Liputan6.com, Jakarta Ada orang yang rasanya belum benar-benar pulang dari perjalanan kalau belum mampir ke toko oleh-oleh. Sebelum kembali ke rumah, mereka selalu menyempatkan diri mencari buah tangan untuk keluarga atau orang-orang terdekat. Bahkan, terkadang koper sengaja disisakan ruang khusus agar bisa membawa pulang berbagai pilihan oleh-oleh.
Kebiasaan ini biasanya menunjukkan perhatian mereka terhadap orang lain. Mereka sering kali sudah memikirkan siapa yang akan diberi oleh-oleh, mengingat makanan atau barang kesukaan keluarga, bahkan menyiapkan anggaran khusus sebelum berangkat. Ada kepuasan tersendiri ketika melihat orang-orang di rumah senang menerima buah tangan dari perjalanan mereka.
Menariknya, kebiasaan membeli oleh-oleh sebelum pulang ke rumah ternyata memiliki penjelasan dari sisi psikologi. Menurut The Travel Psychologist, penelitian menunjukkan bahwa suvenir kerap dibeli sebagai bentuk hadiah untuk orang lain. Melalui buah tangan tersebut, seseorang ingin menunjukkan bahwa mereka tetap mengingat orang-orang terdekat meskipun sedang berada jauh dari rumah. Kebiasaan ini juga menjadi salah satu cara untuk menjaga hubungan sosial setelah perjalanan berakhir. Melansir dari berbagai sumber, Jumat (6/11/2026), simak ulasan informasinya berikut ini.
Advertisement
Apa Itu Oleh-Oleh dan Mengapa Begitu Melekat di Indonesia
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9391137/original/005951500_1793873374-HL_Oleh_oleh.jpg)
Sebelum membahas ciri-cirinya, ada baiknya memahami dulu arti oleh-oleh itu sendiri. Kata suvenir berasal dari bahasa Prancis yang bermakna "untuk dikenang", yaitu barang yang dibeli karena menyimpan kenangan tertentu. Dalam kebiasaan banyak pelancong, suvenir umumnya dibeli untuk diri sendiri sebagai pengingat pengalaman di masa lalu. Di Indonesia, oleh-oleh punya makna yang lebih luas karena dibeli untuk dibagikan kepada keluarga, kerabat, tetangga, hingga rekan kerja yang tahu kita sedang bepergian.
Bagi banyak orang, membawa buah tangan bukan lagi sekadar formalitas. Ada rasa tidak enak hati kalau pulang dengan tangan kosong, apalagi setelah mendapat izin cuti dari kantor. Gantungan kunci dan magnet kulkas kerap dipilih karena murah dan mudah dibeli dalam jumlah banyak. Sementara itu, camilan khas daerah jadi pilihan favorit karena praktis dibagi-bagi di meja kantor maupun ruang keluarga.
Budaya serupa ternyata juga hidup di negara lain, salah satunya Jepang. Dilansir dari GLOBIS Insights, omiyage adalah praktik membawa pulang hadiah khas daerah dari sebuah perjalanan untuk dibagikan kepada rekan kerja, teman, dan keluarga.
Berbeda dengan suvenir biasa yang dibeli untuk dinikmati sendiri, omiyage memang sengaja dibeli untuk orang lain, agar mereka yang di rumah bisa ikut merasakan perjalanan yang tidak mereka jalani. Akar tradisi ini pun cukup menyentuh. Omiyage berawal dari ziarah keagamaan berabad-abad lalu, ketika satu desa patungan membiayai perjalanan seorang pelancong, lalu sepulangnya ia membagikan jimat dan barang khas daerah kepada warga. Dari sini terlihat bahwa oleh-oleh, baik di Jepang maupun di Indonesia, sebenarnya adalah bahasa kasih sayang dan rasa terima kasih. Tak heran kebiasaan ini sulit hilang meski zaman terus berubah.
Advertisement
Ciri Orang yang Suka Beli Oleh-Oleh Sebelum Pulang ke Rumah
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9391050/original/054339300_1793870286-vitaly-gariev-q5d3J5e3CNE-unsplash.jpg)
Orang yang hobi membawa buah tangan biasanya punya pola kebiasaan yang mirip. Kalau beberapa poin di bawah ini terasa relate, bisa jadi kamu termasuk salah satunya. Ternyata kebiasaan berbagi ini juga berpengaruh pada suasana hati si pemberi. Mengacu pada riset yang diulas Irrational Labs, peneliti Elizabeth Dunn, Lara Aknin, dan Michael Norton memberi peserta uang sebesar 5 atau 20 dolar, lalu meminta sebagian membelanjakannya untuk diri sendiri dan sebagian lagi untuk orang lain. Hasilnya, mereka yang membelanjakan uang untuk orang lain merasa lebih bahagia sepanjang hari, berapa pun jumlah uang yang diterima.
1. Selalu Teringat Orang-Orang di Rumah
Saat melihat camilan unik atau kain cantik, yang terlintas pertama kali di kepalanya adalah wajah ibu, adik, atau sahabat. Mereka menikmati liburan sambil diam-diam mencatat barang yang cocok untuk tiap orang. Perhatian kecil seperti ini menunjukkan bahwa hubungan dengan orang terdekat selalu jadi prioritas.
2. Punya Daftar Nama Penerima
Orang yang rajin membeli oleh-oleh biasanya tidak asal borong. Mereka menyusun daftar nama lebih dulu, mulai dari keluarga inti, teman dekat, sampai rekan satu tim di kantor. Cara ini membuat belanja lebih terarah dan tidak ada orang penting yang terlewat.
3. Menyisihkan Anggaran Khusus
Mereka sudah menyiapkan dana khusus sejak merencanakan liburan. Dengan begitu, belanja buah tangan tidak mengganggu biaya makan, transportasi, atau penginapan. Prinsip yang dipegang biasanya sederhana, yaitu murah tapi tidak murahan.
4. Merasa Bahagia Saat Memberi
Kepuasan terbesar mereka justru datang ketika oleh-oleh dibuka dan dinikmati bersama. Melihat keluarga tertawa sambil mencicipi camilan khas daerah terasa lebih berharga daripada barang belanjaan untuk diri sendiri. Momen sederhana ini sering jadi alasan mereka tak pernah absen membawa buah tangan.
5. Jeli Memilih Produk Khas Daerah
Mereka paham bahwa oleh-oleh terbaik adalah barang yang hanya ada di tempat tersebut. Karena itu, mereka lebih memilih kopi lokal, kain tenun, atau camilan tradisional ketimbang barang yang bisa dibeli di mana saja. Pilihan ini sekaligus ikut mendukung pelaku UMKM setempat.
6. Teliti Soal Kemasan dan Tanggal Kedaluwarsa
Orang yang terbiasa membawa oleh-oleh tahu betul bahwa perjalanan pulang bisa memakan waktu lama. Mereka memeriksa tanggal kedaluwarsa, memilih makanan kering, dan memperhitungkan berat serta ukuran kemasan. Tujuannya agar buah tangan tiba dalam kondisi baik dan tidak melebihi batas bagasi.
7. Merasa Kurang Lengkap Kalau Pulang dengan Tangan Kosong
Bagi mereka, membawa oleh-oleh sudah seperti bagian dari ritual pulang. Ada perasaan kurang lengkap kalau tidak membawa apa-apa, meski tidak ada yang menagih. Kebiasaan ini biasanya tumbuh dari lingkungan keluarga yang sejak dulu senang berbagi.
8. Senang Bercerita Lewat Barang Bawaan
Oleh-oleh sering jadi pembuka obrolan tentang perjalanan mereka. Sambil menyerahkan sekotak camilan, mereka akan bercerita tentang tempat membelinya dan suasana di sana. Buah tangan pun berubah menjadi cara untuk membagikan pengalaman, bukan sekadar barang.
Alasan Psikologis di Balik Kebiasaan Membawa Buah Tangan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9375750/original/060361400_1792217829-Gemini_Generated_Image_ncnra5ncnra5ncnr.jpg)
Kebiasaan membeli oleh-oleh sebelum pulang ternyata tidak muncul begitu saja. Di balik kotak bakpia atau sebungkus kopi, ada kebutuhan manusia untuk merasa terhubung dengan orang lain. Hadiah kecil menjadi simbol bahwa si pemberi tetap memikirkan orang di rumah meski sedang berada jauh. Inilah salah satu ciri orang yang suka beli oleh-oleh sebelum pulang ke rumah, yaitu kepekaan menjaga kedekatan.
Tren berbagi buah tangan juga kerap terlihat di kalangan selebritas. Aktris Korea Selatan Kim Hye Yoon, misalnya, sempat memamerkan oleh-oleh dari Bali lewat media sosial. Ia membagikan foto hadiah yang didapat selama berada di Bali, bahkan memamerkan gaya rambut baru yang ia sebut sebagai oleh-oleh dari Bali. Momen manis ini jadi inspirasi bagi banyak penggemar bahwa buah tangan bisa hadir dalam bentuk apa saja, selama dibagikan dengan hati yang senang.
Advertisement
Ragam Oleh-Oleh Favorit yang Biasa Diburu
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8255998/original/006658100_1781142835-cropped-fb12852d-561b-47a7-86ae-5e7b9538e72e.jpg)
Setiap daerah punya buah tangan andalan yang selalu diburu wisatawan. Pilihannya pun makin beragam, dari camilan tradisional sampai produk perawatan kulit lokal. Pilihan barang ternyata ikut menentukan seberapa lama kenangan perjalanan bertahan. Merujuk ulasan Psychology Today, lewat tiga studi, peneliti menemukan bahwa suvenir yang sangat terkait dengan ciri khas suatu destinasi, mulai dari tempat, masyarakat, hingga sejarahnya, membantu membawa unsur pengalaman perjalanan ke dalam kehidupan sehari-hari.
- Camilan khas daerah. Pie susu, bakpia, dodol, atau keripik jadi pilihan aman karena awet dan mudah dibagi ke banyak orang.
- Kopi lokal. Kopi dari berbagai daerah di Indonesia punya karakter rasa unik dan cocok untuk teman atau keluarga pencinta kopi.
- Kain dan pakaian khas. Tenun, batik, sarung, hingga kaos bertuliskan nama daerah bisa jadi buah tangan yang fungsional.
- Kerajinan tangan. Ukiran kayu, tas rotan, atau topeng hias cocok untuk dekorasi rumah sekaligus pengingat perjalanan.
- Gantungan kunci dan magnet kulkas. Ukurannya kecil dan harganya terjangkau, jadi praktis dibeli dalam jumlah banyak.
- Aksesori. Gelang, perhiasan perak, atau anting buatan perajin lokal disukai karena bisa langsung dipakai untuk melengkapi gaya.
- Produk perawatan lokal. Lulur, sabun, atau minyak aromaterapi khas daerah kini makin populer, terutama di kalangan perempuan yang gemar self-care.
- Hasil kebun dari kampung. Buah musiman, rempah, atau beras sering menjadi buah tangan paling hangat karena membawa rasa kampung halaman.
Pilihan yang praktis juga bisa ditemukan di banyak kota wisata. Beragam buah tangan untuk keluarga maupun rekan kerja kini dikemas lebih menarik dan tahan lama, sehingga aman dibawa dalam perjalanan jauh.
Tips Belanja Oleh-Oleh agar Tetap Hemat dan Bermakna
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5013638/original/093567700_1732075489-Depositphotos_750015376_L.jpg)
Membawa buah tangan memang menyenangkan, tapi tetap perlu strategi supaya dompet aman dan barangnya benar-benar berguna. Beberapa kebiasaan berikut bisa membantu. Pilihan hadiah juga sebaiknya tidak sekadar menumpuk barang.
- Tetapkan anggaran sejak awal. Pisahkan dana oleh-oleh dari biaya liburan agar tidak tergoda belanja berlebihan.
- Buat daftar penerima. Prioritaskan keluarga dan teman terdekat, lalu pilih camilan secukupnya untuk rekan satu tim.
- Utamakan barang fungsional. Hadiah yang bisa dipakai atau dinikmati jauh lebih berkesan daripada barang yang akhirnya hanya memenuhi laci.
- Cek tanggal kedaluwarsa. Untuk perjalanan jauh, pilih makanan kering dan hindari olahan basah yang cepat basi.
- Perhatikan berat dan ukuran. Bayangkan kapasitas bagasi agar tidak perlu membayar biaya tambahan.
- Pilih produk khas setempat. Selain lebih unik, belanja di perajin atau UMKM lokal ikut menggerakkan ekonomi daerah.
- Sertakan cerita. Ceritakan asal-usul oleh-oleh saat memberikannya, supaya penerima ikut merasakan suasana perjalananmu.
Advertisement
Menyikapi Budaya Titip Oleh-Oleh dengan Bijak
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9368598/original/092424100_1791441911-a5e98c84-68f6-47ae-8a9d-f8bd9aa3a39e.jpg)
Di balik kesan hangatnya, budaya oleh-oleh kadang menghadirkan tekanan tersendiri. Ada orang yang membeli buah tangan karena tulus ingin berbagi, ada pula yang melakukannya karena merasa sungkan. Permintaan "jangan lupa oleh-olehnya ya" sering terdengar sebagai basa-basi, tetapi bisa terasa berat bagi orang yang bagasi dan anggarannya terbatas. Karena itu, penting untuk menemukan titik seimbang agar kebiasaan baik ini tetap menyenangkan.
Salah satu caranya adalah tidak perlu memaksakan diri membelikan oleh-oleh untuk semua orang. Camilan yang bisa dibagi bersama di kantor sudah cukup mewakili niat baik. Untuk orang-orang terdekat, hadiah yang lebih personal dan sesuai kesukaan mereka justru terasa lebih istimewa. Hadiah seperti ini menunjukkan bahwa kamu benar-benar mengenal penerimanya.
Bagi penerima, menghargai pemberian sekecil apa pun juga bagian dari menjaga tradisi ini tetap manis. Sementara bagi pemberi, kuncinya adalah membawa buah tangan dengan hati ringan, bukan karena terpaksa. Pada akhirnya, ciri orang yang suka beli oleh-oleh sebelum pulang ke rumah bukan diukur dari banyaknya barang bawaan. Yang membuatnya istimewa adalah niat tulus untuk berbagi kebahagiaan dari setiap perjalanan.
Baca informasi kesehatan terbaru di Kesehatan Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9391542/original/015530900_1793938826-cek_fakta_transfer.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5499207/original/032366000_1770779753-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-02-11T101208.314.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9389747/original/012986700_1793772599-Screenshot_2026-11-04_130915.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9317894/original/043579200_1786076765-Screenshot_2026-08-07_110222.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9380233/original/018322100_1792661499-01M5GVAKRAM483MN536Y6JCC5J.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4653599/original/043466900_1700279714-WhatsApp_Image_2023-11-18_at_10.51.59.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355055/original/082772300_1790070742-roman-budnikov-LrmVfNfhFOw-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9387840/original/049454400_1793576292-S__73179165.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5437037/original/069686000_1765195130-WhatsApp_Image_2025-12-08_at_16.01.33.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3559193/original/024993600_1630573027-vlcsnap-2021-09-02-11h09m01s068__2_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9385978/original/063727200_1793288759-IMG-20261029-WA0009.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9385027/original/054806600_1793210212-WhatsApp_Image_2026-10-27_at_8.55.27_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9384251/original/014376200_1793163977-WhatsApp_Image_2026-10-26_at_16.11.48.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5193655/original/000476600_1745236051-ChatGPT_Image_Apr_21__2025__06_46_46_PM.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9382249/original/070234100_1792985471-WhatsApp_Image_2026-10-25_at_09.42.1222.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4058765/original/090496100_1655735658-Vaksinasi_Flu.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381694/original/075241200_1792850777-IMG-20261023-WA0078.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5232994/original/036615700_1748258353-steptodown.com164240.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9390463/original/053956000_1793841338-d47208ca-c197-4cec-9701-d7b3eb7e2c6f.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4935707/original/087963800_1725369647-Screenshot_2024-09-03_200828.jpg)