiliki struktur berpori dan banyak celah kecil yang dapat menampung air, sisa sabun, serta sel kulit mati. Kondisi lembab tersebut membuat spons menjadi lingkungan yang mendukung pertumbuhan bakteri dan mikroorganisme lainnya.
Dermatolog Melissa Piliang, MD, dari Cleveland Clinic menjelaskan bahwa lingkungan lembap membuat spons mandi rentan menjadi tempat berkembangnya bakteri.
Untuk mengurangi risiko tersebut, ada beberapa kebiasaan sederhana yang bisa diterapkan setelah mandi, yaitu:
- Bilas spons mandi hingga tidak ada sisa sabun atau kotoran yang tertinggal.
- Peras spons untuk mengeluarkan kelebihan air.
- Gantung spons di tempat yang memiliki sirkulasi udara baik.
- Hindari menyimpan spons di area kamar mandi yang selalu lembap.
- Pastikan spons benar-benar kering sebelum digunakan kembali.
Kebiasaan ini penting karena kelembapan dan suhu lingkungan dapat mendukung pertumbuhan bakteri pada spons, terlepas dari bahan pembuatnya. Hal tersebut juga ditemukan dalam penelitian yang diterbitkan di European Journal of Dermatology pada 2003.
Advertisement
2. Menggunakan Spons Mandi Terlalu Sering
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9388755/original/046914100_1793678091-pexels-sarah-chai-7262986.jpg)
Menggunakan spons mandi setiap hari mungkin sudah menjadi kebiasaan bagi sebagian orang. Sensasi kulit yang terasa lebih halus setelah digosok memang menyenangkan, tetapi penggunaan terlalu sering justru berpotensi menyebabkan iritasi.
Spons mandi umumnya digunakan untuk membantu proses eksfoliasi atau pengangkatan sel kulit mati. Namun, jika gesekannya terlalu kuat atau dilakukan berulang kali, lapisan pelindung kulit dapat mengalami gangguan sehingga kulit menjadi kemerahan, kering, dan lebih sensitif.
Dermatolog Melissa Piliang, MD, dari Cleveland Clinic menyarankan agar penggunaan loofah tidak dilakukan terlalu sering. Menurutnya, spons mandi tidak harus digunakan setiap kali mandi, terutama jika tujuannya hanya untuk mengeksfoliasi kulit. Frekuensi penggunaannya sebaiknya disesuaikan dengan kondisi kulit masing-masing.
American Academy of Dermatology (AAD) juga mengingatkan bahwa eksfoliasi yang terlalu agresif dapat membuat kulit mengalami iritasi. Jika menggunakan spons atau sikat, dermatolog menyarankan gerakan ringan dan pendek, bukan menggosok kulit dengan tekanan berlebihan.
3. Tidak Pernah Membersihkan Spons Mandi Secara Menyeluruh
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9388756/original/008984300_1793678094-pic_panther-razor-6925033.jpg)
Membilas spons mandi menggunakan air setelah mandi memang penting, tetapi kebiasaan tersebut belum tentu cukup untuk menjaga kebersihannya. Sisa sel kulit mati, kotoran, dan mikroorganisme dapat tertinggal di sela-sela spons meskipun permukaannya terlihat bersih.
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal European Journal of Dermatology pada November–Desember 2003 menemukan berbagai jenis bakteri pada spons wajah dan tubuh setelah digunakan oleh orang sehat. Bakteri yang ditemukan antara lain Staphylococcus epidermidis, Staphylococcus aureus, dan Escherichia coli.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa spons mandi dapat menjadi tempat penampungan mikroorganisme apabila tidak dirawat dengan benar. Para peneliti juga menekankan pentingnya penggunaan pribadi, pencucian secara teratur, pengeringan menyeluruh, serta penyimpanan di tempat kering.
Untuk menjaga kebersihannya, Cleveland Clinic merekomendasikan beberapa langkah perawatan berikut:
- Bersihkan spons mandi secara menyeluruh setidaknya satu kali seminggu.
- Gunakan metode pembersihan yang sesuai dengan jenis dan petunjuk perawatan spons.
- Jika menggunakan metode perendaman larutan pemutih encer, ikuti petunjuk pengenceran yang aman dan bilas hingga bersih.
- Setelah dibersihkan, keringkan spons secara menyeluruh sebelum disimpan atau digunakan kembali.
Membersihkan spons secara berkala menjadi langkah penting untuk mengurangi penumpukan mikroorganisme. Meski demikian, proses pembersihan tetap perlu diimbangi dengan kebiasaan mengeringkan spons setiap selesai digunakan.
Advertisement
4. Menggunakan Spons Mandi yang Sudah Lama dan Tidak Layak Pakai
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9388758/original/056613800_1793678095-brett_hondow-shower-sponge-1216556.jpg)
Kebiasaan lain yang perlu diperhatikan adalah menggunakan spons mandi yang sama selama berbulan-bulan tanpa mempertimbangkan kondisinya. Sebagian orang baru mengganti spons ketika bentuknya sudah rusak atau tidak bisa menghasilkan banyak busa.
Padahal, spons yang sudah lama digunakan berpotensi mengalami penumpukan kotoran dan pertumbuhan mikroorganisme. Kondisi ini semakin perlu diwaspadai jika spons sering dibiarkan lembab atau tidak dibersihkan secara rutin.
Cleveland Clinic memberikan panduan waktu penggantian berdasarkan jenis spons mandi. Untuk loofah alami, penggantian disarankan setiap tiga hingga empat minggu, sedangkan loofah sintetis berbahan plastik dapat digunakan hingga sekitar dua bulan.
Selain memperhatikan durasi pemakaian, perhatikan juga perubahan kondisi fisik spons. Beberapa tanda spons mandi sudah perlu diganti meliputi:
- Muncul bercak jamur pada permukaannya.Tercium bau apek atau bau lembap yang sulit hilang.
- Teksturnya berubah menjadi berlendir.
- Struktur spons mulai rusak atau terurai.
- Spons terlihat kotor meskipun sudah dibersihkan.
Jangan menunggu sampai spons benar-benar rusak untuk menggantinya. Memperhatikan kondisi alat mandi secara berkala dapat membantu mengurangi risiko penggunaan spons yang sudah tidak higienis.
5. Menggosok Kulit Terlalu Keras Menggunakan Spons Mandi
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9388760/original/030946000_1793678097-bailey-alexander-jRLKjWqldjw-unsplash.jpg)
Spons mandi sering dianggap sebagai alat yang efektif untuk mengangkat kotoran dan sel kulit mati. Namun, menggosok kulit terlalu keras bukan berarti membuat tubuh menjadi lebih bersih.
Gesekan berlebihan justru dapat menimbulkan luka kecil atau microtrauma pada permukaan kulit. Luka tersebut berpotensi menjadi jalan masuk bagi bakteri, terutama ketika spons yang digunakan tidak terjaga kebersihannya.
Risiko ini turut ditemukan dalam laporan kasus di National Library of Medicine, yang mengaitkan penggunaan spons mandi dengan infeksi impetigo akibat bakteri Streptococcus pyogenes. Strain bakteri yang sama juga ditemukan pada spons dan sampel kulit pasien.
Cleveland Clinic juga mengingatkan pentingnya menggunakan spons secara lembut. Donald Dumford, MD, menjelaskan bahwa bakteri yang menetap pada spons dapat menimbulkan masalah ketika berpindah ke kulit yang mengalami luka.
Oleh karena itu, perhatikan beberapa hal berikut ketika menggunakan spons mandi:
- Gunakan tekanan ringan saat menggosok tubuh.
- Hindari gerakan menggosok berulang kali pada satu area.
- Jangan menggunakan spons pada kulit yang terluka atau mengalami iritasi.
- Hentikan eksfoliasi jika kulit terasa perih, panas, atau kemerahan.
- Gunakan pelembap setelah melakukan eksfoliasi agar kelembapan kulit tetap terjaga.
American Academy of Dermatology juga menyarankan penggunaan gerakan ringan dan durasi sekitar 30 detik saat melakukan eksfoliasi menggunakan scrub. Setelahnya, bilas kulit menggunakan air suam-suam kuku dan aplikasikan pelembap.
Advertisement
6. Menggunakan Spons Mandi pada Area Kulit yang Sensitif
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9388762/original/011291700_1793678100-pexels-karola-g-5240754.jpg)
Tidak semua bagian tubuh membutuhkan perlakuan yang sama ketika dibersihkan. Menggunakan spons mandi pada area kulit yang sensitif justru dapat meningkatkan risiko iritasi, terutama jika spons memiliki tekstur kasar.
Area wajah dan genital merupakan bagian tubuh yang sebaiknya tidak digosok menggunakan loofah. Kulit di area tersebut membutuhkan pembersihan yang lebih lembut sehingga penggunaan spons bertekstur kasar tidak diperlukan.
Dermatolog Melissa Piliang, MD, dari Cleveland Clinic memberikan peringatan tegas mengenai hal ini. Ia mengatakan, "Never use it on your face or in your genital area," yang berarti spons mandi tidak disarankan untuk digunakan pada wajah maupun area genital.
Selain itu, penggunaan spons mandi juga sebaiknya dihindari pada beberapa kondisi kulit, seperti:
- Kulit yang mengalami luka terbuka.
- Kulit yang sedang mengalami ruam atau peradangan.
- Kulit yang terbakar akibat paparan sinar matahari.
- Area tubuh yang baru dicukur dan masih mengalami iritasi.
- Kulit yang sedang mengalami infeksi.
Jika kulit memiliki kondisi sensitif atau mudah mengalami iritasi, membersihkan tubuh menggunakan tangan dan sabun lembut dapat menjadi pilihan yang lebih nyaman.
7. Tidak Mempertimbangkan Alternatif Spons Mandi yang Lebih Mudah Dibersihkan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9388763/original/049558400_1793678102-pexels-castorlystock-4404996.jpg)
Spons mandi bukan satu-satunya alat yang bisa digunakan untuk membersihkan tubuh. Jika kebiasaan merawat spons terasa merepotkan atau kulit mudah mengalami iritasi, ada beberapa alternatif yang dapat dipertimbangkan.
Cleveland Clinic menyebutkan bahwa waslap atau washcloth dapat menjadi alternatif karena strukturnya tidak memiliki banyak celah seperti loofah. Selain itu, waslap lebih mudah dicuci menggunakan mesin cuci dan dikeringkan setelah digunakan.
Donald Dumford, MD, dari Cleveland Clinic juga menyebutkan bahwa sikat badan silikon dan waslap dapat menjadi pilihan yang lebih mudah dibersihkan. Meski demikian, alat-alat tersebut tetap perlu dirawat secara rutin agar tidak menjadi tempat penumpukan kotoran.
Beberapa alternatif alat untuk membersihkan tubuh antara lain:
- Waslap: Memiliki tekstur yang relatif lembut dan mudah dicuci setelah digunakan.
- Sikat silikon: Memiliki permukaan yang lebih mudah dibersihkan dibandingkan spons berpori.
- Tangan: Menjadi pilihan sederhana untuk membersihkan tubuh menggunakan sabun atau pembersih yang lembut.
Pemilihan alat mandi sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi kulit. American Academy of Dermatology menyarankan pemilik kulit kering, sensitif, atau rentan berjerawat untuk menggunakan waslap dan menghindari eksfoliasi yang terlalu kasar.
Dengan begitu, menjaga kebersihan tubuh tidak harus selalu melibatkan spons mandi. Teknik membersihkan kulit yang lembut, pemilihan alat yang tepat, serta perawatan kebersihan secara rutin tetap menjadi hal yang perlu diperhatikan.
Pertanyaan Seputar Kebiasaan Menggunakan Spons Mandi yang Perlu Dievaluasi demi Kebersihan
Bolehkah menggunakan spons mandi secara bergantian dengan anggota keluarga?
Sebaiknya tidak. Spons mandi merupakan perlengkapan pribadi yang bersentuhan langsung dengan kulit dan dapat menyimpan sel kulit mati, kotoran, serta mikroorganisme. Berbagi spons mandi berpotensi meningkatkan risiko perpindahan mikroorganisme dari satu orang ke orang lain. Oleh karena itu, setiap anggota keluarga sebaiknya memiliki spons mandi masing-masing.
Apakah semakin banyak busa dari spons mandi berarti tubuh semakin bersih?
Tidak. Banyaknya busa tidak selalu menunjukkan bahwa tubuh lebih bersih. Busa terutama terbentuk dari interaksi sabun dengan air dan udara. Kebersihan tubuh lebih dipengaruhi oleh proses membersihkan kulit secara menyeluruh dan membilas sisa sabun dengan baik.
Bagaimana cara mengetahui spons mandi sudah menjadi tempat berkembangnya jamur?
Spons mandi yang mulai ditumbuhi jamur biasanya menunjukkan beberapa tanda, seperti munculnya bercak hitam, kehijauan, atau perubahan warna yang tidak biasa. Selain itu, spons bisa mengeluarkan bau apek atau tidak sedap meskipun sudah dibilas.
Teksturnya juga mungkin terasa berlendir dan sulit kering meski sudah digantung setelah digunakan. Jika menemukan tanda-tanda tersebut, sebaiknya segera buang dan ganti spons mandi dengan yang baru. Hindari mencoba membersihkannya hanya dengan sabun karena jamur dan mikroorganisme yang menempel belum tentu hilang sepenuhnya.
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9373173/original/043570100_1791954492-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-10-14T120512.346.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9373717/original/089421500_1791973478-Cek_fakta_Bank_Mandiri_--.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9291533/original/094652600_1783567822-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-09T102907.971.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9388160/original/000171000_1793603790-HOAX__54_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3443970/original/068226400_1619751161-WhatsApp_Image_2021-04-29_at_13.59.52.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9387840/original/049454400_1793576292-S__73179165.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5437037/original/069686000_1765195130-WhatsApp_Image_2025-12-08_at_16.01.33.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3559193/original/024993600_1630573027-vlcsnap-2021-09-02-11h09m01s068__2_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9385978/original/063727200_1793288759-IMG-20261029-WA0009.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9385027/original/054806600_1793210212-WhatsApp_Image_2026-10-27_at_8.55.27_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9384251/original/014376200_1793163977-WhatsApp_Image_2026-10-26_at_16.11.48.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5193655/original/000476600_1745236051-ChatGPT_Image_Apr_21__2025__06_46_46_PM.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9382249/original/070234100_1792985471-WhatsApp_Image_2026-10-25_at_09.42.1222.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4058765/original/090496100_1655735658-Vaksinasi_Flu.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381694/original/075241200_1792850777-IMG-20261023-WA0078.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381185/original/054329400_1792762607-IMG-20261023-WA0048.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360246/original/072582700_1790602854-1000446717.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9388691/original/096645400_1793675581-5151ddb2-655a-41fd-be3a-55598f2c4151.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9388663/original/085959900_1793671977-Gemini_Generated_Image_qpqf8bqpqf8bqpqf.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9388506/original/089342100_1793619266-HL_Krokot.jpg)