Liputan6.com, Jakarta - Menonton adegan menyeramkan atau sosok hantu yang mengagetkan bagi sebagian orang mungkin adalah mimpi buruk, namun pernahkah Anda bertanya-tanya apa alasan orang suka film horor dari sisi psikologi? Padahal, secara logika dasar, manusia diciptakan untuk secara alami menghindari hal-hal yang memicu rasa takut atau mengancam keselamatan dan kenyamanan mereka.
Fenomena unik ini rupanya telah lama menjadi subjek penelitian yang menarik di bidang psikologi klinis maupun evolusioner. Sensasi tegang yang terbangun perlahan, detak jantung yang berpacu cepat, hingga jeritan panjang saat adegan jumpscare muncul ternyata memberikan efek yang jauh lebih kompleks pada otak manusia daripada sekadar rasa kaget sesaat.
Lantas, mengapa ada orang yang rela mengeluarkan uang dan meluangkan waktu demi ditakut-takuti di dalam gelapnya studio bioskop? Mari bedah bersama misteri di balik layar ketakutan ini dan temukan jawaban ilmiah mengapa otak justru bisa sangat menikmati teror fiktif yang disajikan oleh para sineas layar lebar.
Advertisement
1. Sensasi Pelepasan Adrenalin (Adrenaline Rush)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4641303/original/094507000_1699494854-man-hugging-popcorn-watching-movie.jpg)
Ketika menonton adegan yang menegangkan, otak kita secara otomatis akan merespons dengan memicu pelepasan hormon adrenalin, endorfin, dan dopamin secara bersamaan. Lonjakan hormon inilah yang membuat jantung berdebar lebih kencang, napas memburu, dan tubuh seketika berada dalam mode waspada tingkat tinggi layaknya sedang menghadapi bahaya nyata di alam liar.
Menariknya, perpaduan berbagai hormon tersebut rupanya menciptakan sensasi euforia atau rasa kepuasan mendalam sesaat setelah momen menakutkan itu berlalu. Bagi para pencinta genre horor ekstrem, lonjakan adrenalin murni ini memberikan kenikmatan tersendiri yang membuat mereka merasa jauh lebih hidup dan bersemangat.
Advertisement
2. Sarana Katarsis dan Pelepasan Stres
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4641304/original/020381900_1699494858-scared-girls-watching-tv.jpg)
Dunia psikologi mengenal istilah katarsis, yaitu proses penyucian atau pelepasan emosi negatif yang selama ini terpendam di alam bawah sadar. Menonton film horor ternyata memberikan ruang pelampiasan yang aman bagi seseorang untuk meluapkan emosi, seperti rasa cemas, frustrasi, atau stres berat akibat tuntutan pekerjaan dan rutinitas sehari-hari.
Saat menjerit atau menutup mata di tengah alur cerita bioskop, penonton sejatinya sedang membuang ketegangan dari dalam diri mereka melalui stimulus visual. Setelah film selesai diputar, tubuh akan otomatis mengalami fase relaksasi yang membuat pikiran terasa lebih ringan, seolah-olah beban stres ikut menguap bersama rasa takut tadi.
3. Kesadaran Akan Rasa Aman (Safe Threat)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4014153/original/060548300_1651713088-pexels-cottonbro-8263358_1_.jpg)
Otak manusia dianugerahi kemampuan yang sangat cerdas dalam membedakan antara ancaman sungguhan dan ancaman yang bersifat fiktif. Ketika Anda melihat sosok pembunuh berantai di layar, amigdala (pusat rasa takut di otak) memang bereaksi, namun korteks prefrontal akan segera merasionalisasi dan menyadari bahwa Anda sedang duduk sangat aman di atas sofa.
Paradoks "ancaman yang aman" atau safe threat inilah yang pada akhirnya membuat pengalaman menakutkan tersebut berubah wujud menjadi sebuah hiburan. Kita bisa menikmati sensasi mendebarkan dikejar monster atau psikopat tanpa harus benar-benar mempertaruhkan nyawa sedikit pun.
Advertisement
4. Keingintahuan Terhadap Sisi Gelap Kehidupan
![[Bintang] Get Out](https://cdn0-production-images-kly.akamaized.net/F-eDZBF4Ephj1yyogKsl2KP6WbU=/640x360/smart/filters:quality(75):strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1814265/original/032147900_1514435524-2._UNIVERSAL_PICTURES.jpg)
Manusia pada dasarnya memiliki rasa penasaran bawaan yang sangat besar (morbid curiosity) terhadap hal-hal yang tabu, misterius, kelam, atau berada di luar nalar akal sehat manusia pada umumnya. Film horor berperan penting menyediakan jendela imajinatif tanpa batas untuk mengeksplorasi tema-tema menakutkan seperti kematian, alam gaib, hingga psikologi kejahatan.
Rasa keingintahuan yang mendalam ini dapat terpenuhi secara visual tanpa mengharuskan penontonnya berhadapan langsung dengan kengerian tersebut di realitas.
Terjawabnya rasa penasaran melalui penyelesaian konflik di akhir cerita akan memberikan stimulasi kognitif yang memuaskan dan sering membuat penonton ketagihan.
5. Mendorong Ikatan Sosial yang Kuat
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1748293/original/062460700_1508757154-Mengapa-Orang-Senang-Nonton-Film-Horor.jpg)
Pernahkah Anda memperhatikan bahwa film bergenre horor selalu terasa jauh lebih seru jika ditonton beramai-ramai bersama geng pertemanan atau pasangan? Secara psikologis, mengalami pengalaman menakutkan secara bersama-sama ternyata sangat efektif memicu pelepasan hormon oksitosin yang berperan sentral dalam mempererat ikatan kedekatan antarmanusia.
Momen saling berpegangan tangan dengan erat saat adegan menyeramkan, menjerit serempak, hingga menertawakan wajah ketakutan satu sama lain menciptakan memori kolektif yang sangat menyenangkan.
Inilah alasan logis mengapa genre horor secara konsisten mendominasi daftar pilihan utama untuk acara kumpul-kumpul atau bahkan kencan pertama.
Advertisement
6. Simulasi Menaklukkan Ketakutan Diri Sendiri
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4870107/original/076149900_1718942518-pexels-cottonbro-5435310.jpg)
Berhasil menyelesaikan tontonan horor tanpa beranjak dari kursi sejak menit pertama hingga credit title muncul sering kali memberikan semacam rasa pencapaian psikologis tersendiri bagi penontonnya. Ada kebanggaan tersembunyi ketika seseorang sukses melewati adegan-adegan kejam atau deretan jumpscare paling epik tanpa memalingkan wajah.
Proses menaklukkan rasa takut di layar ini secara tidak sadar dapat berkontribusi dalam meningkatkan rasa percaya diri seseorang ketika dihadapkan pada masalah di dunia nyata.
Film horor tanpa disadari berfungsi sebagai medium simulasi keberanian untuk melatih ketahanan mental agar menjadi pribadi yang lebih tangguh.
Pertanyaan Seputar Psikologi Menonton Film Horor
1. Apakah normal jika seseorang sangat terobsesi dengan film horor?
Tentu, hal tersebut dikategorikan sangat normal selama hobi tersebut tidak mengganggu kelancaran fungsi kehidupan sehari-hari atau memicu kambuhnya trauma masa lalu.
2. Mengapa sebagian orang justru tertawa terbahak-bahak saat menonton horor?
Tertawa di tengah ketakutan merupakan salah satu bentuk mekanisme pertahanan diri psikologis (defense mechanism). Otak melakukannya untuk meredakan ketegangan saraf secara cepat dan meyakinkan tubuh bahwa situasi tersebut tidaklah nyata.
3. Benarkah ketegangan menonton film horor bisa ikut membakar kalori tubuh?
Ya, sebuah studi terkenal dari University of Westminster pernah mempublikasikan temuan bahwa detak jantung yang terpacu cepat akibat adrenalin saat menonton film horor berdurasi 90 menit sanggup membakar rata-rata hingga 113 kalori.
4. Apakah anak-anak di bawah umur boleh dibiarkan menonton film horor?
Sangat tidak disarankan. Bagian kognitif otak anak-anak belum terbentuk sempurna untuk membedakan antara realitas dan fiksi, sehingga paparan visual horor berisiko tinggi memicu gangguan tidur menetap, kecemasan berlebih, hingga trauma jangka panjang.
5. Mengapa setelah bioskop selesai kita sering merasa paranoid di rumah sendiri?
Kondisi ini terjadi karena otak dan sistem saraf Anda masih berada dalam fase waspada tinggi (hyperarousal) akibat sisa efek hormon adrenalin yang belum sepenuhnya ternetralisir.
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5521382/original/090333100_1772688718-gempa_besar-_klaim_facebook.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9385238/original/034787500_1793247276-Cek_Fakta__Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran__7_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9359577/original/013031200_1790564633-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-09-28T100252.716.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9384458/original/090026400_1793172561-Screenshot_2026-10-28_141303.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5385935/original/084962800_1760949173-Menonton_film_horor.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9385027/original/054806600_1793210212-WhatsApp_Image_2026-10-27_at_8.55.27_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9384251/original/014376200_1793163977-WhatsApp_Image_2026-10-26_at_16.11.48.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5193655/original/000476600_1745236051-ChatGPT_Image_Apr_21__2025__06_46_46_PM.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4058765/original/090496100_1655735658-Vaksinasi_Flu.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381694/original/075241200_1792850777-IMG-20261023-WA0078.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381185/original/054329400_1792762607-IMG-20261023-WA0048.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360246/original/072582700_1790602854-1000446717.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335798/original/047657000_1788064938-AI.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9379459/original/051652600_1792631921-WhatsApp_Image_2026-10-21_at_12.39.32.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374953/original/008947000_1792115215-1.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5312560/original/060717400_1754968440-WhatsApp_Image_2025-08-12_at_09.48.53_5f3125cb.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9373598/original/035832400_1791969676-Mesin_Pencacah_Sampah_3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9384509/original/004715500_1793174492-30174.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5467917/original/059571100_1767935103-IMG_9940-01.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9334878/original/016778100_1787903186-Yusuf_Mahardika_as_Damar__2_.jpg)