Liputan6.com, Jakarta - Menolak ajakan nongkrong atau memilih pulang lebih awal dari pesta bisa disalahartikan sebagai tanda kamu ingin sendirian. Padahal, bisa jadi yang kamu cari bukan sepi, melainkan suasana yang tenang. Keduanya tampak mirip dari luar, tetapi berbeda cara kerja dan dampaknya.
Orang yang lebih suka ketenangan umumnya tidak menolak kehadiran orang lain. Yang dihindari adalah keriuhan dan rangsangan berlebih. Tandanya antara lain cepat lelah oleh kebisingan, pulih saat suasana hening, nyaman menyendiri tanpa terputus dari dunia, dan siap bertemu orang lagi setelah energinya terisi.
Menurut David Ludden, Ph.D., dalam tulisannya di Psychology Today, kesepian adalah pengalaman menyakitkan karena terisolasi dari orang lain, sedangkan kesendirian (solitude) adalah pengalaman menyenangkan saat bersama diri sendiri. Adapun ketenangan dalam artikel ini merujuk pada suasana minim gangguan, baik suara, keramaian, maupun tuntutan, yang bisa kamu temukan sendirian atau bersama orang yang tepat.
Advertisement
Berikut tujuh tanda kamu sebenarnya lebih suka ketenangan daripada kesendirian menurut berbagai studi yang telah dirangkum Liputan6.com, Jumat (6/11/2026).
1. Kebisingan Lebih Menguras Tenaga daripada Orangnya
Kamu bisa sangat menikmati ngobrol dengan sahabat, tetapi cepat lelah ketika harus melakukannya di tempat dengan musik keras, lalu lintas padat, atau suara yang saling bersahutan. Kalau begitu, sumber lelahmu kemungkinan besar adalah bunyinya, bukan lawan bicaranya.
Dampak kebisingan memang tercatat serius di tingkat populasi. Dalam pengantar pedoman kebisingan lingkungan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk kawasan Eropa, para penulis menyebut kebisingan lingkungan termasuk ancaman lingkungan utama bagi kesehatan fisik dan mental di Eropa. Gangguan tidur dan rasa terganggu (annoyance) menjadi dampak yang paling umum.
Pada sebagian orang, ambang toleransinya lebih rendah. Studi di jurnal Scientific Reports (2025) tentang sensory processing sensitivity (SPS), yakni ciri kepribadian berupa kepekaan tinggi terhadap rangsangan, merujuk pada kerangka bahwa orang dengan SPS tinggi dapat mengalami overstimulation atau kelebihan rangsangan bahkan oleh input ringan seperti suara latar.
2. Hening Terasa Memulihkan, Bukan Menakutkan
Saat suasana benar-benar sunyi, kamu justru merasa lebih lega. Bagi orang yang menyukai ketenangan, jeda tanpa suara bukan kekosongan yang harus buru-buru diisi.
Jejaknya terlihat di laboratorium. Peneliti Italia yang dipimpin Luciano Bernardi menemukan, dalam studi yang terbit di jurnal Heart pada 2006, bahwa musik bertempo cepat meningkatkan laju napas, denyut jantung, dan tekanan darah. Saat musik dijeda, ketiganya turun, kadang hingga di bawah level awal, sebagaimana dijelaskan American Heart Association.
Temuan ini sebaiknya dibaca sebagai petunjuk, bukan aturan mutlak. Ia menunjukkan tubuh bisa merespons jeda suara dengan relaksasi, tetapi belum berarti keheningan total selalu menyenangkan bagi semua orang.
3. Nyaman Menyendiri, tetapi Tidak Ingin Benar-Benar Terputus
Tempat favoritmu mungkin kafe yang tidak terlalu ramai, perpustakaan, atau sudut taman. Kamu sendirian, tetapi masih ada kehidupan di sekitar. Kebiasaan ini sejalan dengan riset Morgan Quinn Ross dari Oregon State University dan Scott Campbell dari Ohio State University.
Keduanya menyurvei hampir 900 orang dewasa di Amerika Serikat. Hasilnya, bentuk kesendirian yang tidak terlalu penuh, seperti membaca di kafe atau menonton film sendirian, lebih mungkin memulihkan energi sekaligus menjaga rasa terhubung. Kesendirian yang intens, misalnya mendaki sendirian jauh di dalam hutan atau menulis di kabin terpencil, kurang menghasilkan efek itu.
Ross menyimpulkan kesendirian bukan sekadar kebalikan dari interaksi sosial. Interaksi yang intens memberi keterhubungan tetapi menguras energi, sedangkan kesendirian yang intens justru menguras energi dan keterhubungan sekaligus.
4. Kamu Memilih Sendiri dengan Sadar, Bukan karena Menghindar
Pembeda penting antara mencari ketenangan dan menarik diri ada pada alasannya. Saat kamu menyepi untuk mengisi ulang energi dan yakin akan kembali terhubung dengan orang lain nanti, waktu sendiri terasa seperti bekal.
Menurut Ross, orang yang bersikap positif terhadap kesendirian cenderung merasa lebih baik setelahnya. Sebaliknya, memilih sendirian karena enggan berbicara dengan siapa pun cenderung membuat perasaan memburuk. Studi itu juga mendapati kesendirian lebih kecil dampak buruknya bagi orang yang meyakini bahwa ia membantu memulihkan energi dan menjaga keterhubungan.
Cara memaknai waktu sendiri memang berpengaruh. Dalam eksperimen tim peneliti dari University of Michigan dan Harvard University yang terbit di Journal of Personality, 224 orang yang merasa kesepian lebih rileks dan puas setelah 10 menit sendirian jika sebelumnya membaca tentang manfaat kesendirian.
5. Sendirian Tidak Membuatmu Merasa Hampa
Tanda berikutnya terletak pada rasa setelahnya. Ketika waktu tenang berakhir, kamu merasa utuh, bukan kosong. Kesepian muncul ketika kebutuhan akan interaksi tidak terpenuhi, dan rasanya menyakitkan. Kesendirian yang kamu pilih tidak menimbulkan rasa itu.
Peneliti pun memandang keduanya sebagai hal berbeda. Makalah konferensi AGen2026 karya TzeHoung Lee dan Peter Tay dari Singapura menemukan preferensi kesendirian sebagai konstruk tersendiri, terpisah dari kesepian, kecemasan sosial, dan ekstraversi. Korelasinya dengan kesepian tergolong sedang (r = 0,42), sehingga keduanya bisa beririsan pada sebagian orang.
6. Setelah Tenang, Kamu Siap Bertemu Orang Lagi
Jeda tenang membuatmu lebih siap, bukan lebih enggan, untuk kembali bersosialisasi. Kamu mungkin menolak pesta malam ini, tetapi bersemangat makan siang bersama teman akhir pekan nanti.
Pola ini sejalan dengan saran Ross, yakni mencari kesendirian ketika motivasinya konstruktif. Studi lain dari Osaka University terhadap 318 mahasiswa di Jepang menemukan, setelah pengaruh kesepian dikendalikan, preferensi kesendirian justru menurunkan emosi negatif dan mendukung kesejahteraan emosional.
7. Kamu Selektif terhadap Rangsangan, Bukan Anti-Rangsangan
Menyukai ketenangan tidak berarti membenci semua rangsangan. Kamu mungkin tetap menikmati musik lembut, aroma kopi, atau obrolan hangat berdua. Yang dihindari adalah rangsangan yang terasa memaksa.
Studi Scientific Reports tadi menjelaskan bahwa rangsangan yang dipersepsikan negatif dapat memicu overstimulation, sedangkan rangsangan yang dipersepsikan positif, seperti musik, justru bisa meningkatkan kesejahteraan. Mengenali mana yang menenangkan dan mana yang melelahkan membantu kamu menata hari, misalnya memilih tempat bertemu yang tidak terlalu ramai.
Kapan Ketenangan Perlu Diwaspadai?
Menyukai ketenangan umumnya wajar. Yang perlu diperhatikan adalah perubahan: dari orang yang aktif bersosialisasi tiba-tiba menarik diri, merasa kesepian atau murung, atau mulai terganggu dalam pekerjaan dan pendidikan. Perubahan drastis semacam itu perlu diwaspadai dan harus dinilai lebih lanjut.
Kementerian Kesehatan menyediakan skrining kesehatan jiwa mandiri gratis di aplikasi SATUSEHAT Mobile, lewat menu Fitur lalu Kesehatan Mental. Hasilnya dapat ditindaklanjuti ke fasilitas pelayanan kesehatan bila ada indikasi masalah. Perlu diingat, artikel ini bukan pengganti konsultasi dengan psikolog, psikiater, atau tenaga kesehatan profesional.
Pertanyaan Seputar Ketenangan dan Kesendirian
1. Apa perbedaan ketenangan, kesendirian, dan kesepian?
Kesendirian (solitude) adalah pengalaman menyenangkan saat bersama diri sendiri, sedangkan kesepian adalah pengalaman menyakitkan karena merasa terisolasi dari orang lain. Ketenangan merujuk pada suasana minim gangguan yang bisa dirasakan sendirian maupun bersama orang lain.
2. Apakah lebih suka suasana tenang berarti introvert?
Belum tentu. Riset Oregon State University mencatat manfaat memilih kesendirian dengan motivasi positif umumnya berlaku bagi ekstrovert maupun introvert. Kebutuhan akan suasana tenang juga bisa berkaitan dengan SPS, yang menurut peneliti Swansea University merupakan konstruk terpisah dari lima ciri kepribadian Big Five.
3. Apakah suka menyendiri tanda depresi?
Tidak otomatis. Lihat apakah kebiasaan itu sudah lama menjadi bagian dirimu atau muncul mendadak. Perubahan drastis dari aktif menjadi menarik diri, apalagi disertai gangguan pekerjaan atau pendidikan, perlu dinilai tenaga profesional.
4. Mengapa saya mudah lelah di tempat ramai dan berisik?
Kebisingan lingkungan dikaitkan dengan rasa terganggu dan gangguan tidur. Pada orang dengan SPS tinggi, rangsangan ringan seperti suara latar pun dapat memicu overstimulation.
5. Bagaimana menyeimbangkan waktu tenang dan bersosialisasi?
Berdasarkan saran peneliti Oregon State University, pilih kesendirian yang tidak terlalu intens seperti membaca di kafe, lakukan untuk memulihkan energi dan bukan untuk menghindari orang, lalu rencanakan kembali terhubung dengan orang lain.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9296218/original/017054600_1784007463-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-14T123701.052.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9389787/original/061479300_1793772850-Screenshot_2026-11-04_131352.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9346108/original/077588800_1789110397-cek_fakta_cpns_imigrasi.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9391542/original/015530900_1793938826-cek_fakta_transfer.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5222312/original/031163500_1747389629-steptodown.com582511.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9391954/original/072137000_1793958689-Vertical_500x656_-_Dayatana.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9345690/original/067748100_1789050705-WhatsApp_Image_2026-09-10_at_21.02.17.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9344472/original/056989200_1788947104-WhatsApp_Image_2026-09-09_at_4.34.59_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9329986/original/052581700_1787307659-WhatsApp_Image_2026-08-21_at_17.03.26.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9308204/original/009529000_1785132477-WhatsApp_Image_2026-07-27_at_12.46.15_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9304577/original/005200700_1784721544-WhatsApp_Image_2026-07-22_at_18.12.19.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9291253/original/086637400_1783510555-WhatsApp_Image_2026-07-08_at_17.07.14.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9290264/original/065273200_1783441564-WhatsApp_Image_2026-07-07_at_20.36.04.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9290208/original/083376600_1783432448-WhatsApp_Image_2026-07-07_at_20.29.47.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9290170/original/059488200_1783429797-WhatsApp_Image_2026-07-07_at_19.50.54.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9271167/original/049315200_1783170039-WhatsApp_Image_2026-07-04_at_17.30.33.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8974535/original/013451500_1782983178-1106e511-c5ef-46a5-8b74-de1fd75e92f8.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262336/original/070728700_1781780140-WhatsApp_Image_2026-06-18_at_17.41.22.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4653599/original/043466900_1700279714-WhatsApp_Image_2023-11-18_at_10.51.59.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355055/original/082772300_1790070742-roman-budnikov-LrmVfNfhFOw-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9387840/original/049454400_1793576292-S__73179165.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5437037/original/069686000_1765195130-WhatsApp_Image_2025-12-08_at_16.01.33.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3559193/original/024993600_1630573027-vlcsnap-2021-09-02-11h09m01s068__2_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9385978/original/063727200_1793288759-IMG-20261029-WA0009.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9385027/original/054806600_1793210212-WhatsApp_Image_2026-10-27_at_8.55.27_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9384251/original/014376200_1793163977-WhatsApp_Image_2026-10-26_at_16.11.48.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5193655/original/000476600_1745236051-ChatGPT_Image_Apr_21__2025__06_46_46_PM.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9382249/original/070234100_1792985471-WhatsApp_Image_2026-10-25_at_09.42.1222.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4058765/original/090496100_1655735658-Vaksinasi_Flu.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381694/original/075241200_1792850777-IMG-20261023-WA0078.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9391472/original/035067700_1793935543-Gemini_Generated_Image_xzpr40xzpr40xzpr.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5232994/original/036615700_1748258353-steptodown.com164240.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5470543/original/058473300_1768209856-ssd.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9390463/original/053956000_1793841338-d47208ca-c197-4cec-9701-d7b3eb7e2c6f.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4935707/original/087963800_1725369647-Screenshot_2024-09-03_200828.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9391145/original/079832900_1793874540-12325__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3978771/original/031585400_1648575551-Dana_Darurat.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9391137/original/005951500_1793873374-HL_Oleh_oleh.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9391110/original/099226300_1793872265-pexels-imadclicks-13107081.jpg)