Liputan6.com, Jakarta - Dalam budaya Jepang, keramahan bukan sekadar soal tersenyum atau berbicara sopan. Ada kebiasaan menarik di balik cara masyarakatnya berinteraksi, terutama saat menyampaikan perasaan pribadi. Hal ini bisa dipahami melalui perbedaan dua sisi keramahan ala Jepang, yaitu tatemae dan honne.
Sekilas, tatemae dan honne mungkin terdengar mirip, padahal keduanya memiliki makna berbeda. Tatemae berkaitan dengan sikap di hadapan orang lain, sedangkan honne mencerminkan perasaan sebenarnya. Menariknya, perbedaan dua sisi keramahan ala Jepang ini kerap muncul dalam percakapan sehari-hari.
Bukan berarti selalu menyembunyikan kejujuran, tatemae dan honne justru mengajarkan pentingnya memahami situasi saat berkomunikasi. Keduanya menjadi bagian menarik dari kehidupan sosial masyarakat Jepang. Yuk, kenali perbedaan dua sisi keramahan ala Jepang beserta contoh penerapannya dalam kehidupan sehari-hari yang Liputan6.com rangkum pada Selasa (3/11/2026).
Advertisement
Makna dan Fungsi Tatemae serta Honne
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2939486/original/097139800_1571115896-school-children-walk-home-along-a-road-in-the-ogikubo-district-of-tokyo.jpg)
Langkah pertama memahami perbedaan dua sisi keramahan ala Jepang adalah mengenali makna di balik kedua istilah ini. Banyak orang luar mengira tatemae sama dengan "topeng", padahal maknanya jauh lebih lembut dan penuh pertimbangan.
Menurut Takie Sugiyama Lebra dalam bukunya Japanese Patterns of Behavior (1976), perilaku masyarakat Jepang tidak bisa dilepaskan dari norma sosial dan kebutuhan menjaga hubungan antarindividu. Dalam konteks ini, tatemae dapat dipahami sebagai salah satu cara seseorang menyesuaikan perilaku demi mempertahankan keharmonisan.
Tatemae berasal dari kata tateru yang berarti "mendirikan" dan mae yang berarti "depan". Istilah ini menggambarkan rangka rumah yang terlihat sebelum dindingnya dipasang. Sedangkan "Honne" bukan sekadar kehidupan batin, melainkan diri yang tidak tertahan dan biasanya diperlihatkan kepada teman dan orang tersayang .
Tatemae juga menjadi tidak jujur jika dipakai untuk menipu atau lari dari tanggung jawab, tetapi dalam keseharian sering berfungsi sebagai bentuk pertimbangan sosial. Tatemae dan honne ibarat dua sisi koin yang saling melengkapi. Keduanya tidak bisa dipisahkan dalam interaksi sosial masyarakat Jepang.
Advertisement
Kenali Contoh Tatemae dan Honne dalam Keseharian
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3595277/original/018598600_1633589421-hakan-nural-8l8gQsG4c-E-unsplash.jpg)
Teori akan terasa lebih mudah dipahami lewat contoh nyata. Dari obrolan santai dengan teman sampai rapat kantor, perbedaan dua sisi keramahan ala Jepang ternyata muncul di banyak momen kecil yang mungkin tidak disadari.
Sebuah platform belajar bahasa Jepang mencontohkan, saat orang Jepang berkata "iketara iku ne" (aku datang kalau bisa), biasanya itu adalah tatemae. Menariknya, pujian soal gaya busana juga masuk daftar, karena ucapan "kosei-teki na fasshon da ne" (penampilanmu unik) kepada teman sering kali merupakan tatemae .
Ajakan yang menggantung: Kalimat seperti "kapan-kapan kita jalan ya" sering dipakai sebagai cara sopan untuk menjaga hubungan. Ada kesepakatan tidak tertulis bahwa ajakan semacam ini tidak selalu berarti janji.
Komentar soal fashion: Pujian "unik" atau "berkarakter" untuk outfit teman bisa jadi bentuk tatemae. Bagi pencinta fashion, ini pengingat bahwa gaya terbaik tetaplah yang membuat diri sendiri nyaman, apa pun komentar orang.
Tawaran makan saat bertamu: Contoh paling umum yang bahkan dipakai di buku pelajaran adalah tamu yang berkunjung terlalu lama di rumah teman, lalu ibu sang teman menawarinya ikut makan malam. Di Kyoto, ada versi terkenal ketika tuan rumah menawarkan bubuzuke atau nasi siram teh, padahal honne-nya adalah "aku ingin kamu segera pulang", sementara tatemae-nya "mau makan sesuatu sebelum pergi?"
Bahasa sopan di kantor: Saat seorang kolega berkata "kento shimasu" atau "akan saya pertimbangkan", semua orang di ruangan paham bahwa usulan itu ditolak dengan sopan. Selain itu, rasa hormat pada hierarki membuat orang Jepang umumnya tidak mempertanyakan atasan .
Momen memberi hadiah: Inilah sisi tatemae yang paling manis. Honne-nya bisa jadi "aku memilih ini dengan hati-hati untukmu", sementara tatemae-nya "ini bukan apa-apa kok" , supaya penerima tidak merasa terbebani.
Jawaban "daijoubu": Kata yang berarti "aku baik-baik saja" ini kadang menyimpan honne yang rapuh. Dari sudut pandang wellness, momen ini mengingatkan pentingnya punya ruang aman untuk jujur pada diri sendiri.
Contoh-contoh tersebut menunjukkan mengapa masyarakat Jepang dikenal dengan tingkat sopan santun tinggi yang membuat wisatawan betah. Di balik keramahan itu, ada kepekaan untuk menjaga perasaan lawan bicara tanpa membuat suasana jadi canggung.
Sikapi Tatemae dan Honne dengan Bijak saat Berinteraksi
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4326629/original/030764800_1676544206-japan-220696__480.jpg)
Memahami tatemae dan honne dapat membantu seseorang berkomunikasi lebih nyaman saat berkunjung, bekerja, atau menjalin pertemanan di Jepang. Hal terpenting adalah tidak terburu-buru menilai seseorang hanya dari perkataannya.
Dalam lingkungan sosial Jepang, kemampuan membaca situasi sering dianggap penting. Ada beberapa sikap yang bisa diterapkan ketika berinteraksi:
Tatemae tidak dilandasi niat buruk, dan orang Jepang tidak berbohong untuk menyakiti orang lain. Konsep ini justru ada untuk menjaga harmoni dalam masyarakat dan menghindari konfrontasi di depan umum .
Perhatikan jeda bicara, ekspresi wajah dan nada suara. Dalam budaya high-context seperti Jepang, banyak pesan yang tersampaikan tanpa diucapkan secara gamblang.
Untuk memancing pendapat jujur dalam situasi kerja, ada frasa sopan seperti "Go-sotchoku na go-iken o kikasete itadakitai no desu ga" ("Saya ingin mendengar pendapat jujur Anda") .
Saat atasan menanyakan pendapat, kejujuran yang konstruktif disambut baik, tetapi bahasa yang terdengar seperti penolakan total atau serangan pribadi sebaiknya dibungkus tatemae .
Saat baru kenal, orang Jepang cenderung menjaga obrolan tetap aman dan tidak terlalu pribadi. Seiring hubungan makin dekat, honne biasanya mulai diperlihatkan sedikit demi sedikit.
Honne dan tatemae sebaiknya tidak dijadikan stereotip yang menjelaskan setiap orang Jepang. Setiap individu punya gaya komunikasinya sendiri.
Pada akhirnya, sikap paling elegan adalah menghargai kedua sisi tersebut. Tatemae bisa diterima sebagai bentuk perhatian, sementara honne adalah hadiah kepercayaan yang datang seiring tumbuhnya kedekatan.
Advertisement
Dua Sisi Keramahan yang Terasa Dekat dengan Budaya Kita
Bagi banyak orang Indonesia, konsep tatemae dan honne mungkin tidak terdengar terlalu asing. Budaya Jawa, misalnya, mengenal rasa sungkan, yaitu perasaan enggan atau tidak enak hati untuk berkata terlalu jujur jika hal itu berpotensi merusak keharmonisan. Dalam keseharian, ungkapan tidak langsung dan bahasa halus sering lebih diutamakan dibandingkan pernyataan yang tegas, mirip dengan alasan orang Jepang memakai tatemae untuk menghindari konflik. Kemiripan ini menunjukkan bahwa menjaga perasaan orang lain adalah nilai yang dirayakan di banyak budaya Asia.
Di Jepang, kedua konsep ini juga berkaitan dengan uchi dan soto, yaitu lingkaran "dalam" dan "luar". Tatemae biasanya ditunjukkan kepada orang luar atau orang yang baru dikenal, sedangkan honne diperlihatkan kepada keluarga dan sahabat. Takeo Doi melalui bukunya The Anatomy of Dependence (1973) membahas hubungan ketergantungan dan kedekatan interpersonal dalam masyarakat Jepang. Karyanya dapat menjadi landasan tambahan untuk memahami hubungan sosial serta batas antara kedekatan pribadi dan lingkungan luar. Itu sebabnya, ketika seseorang mulai berbagi honne, momen tersebut sering dianggap sebagai tanda bahwa ia sudah benar-benar diterima dalam lingkar pertemanan yang lebih dekat.
Meski begitu, zaman terus bergerak. Globalisasi, media sosial, dan interaksi dengan budaya lain membuat sebagian orang Jepang mulai mempertanyakan batas antara menjaga harmoni dan mengekang diri sendiri. Adapun inspirasi yang bisa dipetik dari tatemae dan honne adalah keseimbangan, di mana Anda bisa tetap ramah dan penuh pertimbangan di ruang publik, tetapi punya ruang aman untuk jujur pada perasaan sendiri bersama orang-orang terdekat.
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Dua Sisi Keramahan ala Jepang
Apakah tatemae sama dengan berbohong?
Tidak sepenuhnya. Dalam budaya Jepang, tatemae lebih dipandang sebagai etika sosial untuk menjaga perasaan orang lain dan menghindari konflik. Tatemae baru dianggap tidak jujur jika dipakai untuk menipu atau menghindari tanggung jawab.
Kapan orang Jepang menunjukkan honne?
Honne umumnya ditunjukkan kepada keluarga, sahabat, atau orang yang sudah sangat dekat. Dalam pertemanan maupun hubungan kerja, honne biasanya muncul perlahan setelah kepercayaan terbangun.
Bagaimana menyikapi tatemae saat berlibur atau bekerja dengan orang Jepang?
Kuncinya adalah peka membaca suasana dan tidak terburu-buru menilai. Ajukan pertanyaan dengan sopan, beri ruang bagi lawan bicara untuk menyampaikan pendapat, dan bangun kedekatan secara bertahap agar komunikasi terasa lebih terbuka.
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9388810/original/006254700_1793683157-Screenshot_2026-11-03_115910.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9323076/original/064136000_1786599582-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-08-13T123857.729.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9388777/original/057186300_1793680026-Cek_Fakta__Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran__8_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9373173/original/043570100_1791954492-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-10-14T120512.346.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1645227/original/045639200_1499757467-nn20130611i1a.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1411723/original/069752100_1479709693-Jepang.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9387840/original/049454400_1793576292-S__73179165.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5437037/original/069686000_1765195130-WhatsApp_Image_2025-12-08_at_16.01.33.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3559193/original/024993600_1630573027-vlcsnap-2021-09-02-11h09m01s068__2_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9385978/original/063727200_1793288759-IMG-20261029-WA0009.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9385027/original/054806600_1793210212-WhatsApp_Image_2026-10-27_at_8.55.27_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9384251/original/014376200_1793163977-WhatsApp_Image_2026-10-26_at_16.11.48.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5193655/original/000476600_1745236051-ChatGPT_Image_Apr_21__2025__06_46_46_PM.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9382249/original/070234100_1792985471-WhatsApp_Image_2026-10-25_at_09.42.1222.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4058765/original/090496100_1655735658-Vaksinasi_Flu.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381694/original/075241200_1792850777-IMG-20261023-WA0078.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381185/original/054329400_1792762607-IMG-20261023-WA0048.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360246/original/072582700_1790602854-1000446717.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9309834/original/000754000_1785290138-jap9.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9388609/original/057868500_1793634660-david-hdI9LW-2nvk-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8782471/original/014509800_1782888266-WhatsApp_Image_2026-07-01_at_13.43.00.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3340725/original/029354200_1609831254-tengelamq.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5493386/original/084476700_1770208624-2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9387252/original/094777200_1793452694-IMG_4093.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2843652/original/051367500_1562145738-yayaya_oke.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4930495/original/020325000_1724837594-Ilustrasi_rumah_angker__mistis__berhantu__aura_negatif.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9385548/original/086005200_1793260064-Untitled.jpg)