Liputan6.com, JakartaEmas kini bukan lagi sekadar perhiasan yang dikenakan saat menghadiri acara tertentu. Seiring meningkatnya kesadaran untuk mengelola keuangan, banyak perempuan muda mulai menyisihkan sebagian penghasilannya untuk membeli emas secara bertahap sebagai bentuk tabungan.
Biasanya, ciri orang yang suka beli emas untuk tabungan dapat dilihat dari kebiasaannya dalam mengatur keuangan. Mereka cenderung mengutamakan rasa aman, memiliki kesabaran, serta memikirkan kondisi finansial untuk jangka panjang. Dibandingkan mengejar keuntungan dalam waktu singkat, mereka lebih memilih mengumpulkan aset sedikit demi sedikit.
Seperti diketahui, emas kerap dipilih sebagai salah satu instrumen untuk menyimpan nilai kekayaan, melakukan diversifikasi portofolio, hingga menghadapi ketidakpastian ekonomi. Hal ini juga menjadi salah satu alasan orang tertarik menjadikan emas sebagai tabungan. Lantas, seperti apa ciri orang yang suka membeli emas untuk tabungan? Berikut ulasan selengkapnya, dirangkum Liputan6.com pada Sabtu (7/11/2026).
Advertisement
Apa Itu Menabung Emas dan Siapa Saja Penabungnya
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8964994/original/069919500_1782978352-Menabung_Emas_Digital.jpeg)
Sebelum masuk ke ciri-cirinya, ada baiknya memahami dulu konsep dasarnya. Menabung emas adalah kebiasaan membeli emas dalam jumlah kecil secara rutin lalu menyimpannya untuk jangka panjang. Konsep ini berbeda dari membeli emas batangan dalam jumlah besar sekaligus, karena penabung emas bisa mulai dari nominal yang ramah di kantong. Penjelasan lengkap soal konsep menabung emas juga menunjukkan bahwa cara ini cocok untuk pelajar, pekerja muda, sampai keluarga baru.
Secara umum, ada dua bentuk yang bisa dipilih, yaitu emas fisik dan tabungan emas digital. Emas fisik bisa berupa batangan, koin, atau perhiasan yang disimpan sendiri di brankas atau safe deposit box. Sementara itu, tabungan emas digital tercatat dalam satuan gram di aplikasi, dengan fisik emas yang disimpan oleh lembaga resmi. Banyak platform juga memberi pilihan mencetak saldo menjadi emas fisik kalau jumlahnya sudah mencapai berat tertentu.
Lalu, siapa sebenarnya para penabung emas ini? Mereka datang dari latar belakang yang beragam, mulai dari karyawan kantoran, ibu rumah tangga, sampai mahasiswa yang baru belajar mengatur uang saku. Benang merahnya sama: mereka ingin punya simpanan yang nilainya terjaga. Di banyak budaya, termasuk di Asia, emas bahkan dianggap warisan keluarga.
Emas berpindah dari tangan satu generasi ke pergelangan tangan generasi berikutnya, membawa bukan hanya nilai tetapi juga cerita. Dari situ terlihat bahwa ciri orang yang suka beli emas untuk tabungan tidak cuma soal angka di rekening. Ada unsur emosi, kebiasaan keluarga, dan cara pandang terhadap masa depan yang ikut membentuk keputusan mereka. Inilah yang membuat kebiasaan menabung emas terasa begitu personal dan relatable buat banyak perempuan usia 20-35 tahun.
Advertisement
Ciri Orang yang Suka Beli Emas untuk Tabungan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2979198/original/042665500_1574841782-gold-is-money-2430051_1920.jpg)
Kebiasaan menabung emas ternyata mencerminkan kepribadian finansial tertentu. Sebagaimana dilaporkan Discovery Alert, investor dengan pola pikir ini memandang emas sebagai penyimpan nilai lintas generasi yang mampu menjaga daya beli selama puluhan tahun, sehingga mereka relatif tidak terpengaruh fluktuasi harga jangka pendek. Berikut ciri-ciri yang paling sering terlihat, dirangkum dari kajian perilaku keuangan dan pengamatan redaksi.
1. Mengutamakan Rasa Aman daripada Untung Besar
Ciri pertama yang paling menonjol adalah prioritas pada keamanan. Dalam ilmu perilaku keuangan, kecenderungan ini dikenal sebagai loss aversion, yaitu rasa takut kehilangan yang lebih kuat daripada keinginan meraih untung. Orang dengan ciri ini lebih tenang kalau asetnya stabil, meskipun pertumbuhannya tidak secepat instrumen lain.
2. Lebih Percaya pada Aset yang Berwujud
Banyak penabung emas merasa lebih nyaman dengan sesuatu yang bisa dilihat dan dipegang. Emas bisa disimpan, dibawa, atau diberikan ke keluarga saat darurat. Rasa "nyata" inilah yang membuat mereka merasa lebih tenang dibandingkan memegang aset yang hanya berupa angka di layar.
3. Berpikir Jangka Panjang
Mereka tidak membeli emas untuk dijual minggu depan. Emas dianggap sebagai simpanan untuk tujuan besar, seperti dana pendidikan anak, biaya menikah, atau tabungan hari tua. Karena horizonnya panjang, mereka cenderung tidak panik ketika harga turun sementara.
4. Disiplin Menyisihkan Uang Sedikit demi Sedikit
Ciri berikutnya adalah konsistensi. Penabung emas biasanya rutin membeli dengan nominal kecil setiap bulan, bahkan mulai dari Rp10 ribu di beberapa layanan. Strategi rutin seperti ini dikenal sebagai dollar-cost averaging, yang membantu mendapatkan harga rata-rata lebih stabil dari waktu ke waktu.
5. Memisahkan Emas dari Uang Harian
Orang yang suka menabung emas umumnya punya "pos khusus" di kepala mereka. Emas tidak dianggap uang jajan, melainkan simpanan yang hanya disentuh untuk kebutuhan penting. Kebiasaan ini sejalan dengan konsep mental accounting, ketika seseorang mengelompokkan uang berdasarkan fungsinya.
6. Punya Tujuan Finansial yang Jelas
Mereka biasanya tahu persis untuk apa emas itu dikumpulkan. Tujuan yang jelas membuat mereka lebih termotivasi dan tidak mudah tergoda untuk mencairkan simpanan demi belanja impulsif.
7. Melek Digital dan Suka yang Praktis
Generasi penabung emas masa kini banyak memanfaatkan aplikasi. Mereka bisa membeli, memantau harga, sampai menjual emas langsung dari smartphone tanpa harus datang ke toko. Praktis, rapi, dan cocok dengan gaya hidup yang serba sibuk.
8. Sabar dan Tidak Mudah Panik
Harga emas tetap bisa naik turun dalam jangka pendek. Penabung emas yang matang memahami hal ini, sehingga mereka tetap tenang dan fokus pada tujuan awal saat harga sedang terkoreksi.
9. Punya Ikatan Emosional dengan Emas
Bagi sebagian orang, emas mengingatkan pada keluarga, pencapaian, atau momen penting dalam hidup. Kalung emas milik nenek, misalnya, bisa begitu dihargai bukan hanya karena nilai materialnya, tetapi juga karena kenangan yang melekat padanya.
Psikologi di Balik Kebiasaan Menabung Emas
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9310807/original/088871800_1785371580-Gemini_Generated_Image_hjxpijhjxpijhjxp.jpg)
Kalau diperhatikan, ciri orang yang suka beli emas untuk tabungan banyak dipengaruhi faktor psikologis. Salah satunya adalah status quo bias, yaitu kecenderungan mengulang kebiasaan yang sudah terasa familier. Jika orang tua dulu menabung emas dan hasilnya terasa bermanfaat, anak-anaknya pun cenderung meneruskan kebiasaan yang sama. Itulah sebabnya kebiasaan ini sering diwariskan dalam keluarga, lengkap dengan cerita-cerita di baliknya.
Selain itu, ada juga pengaruh lingkungan sosial. Seperti yang diberitakan Goldify,efek herding memperkuat segalanya, karena ketika berita dan linimasa media sosial menunjukkan orang lain membeli emas, dorongan untuk ikut menjadi sangat kuat.Momen ini terasa relevan dengan tren di media sosial, ketika konten "nabung emas tiap gajian" ramai dibagikan dan menjadi inspirasi banyak warganet.
Meski begitu, para peneliti mengingatkan agar keputusan menabung emas tetap dilandasi pertimbangan matang, bukan sekadar ikut-ikutan. Berdasarkan studi berjudul Gold: The Ultimate Behavior Bias yang terbit di The Journal of Investing,para penulis mengaitkan daya tahan popularitas emas dengan lima bias perilaku: mengejar tren, pengaruh media, ikut-ikutan, anchoring, dan bias konfirmasi.Temuan ini bisa jadi pengingat yang sehat agar setiap pembelian emas tetap selaras dengan tujuan pribadi.
Di sisi lain, sifat langka emas juga ikut memberi rasa percaya diri. Berbeda dengan uang, emas tidak bisa dicetak sesuka hati, sehingga banyak orang meyakini nilainya akan terjaga dalam jangka panjang. Kombinasi antara rasa aman, kebiasaan keluarga, dan keyakinan terhadap kelangkaan inilah yang membuat emas tetap punya tempat istimewa di hati para penabung.
Advertisement
Pandangan Para Ahli soal Emas sebagai Tabungan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9324721/original/082544700_1786765344-word_media_image1_2_.jpg)
Para pakar keuangan dunia punya pandangan yang beragam soal peran emas, dan semuanya menarik untuk disimak oleh penabung pemula. Mantan Ketua Federal Reserve, Ben Bernanke, dikutip dari US Money Reserve menyatakan, "Alasan orang memegang emas adalah sebagai perlindungan terhadap apa yang kami sebut risiko ekor, yaitu hasil yang benar-benar sangat buruk."
Namun, ada juga pakar yang mengingatkan agar ekspektasi tetap realistis. Joseph Greif, direktur investasi di Evelyn Partners, dikutip dari MoneyWeek menyatakan, "Pergerakannya belakangan ini terasa tidak nyaman bagi investor yang berharap emas langsung melindungi portofolio mereka. Pandangan-pandangan tersebut justru menguatkan salah satu ciri utama penabung emas, yaitu kesabaran. Chussler, dikutip dari BestReviews menyatakan, "Dalam jangka panjang, logam mulia cenderung sedikit lebih stabil, tetapi dalam jangka pendek dan menengah, volatilitasnya bisa sama besarnya dengan aset lain."
Kebiasaan Positif yang Bisa Ditiru dari Para Penabung Emas
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1369942/original/091580800_1476098427-20161010-Harga-emas-stagnan-di-posisi-Rp-599-Jakarta-AY5.jpg)
Kalau kamu merasa punya beberapa ciri di atas, selamat, berarti kamu sudah punya modal mindset finansial yang baik. Berikut kebiasaan positif yang bisa diterapkan agar tabungan emas makin terarah. Dilansir dari Yahoo Finance, para ahli keuangan umumnya merekomendasikan alokasi emas antara 5 hingga 15 persen dalam portofolio, karena porsi ini memberi perlindungan terhadap inflasi dan volatilitas pasar sambil tetap memberi ruang bagi portofolio untuk bertumbuh.
- Tentukan tujuan sejak awal. Putuskan apakah emas akan dipakai untuk dana pendidikan, membeli rumah, atau sekadar membangun kebiasaan menyisihkan uang. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga menyarankan investor mengenali profil dan tujuan investasinya sebelum memilih produk.
- Pilih lembaga resmi. Pastikan tempat membeli emas punya legalitas jelas dan diawasi regulator. Hindari tawaran emas dengan harga jauh di bawah pasaran dari pihak perorangan.
- Baca rincian biaya. Layanan tabungan emas bisa mengenakan biaya administrasi atau pengelolaan rekening. Selisih kecil tetap perlu dihitung jika menabung rutin dalam jangka panjang.
- Perhatikan selisih harga jual dan beli. Setiap platform punya harga buyback sendiri, jadi bandingkan dulu sebelum memutuskan.
- Jangan membeli karena FOMO. Harga emas yang sedang ramai dibicarakan bisa memancing rasa takut ketinggalan. Tetap kembali ke rencana awal agar keputusan tidak emosional.
- Konsisten dengan nominal kecil. Menyisihkan sebagian kecil gaji setiap bulan membantu tabungan terus bertambah tanpa mengganggu kebutuhan harian.
- Jaga keamanan akun dan penyimpanan. Untuk emas digital, lindungi smartphone dengan PIN dan ganti kata sandi secara berkala. Untuk emas fisik, pilih tempat penyimpanan yang aman.
- Tetap lakukan diversifikasi. Emas bisa dikombinasikan dengan instrumen lain seperti deposito atau reksa dana agar risiko keuangan lebih seimbang.
Bagi yang baru mau mulai, ada beberapa hal penting sebelum memulai tabungan emas, mulai dari pembukaan rekening hingga cara memantau riwayat transaksi.
Advertisement
Tren Menabung Emas Kian Diminati Anak Muda
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5503779/original/042463700_1771211872-Ilustrasi_Cokelat_Valentine__Photo_by_valeria_aksakova_on_Freepik___4_.jpg)
Dari pengamatan redaksi, menabung emas kini makin lekat dengan gaya hidup anak muda urban. Layanan tabungan emas hadir di aplikasi perbankan dan platform digital, sehingga membeli emas terasa semudah memesan kopi kekinian. Tak heran netizen ramai membagikan progres tabungan emas mereka sebagai bagian dari konten self-improvement dan financial goals.
Perkembangan terbaru juga menunjukkan minat yang terus meningkat. Pada Agustus 2026, BCA bersama Pegadaian resmi meluncurkan layanan tabungan emas di aplikasi myBCA. Kerja sama ini didorong oleh popularitas investasi emas yang kian tinggi sebagai aset favorit masyarakat Indonesia. Berdasarkan data Pegadaian, harga tabungan emas per 13 Agustus 2026 berada di Rp26.030 per 0,01 gram, naik lebih dari 30 persen dalam setahun terakhir.
Tren ini juga sejalan dengan gaya hidup mindful spending yang sedang digemari perempuan muda. Alih-alih menghabiskan seluruh gaji untuk belanja impulsif, banyak yang mulai memilih menyisihkan sebagian kecil untuk aset jangka panjang. Momen ini jadi inspirasi bagi banyak orang bahwa mengelola uang bisa dimulai dari langkah sederhana dan menyenangkan.
Pada akhirnya, ciri orang yang suka beli emas untuk tabungan mencerminkan sosok yang sabar, disiplin, dan peduli pada masa depan. Selama tetap dibarengi tujuan yang jelas, pilihan lembaga resmi, dan ekspektasi yang realistis, kebiasaan ini bisa jadi langkah kecil yang berdampak besar untuk ketenangan finansial.
Penutupnya, semua kebiasaan baik tadi bisa dimulai hari ini dengan nominal sekecil apa pun. Yang terpenting adalah konsisten dan nyaman dengan prosesnya, karena tabungan emas yang tumbuh perlahan sering kali justru yang paling membanggakan.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9385238/original/034787500_1793247276-Cek_Fakta__Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran__7_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9391176/original/070792400_1793875895-Screenshot_2026-11-05_170652.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8259592/original/057928600_1781507421-guru_sekolah_rakyat_-_cek_fakta.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4586406/original/086311500_1695517878-BNI_naikan_tarif.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8975047/original/002262500_1782983524-perhiasan.jpeg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9391954/original/072137000_1793958689-Vertical_500x656_-_Dayatana.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9345690/original/067748100_1789050705-WhatsApp_Image_2026-09-10_at_21.02.17.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9344472/original/056989200_1788947104-WhatsApp_Image_2026-09-09_at_4.34.59_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9329986/original/052581700_1787307659-WhatsApp_Image_2026-08-21_at_17.03.26.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9308204/original/009529000_1785132477-WhatsApp_Image_2026-07-27_at_12.46.15_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9304577/original/005200700_1784721544-WhatsApp_Image_2026-07-22_at_18.12.19.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9291253/original/086637400_1783510555-WhatsApp_Image_2026-07-08_at_17.07.14.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9290264/original/065273200_1783441564-WhatsApp_Image_2026-07-07_at_20.36.04.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9290208/original/083376600_1783432448-WhatsApp_Image_2026-07-07_at_20.29.47.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9290170/original/059488200_1783429797-WhatsApp_Image_2026-07-07_at_19.50.54.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9271167/original/049315200_1783170039-WhatsApp_Image_2026-07-04_at_17.30.33.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8974535/original/013451500_1782983178-1106e511-c5ef-46a5-8b74-de1fd75e92f8.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262336/original/070728700_1781780140-WhatsApp_Image_2026-06-18_at_17.41.22.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1588019/original/097014900_1538998899-PG_1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9392062/original/015622700_1793969928-WhatsApp_Image_2026-11-06_at_12.54.23_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4653599/original/043466900_1700279714-WhatsApp_Image_2023-11-18_at_10.51.59.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355055/original/082772300_1790070742-roman-budnikov-LrmVfNfhFOw-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9387840/original/049454400_1793576292-S__73179165.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5437037/original/069686000_1765195130-WhatsApp_Image_2025-12-08_at_16.01.33.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3559193/original/024993600_1630573027-vlcsnap-2021-09-02-11h09m01s068__2_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9385978/original/063727200_1793288759-IMG-20261029-WA0009.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9385027/original/054806600_1793210212-WhatsApp_Image_2026-10-27_at_8.55.27_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9384251/original/014376200_1793163977-WhatsApp_Image_2026-10-26_at_16.11.48.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5193655/original/000476600_1745236051-ChatGPT_Image_Apr_21__2025__06_46_46_PM.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9382249/original/070234100_1792985471-WhatsApp_Image_2026-10-25_at_09.42.1222.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3352151/original/051235700_1610959710-20210118-Emas-Antam-5.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4103058/original/008204000_1658923818-Harga_emas_menguat_tipis-ANGGA_3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4501106/original/027502200_1689235678-Antam.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9310805/original/018959900_1785371554-Gemini_Generated_Image_skzpy7skzpy7skzp.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3352153/original/096135700_1610959711-20210118-Emas-Antam-7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4156442/original/088611200_1663062671-Emas6.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5219633/original/084845400_1747221145-20250514-Harga_Emas-ANG_2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3532289/original/028365400_1628161488-20210805-Harga-emas-alami-penurunan-ANGGA-4.jpg)